Ilustrasi perempuan. (Photo by Jessica Ticozzelli from Pexels)

Kita mungkin sudah terbiasa dengan iklan-iklan yang menggambarkan perempuan serba bisa, dari mengurus anak hingga kerja kantoran – lengkap dengan senyuman yang indah mengembang dan rambut terurai panjang.

Tapi, jangan salah, realita perempuan belum tentu seindah iklan sabun atau susu. Mereka tidak auto hebat dan bahagia dengan menjadi perempuan yang serba bisa dan mampu membeli produk-produk tertentu. Sebab upah yang dia hasilkan tak cukup untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk anak ataupun keluarganya.

Tak sedikit yang merasa bersalah karena membeli barang untuk dirinya sendiri, atau merasa payah karena tidak bisa membeli barang yang ia butuhkan. Sementara, agensi iklan menganggap bahwa perempuan memiliki buying power yang lebih besar karena mengurus anak.

Serba salah, memang.

Tapi sadar atau tidak, citra perempuan serba bisa yang tampak hebat dan bahagia itu semakin mengukuhkan beban ganda dalam konstruksi gender perempuan di masyarakat kita. Jadi malah membuat perempuan merasa kian terbebani.

Pada masa Orde Baru, ketika pembangunan digalakkan dan butuh tenaga kerja untuk menjalankan pabrik, perempuan mengisi angkatan kerja dengan catatan “boleh kerja, asalkan tetap mengurus rumah tangga”. Selain itu, tugas perempuan sebagai istri yang mengurus rumah tangga tercantum dalam UU Perkawinan, sehingga makin menguatkan rezim gender yang kerap memposisikan perempuan sebagai warga negara kelas dua.

Baca juga: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

Konstruksi sosial terhadap gender itu lahir dari politik dan budaya patriarki. Dan, rezim gender Orde Baru saat itu menunjukkan bagaimana sistem politik melanggengkannya. Rezim memang tumbang, tapi apakah konstruksi sosial itu runtuh? Hmmm…

Anggapan bahwa perempuan adalah pencari nafkah tambahan yang kala itu diejawantahkan dalam Panca Dharma Wanita menyebabkan perempuan tidak mendapatkan upah yang setara dengan lelaki, walaupun pekerjaannya sama. Jika bekerja di pabrik, perempuan yang sudah menikah pun kerap dianggap lajang, sehingga harus membayar pajak penghasilan yang lebih besar dari lelaki yang telah menikah.

Perempuan juga tidak mendapat tunjangan suami atau bahkan anak, berbeda dengan pekerja lelaki yang mendapatkan tunjangan suami dan anak. Lantas, bagaimana nasib perempuan yang menjadi ibu tunggal? Otomatis, ia akan semakin termiskinkan.

Selain itu, pekerjaan yang lebih banyak dilakukan oleh perempuan seperti pekerja rumah tangga, pengasuh anak, hingga pengurus lansia juga mendapatkan upah yang lebih sedikit, bahkan jauh dari kata layak. Tak jarang, mereka pun mengalami kekerasan.

Baca juga: Kantor yang Maskulin Menambah Beban Pekerja Perempuan selama Pandemi

Sayangnya, hingga hari ini, pembahasan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) mandek. Apakah karena bakal mengusik para anggota DPR yang mempekerjakan PRT lebih dari satu orang? Merasa dirugikan jika harus mengupah PRT dengan layak? Jika memang begitu, justru mereka yang sebetulnya tidak layak menjadi wakil rakyat.

Jadi, beban ganda perempuan bukanlah sesuatu yang harus dinormalkan dan diglorifikasi. Beban ganda seharusnya menjadi tamparan keras bagi setiap lelaki (dalam konteks hubungan heteroseksual) agar sadar bahwa peran mereka dalam urusan rumah tangga, minim. Apa nggak malu ya, kok kecil banget perannya dalam mengurus anak? Merasa bangga gitu bisa menyematkan nama belakang pada nama anak? Lagi pula, bikinnya kan sama-sama.

Citra perempuan serba bisa ini bahkan tidak mengizinkan perempuan untuk melakukan kesalahan sedikit pun. Bahkan, perempuan makin merasa terpojokkan tatkala ia tak bisa melakukan kedua perannya, yaitu sebagai pekerja dan ibu. Ia sering kali disalahkan karena tak bisa hadir untuk mengurus anak. Begitu juga ketika ia dianggap tidak menjalankan pekerjaannya dengan baik di luar rumah.

Dilema seperti itu tidak dialami laki-laki.

Baca juga: Beban Pendampingan Belajar Anak selama Pandemi Lebih Banyak ke Ibu ketimbang Ayah

Glorifikasi beban ganda pada perempuan serba bisa hanya untuk mengelabui perempuan dari realita yang ada. Tak jarang, perempuan dituntut untuk memilih di antara keduanya. Kalaupun akhirnya memilih salah satu, tetap saja sering disalahkan.

Dunia kerja yang maskulin juga tidak memberikan rasa aman bagi perempuan. Padahal, dunia kerja yang mengintegrasikan keluarga dan pekerjaan dapat membantu perempuan maupun lelaki untuk bekerja dengan lebih baik. Karena itu, kerja yang layak harus memperhatikan kebutuhan keluarga.

Beban ganda tak seharusnya dirayakan sebagai pencapaian, melainkan sebuah gejala sosial dari sistem yang menindas perempuan. Kerja merawat anak semestinya juga menjadi tanggung jawab lelaki bahkan negara, bukan cuma dibebankan kepada perempuan.

Pandemi juga memperkuat beban ganda ini. Perempuan menjadi semakin terbebani ketika harus bekerja dari rumah sekaligus mendampingi anak yang belajar di rumah. Yang tadinya kerja merawat anak dilakukan oleh guru-guru di sekolah, kini perempuan harus kerja dua kali lebih berat.

Artikel populer: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Beban ganda ini bisa bikin stres dan tekanan mental. Tentunya akan berdampak pada keselamatan kerjanya. Beban ganda ini memang tak sepantasnya diglorifikasi atau dirayakan.

Begitu juga dengan laki-laki yang masak dan bersih-bersih rumah, itu hal biasa yang memang semestinya dia kerjakan sebagai manusia dewasa. Tak perlu diglorifikasi sebagai pencapaian yang hebat dan dikagumi secara berlebihan juga. Sebab masak dan mengurus diri sendiri adalah kemampuan bertahan hidup seorang manusia, bukan pekerjaan yang dilimpahkan kepada orang lain.

Glorifikasi beban ganda perempuan adalah kekerasan yang menghilangkan hak untuk hidup layak dan bahagia. Ini jelas bukan sebuah pencapaian, melainkan bentuk dari ketidakadilan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini