Daripada Terus-terusan Mencibir Janda, Ini yang Bisa Kita Perbuat!

Daripada Terus-terusan Mencibir Janda, Ini yang Bisa Kita Perbuat!

Ilustrasi (Photo by Himanshu Singh Gurjar on Unsplash)

Sebuah pesan dari WA Group (WAG) masuk. Isinya adalah posting-an data jumlah janda di beberapa wilayah di Indonesia. Ujungnya seperti biasa, pesan untuk datang ke sana bagi yang mencari istri atau berniat poligami. Ya seperti itulah kira-kira. Sumbernya mana? Ya jelas grup sebelah. 🙂

Karena penasaran, saya mencoba browsing tentang perceraian di Indonesia. Dari situs BPS, saya memperoleh data bahwa per tahun kurang lebih 2 juta perkawinan dan 340-an ribu talak dan cerai.

Data terakhir yang saya peroleh adalah tahun 2015. Ada 1,95 juta perkawinan. Provinsi dengan jumlah perkawinan terbanyak pada 2015, antara lain Jabar dengan 441 ribu perkawinan, Jateng 327 ribu, Jatim 313 ribu, Banten 91 ribu, Sumut 86 ribu, Lampung 67 ribu, Sulsel 66 ribu, dan DKI Jakarta sekitar 50-an ribu.

Lantas, di mana daerah dengan tingkat talak dan perceraian tertinggi? Bukan Jabar atau Jateng, justru Jatim. Jatim peringkat pertama dalam hal talak dan cerai dengan jumlah mencapai 87 ribu. Rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir di Jatim terjadi pada 2012 yaitu 91 ribu.

Persentase talak dan cerai terhadap pernikahan di Jatim mencapai 27-28%. Angka ini sangat tinggi dibanding rata-rata nasional yang berkisar 17-18%.

Jika dicari lagi, sepertinya tak sulit mencari tahu jumlah talak dan perceraian untuk setiap pemerintahan daerah tingkat II (kota/kabupaten). Bisa jadi broadcast WAG dari grup sebelah itu benar adanya terkait jumlah janda.

Apa yang paling berat dari menjanda? Pertama, stigma. Pemberitaan media, pergaulan, pembicaraan, kerap mencap janda sebagai hal yang buruk. Tak sulit mencari berita janda muda cari suami, janda tertangkap menggunakan narkoba, janda merebut suami orang, dan segepok predikat buruk lainnya.

Kedua, janda cerai dengan anak sering ditinggal suaminya begitu saja. Tidak dinafkahi anaknya, tidak mau sharing waktu dan biaya untuk mengasuh anak dan sebagainya.

Ketiga, tidak memiliki pendapatan. Sering terjadi memilih tersiksa lahir dan batin akibat ulah suami, karena kepikiran kalau cerai tidak punya pendapatan dan bingung harus hidup dari mana. Sudah banyak contoh perceraian dan kemudian kesulitan mencari nafkah untuk membesarkan anak. Kira-kira itu yang saya tabulasi. Rasanya masih banyak lagi alasannya.

***

Ketika angka statistik jumlah janda beredar, apa sih yang kemudian terjadi kalau tidak jadi joke? Sementara media-media penghamba click bait memuatnya dengan judul yang vulgar. Koran-koran juga kerap memuatnya di halaman pertama dengan judul yang hanya menambah beban hidup janda.

Netizen yang tak pernah salah juga dengan ringan melakukan skill terbaik mereka, copas! Copas link, posting. Ada juga yang memfoto berita di koran, lalu mengunggahnya. Sungguh ringan jempol kalau sudah urusan menghina janda.

Berita jumlah janda pun viral. Lalu adakah perubahan? Adakah politisi atau negara yang hadir membantu mereka? Adakah upaya legislasi untuk menolong mereka dan mungkin juga mendukung masa depan generasi yang lahir dari mereka?

Misalnya, sesederhana women crisis center? Sesederhana daycare murah/bersubsidi bagi single parent? Atau, call center bagi janda untuk sekadar curhat atau meminta saran?

Banyak janda yang menerima begitu saja nasibnya. Ditinggal suami dan diserahi anak. Suami pergi entah ke mana. Kadang menikah lagi, ada pula yang bagai raib ditelan bumi.

Lantas, ke mana mereka harus bertanya bagaimana meminta pertanggungjawaban suami? Apakah sang suami tak menghadapi risiko hukum apapun karena tidak mau sharing waktu berikut biaya untuk anaknya? Women crisis center dan call center khusus untuk permasalahan perempuan tentu sangat mungkin membantu.

Untuk janda yang ingin bekerja, namun ada anak, tentu kesulitan. Mau sewa babysitter mahal. Titip ke orangtua, bisa, tapi tentu merepotkan. Adanya daycare bersubsidi atau gratis di sekitar pabrik, pasar, pertokoan, dan banyak tempat dengan potensi single parent mencari nafkah (formal atau informal) tentu sangat membantu mereka untuk mandiri.

Tapi saya tidak melihat ada perjuangan ke sana. Saya hanya melihat janda dijadikan bahan kelakar. Semoga suatu hari masyarakat bisa menekan politisi agar hal-hal seperti ini dipikirkan lebih rinci. Demi generasi Indonesia yang lebih baik pada masa yang akan datang. Demi perempuan Indonesia yang lebih berdaya, mandiri, dan berani mengambil sikap.

Kita harus menekan pemerintah dan parpol untuk peduli dan memperjuangkan women crisis center dan daycare gratis atau bersubsidi untuk single parent. Ajak NGO yang concern hal ini untuk duduk bersama sesering mungkin.

Ini adalah isu strategis yang sering tenggelam dalam pembahasan kebijakan dan program yang dibiayai APBN/APBD.

Jadi, apakah anda masih menganggap bahwa janda itu buruk, yang pantas untuk dirisak dan dijadikan bahan candaan? Bercanda juga nggak sampe segitunya, keleus…

2 COMMENTS

  1. Cakep:

    “daycare bersubsidi atau gratis di sekitar pabrik, pasar, pertokoan, dan banyak tempat dengan potensi single parent mencari nafkah (formal atau informal) tentu sangat membantu mereka untuk mandiri”

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.