Jangan Ada Lagi Komodifikasi Kesedihan tentang Seventeen

Jangan Ada Lagi Komodifikasi Kesedihan tentang Seventeen

Ifan Seventeen (Youtube/Mahakarya Channel)

Kawan Seventeen berderai air mata. Dari peristiwa tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018, hampir seluruh personel grup musik Seventeen dinyatakan tidak selamat. Panggung tempat mereka beraksi digulung ombak. Dari empat personel, hanya vokalisnya, Ifan, yang selamat.

Herman (gitaris), Bani (basis), dan Andi (drummer) ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Belum selesai suasana duka, istri Ifan bernama Dylan Sahara juga tidak selamat dari peristiwa tersebut. Saya pribadi turut berduka.

Tulisan ini tidak akan membahas perdebatan tentang takdir yang menimpa grup musik Seventeen. Pun, tidak turut larut dengan orang-orang yang menyudutkan musik sebagai pesakitan atas terjadinya bencana. Berdebat soal halal atau haramnya musik yang kemudian dicocoklogikan dengan azab.

Ini murni sebagai bentuk empati atas rasa kehilangan seorang pasangan, sahabat, dan keluarga. Saya sendiri sebetulnya bukan bagian dari kelompok penggemar Seventeen.

Baca juga: Pedoman Menjadi Orang yang Tidak Menyebalkan saat Bencana

Namun, beberapa lagu mereka cukup membekas. Salah satunya adalah lagu “Selalu Mengalah” yang cocok dinyanyikan ketika suasana hati tidak karuan, tapi tak punya ruang untuk berekspresi. Intonasinya pas untuk menyeimbangkan emosi yang seringkali timpang.

Begitulah adanya. Lagu-lagu karya Seventeen memang lebih banyak mengangkat tema romansa. Bagi sebagian orang, tema ini mungkin dianggap picisan. Liriknya pun lugas, sama sekali tidak metaforis seperti Letto atau Padi. Kontennya juga tidak menyuarakan misi keadilan seperti SID.

Grup musik ini juga tidak dilabeli atau digadang-gadang sebagai grup musik yang legend layaknya SO7 atau Slank. Secara visual, video klipnya bisa dikatakan biasa saja, tidak buruk tapi tidak teramat bagus. Mereka pun tidak benar-benar produktif menghasilkan karya secara periodikal.

Namun, harus diakui bahwa 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah grup musik untuk mempertahankan eksistensinya. Mereka bukan musisi yang sarat dengan berita sensasional demi mendongkrak popularitas. Urusan pribadi mereka juga jarang diumbar dan terekspos media arus utama.

Baca juga: Kenapa Menyelamatkan Nyawa 13 Orang Lebih Menarik daripada 200 Orang?

Karena itu, sebagai penikmat beberapa karyanya, saya dan mungkin Anda perlu untuk mengapresiasi Seventeen sebagaimana mestinya. Tanpa perlu menggunakan cara yang sensasional. Juga tidak dengan cara yang pragmatis penuh muslihat.

Mengapresiasi grup musik Seventeen dengan cara memposisikan mereka sebagai manusia yang sedang berduka, dan harus segera dikuatkan untuk kembali bangkit melanjutkan hidup ke depannya.

Musibah yang menimpa mereka memang membuat hati ngilu. Tetapi, ketika kesedihan ini direproduksi secara kontinyu, tentu tidak bisa diterima. Bagaimana itu dikemas, dimodifikasi, kemudian dijadikan produk media yang menjual emosi dan kesedihan semata.

Terlebih, beberapa pihak berusaha menguak privasi korban ataupun keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, seolah tak cukup sampai di situ, dibumbui pula dengan kata-kata seksis.

Baca juga: Hanya Satu yang Kita Punya, yaitu Empati. Kalau Tidak Punya, Apa Harga Hidup Ini?

Sebab itu, tolong, para pemilik media atau tim kreatif acara talkshow maupun berita, silakan wawancara atau mengundang Ifan Seventeen sebagai saksi mata kejadian. Jadikan ia sebagai saksi ahli yang selamat dari peristiwa tsunami. Tanyai saja ia tentang bagaimana bisa menyelamatkan diri ketika ombak menerjang panggungnya.

Atau, tentang tidak terasanya guncangan atau suara air yang menderu ketika berlangsung peristiwa tsunami. Pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya bisa membuat publik lebih teredukasi dan waspada ketika terjadi bencana.

Jadi, sekali lagi, tolong… Jangan terlalu mengulas dan menggali tentang firasat, tentang rasa kehilangan, tentang rasa duka, dan hal-hal personal lainnya. Jangan terlalu naif dengan pura-pura tidak pernah tahu rasanya mengalami musibah.

Ketahuilah, menjadi survivor peristiwa tragis itu tidak mudah. Semoga Ifan dan para istri mendiang personel Seventeen cepat sembuh dari rasa duka. Tugas kita sebagai khalayak untuk berempati, bukan menginterogasi.

Artikel populer: Menemukan Pesan Penting Lainnya dari Seorang Sartre yang Ternyata Relevan dengan Kita

Lagipula, tidak berharap juga narasi kejadian ini kelak diangkat menjadi novel atau film yang sebagian besar isinya sarat akan kesedihan dan haru biru. Apa yang sebenarnya diharapkan ketika membaca atau menonton kisah nyata yang penuh umpan air mata? Merasa lebih bersyukur? Atau, justru jadi semakin drama dan sulit move on?

Kita harus lebih bijaksana untuk tidak mudah larut menikmati konten yang gemar menyuguhkan emosi tanpa esensi. Sebab, yang paling diuntungkan bukanlah para istri mendiang personel yang kini harus menjadi single parent. Bukan pula Ifan yang tentu membutuhkan waktu untuk bisa kembali bangkit bermusik. Tetapi para pemilik modal pengendali industri.

Tidak ada satu pun manusia yang bisa sepenuhnya siap atas musibah. Tetapi, tiada kejadian yang tak bisa dipetik sebagai pelajaran. Paling tidak, kita jadi sadar bahwa istri seniman atau musisi yang ditinggal mati ketika bertugas tidak dapat tunjangan dari negara.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.