Drama It's Okay to Not Be Okay (Netflix)

Drama Korea berjudul It’s Okay to Not Be Okay atau dalam judul lain Psycho But It’s Okay sudah tamat. Drama yang digadang-gadang menjadi salah satu drakor terbaik ini memang bukan kaleng-kaleng.

Selain menggandeng aktor dan aktris termahal di Korea Selatan, naskah It’s Okay to Not Be Okay tampak disiapkan sangat matang. Serial televisi ini mampu memberikan gambaran tentang persoalan mental tanpa menimbulkan trigger bagi penyintas.

Drama It’s Okay to Not Be Okay menyoroti kesehatan mental yang sering dipandang sebelah mata. Bahwa setiap orang memiliki masalah dalam hidup dan masalah itu tak pernah datang dari ruang hampa.

Setiap perilaku dan tindakan saat ini pastilah dipengaruhi oleh segala hal yang terjadi pada masa lalu. Dalam drakor ini digambarkan bagaimana cinta tak berbalas Nam Ju-ri kepada Moon Gang-tae hingga perlakuan ibu Gang-tae dan ibu Moon-young kepada anak-anaknya. Itu semua mempengaruhi pertumbuhan seseorang secara utuh.

Baca juga: Bagaimana Bisa Selamat dari Masalah Mental yang Hampir Membunuhku

Tanpa men-trigger atau membangkitkan amarah penonton, jalan ceritanya dikelola penuh rasa empati dan refleksi. Mengenalkan berbagai bentuk persoalan mental sambil mengajak penonton untuk melakukan self healing. Itu penting.

Misalnya, ada salah satu episode yang memunculkan adegan percobaan bunuh diri berbalut komedi. Bisa jadi, ketika menonton adegan itu, orang tidak ke-trigger sama sekali. Orangtua toksik, teman toksik, saudara toksik, hingga bos toksik juga timbul tenggelam dalam drama ini.

Jika boleh memilih satu yang paling berkesan di antara deretan kelebihan drama besutan Park Shin-woo ini, maka pilihannya adalah perihal dekonstruksi keluarga.

Bagi sebagian orang, membahas keluarga akan sangat menyenangkan dan penuh haru. Tapi, bagi sebagian yang lain, malah bisa bikin mual dan trauma. Sebab, tak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah fondasi dari bangunan kesehatan mental setiap orang.

Ketika drama atau film lain masih malu-malu membahas keluarga toksik dan tetap melanggengkan status quo bahwa keluarga pasti menjadi sumber kasih sayang, drama It’s Okay to Not Be Okay malah mengkritik habis-habisan.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Drama ini mengkritik struktur keluarga yang mayoritas masih menerapkan tradisi primogenitur atau tradisi dimana anak sulung – khususnya anak lelaki – berhak mewarisi seluruh tanah, dengan mengesampingkan adik-adiknya. Secara historis, istilah primogenitur memang merujuk pada laki-laki dan meminggirkan anak perempuan.

Tradisi itu sangat erat dengan sistem monarki-feodalisme, dimana anak sulung lelaki berhak atas seluruh harta, sedangkan adik-adiknya baru berhak menjadi pewaris jika kakak sulung mereka tak punya anak. Pun, tentang warisan yang berpotensi diberikan kepada kerabat yang kolateral, dengan maksud mengutamakan lelaki yang lebih tua dalam garis kolateral tersebut.

Persoalan itu tervisualisasikan dalam persaudaraan antara Gang-tae dan kakaknya yang autis, Sang-tae. Gang-tae hidup dan tumbuh dengan terbiasa menahan segala keinginannya demi sang kakak sulung lelaki. Gang-tae pun tumbuh menjadi submisif yang terus menerus menekan emosinya. Bukannya bahagia, yang ada malah menimbulkan persoalan mental.

Ko Moon-young, tokoh utama dalam drama tersebut, secara tegas mengungkapkan bahwa struktur keluarga dengan tradisi primogenitur adalah sumber penderitaan bagi Gang-tae.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Sepanjang drama ini, kisah Gang-tae tergambar dengan sangat pahit. Di balik kemampuannya berempati dan terampil mengurus orang lain, Gang-tae juga menunjukkan bahwa sesungguhnya dia ingin lari dari beban-bebannya sebagai adik.

Drama It’s Okay to Not Be Okay juga mendobrak struktur keluarga dan stereotip bahwa pelaku kekerasan pasti ayah/laki-laki semata. Keluarga Moon-young adalah contoh bahwa ibu/perempuan pun bisa dominan dan menjadi pelaku kekerasan dalam keluarga. Bahwa ibu tak selalu berdiri di atas surga.

Kritik terhadap keluarga menjadi spesial, karena hal itu sangat relevan. Ketertarikan pada struktur keluarga dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental anak dimulai sejak 1960-1970, ketika terjadi lonjakan kasus perceraian dan tingginya angka depresi pada anak yang tinggal dengan orangtua tunggal.

Namun, seiring perkembangan ilmu psikologi, ditemukan fakta bahwa tak hanya keluarga dengan orangtua tunggal yang bisa menyebabkan masalah kesehatan mental anak, keluarga yang utuh juga bisa.

Dalam jurnal berjudul Effects of Family Structure on Mental Health of Children: A Preliminary Study, yang diterbitkan Indian Journal of Psychological Medicine, menyebutkan bahwa riwayat psikopati pada orangtua ternyata juga mempengaruhi peningkatan potensi depresi pada anak-anak. Selain itu, gangguan perkawinan orangtua turut menyebabkan risiko psikopati pada anak.

Artikel populer: Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Mungkin, itulah salah satu alasan mengapa drama It’s Okay to Not Be Okay ditonton banyak orang, terutama di Korsel yang masih kental tradisi primogenitur dan patriarkal. IOTNBO sekaligus mematahkan anggapan tentang harta yang paling berharga hanyalah keluarga.

Lebih dari itu, IOTNBO berusaha memberitahu kita bahwa tidak apa-apa menjadi penyintas masalah kesehatan mental. Dan, bukan salahmu seutuhnya untuk menjadi tidak baik-baik saja.

IOTNBO juga berusaha menyampaikan kepada para orangtua untuk berhati-hati terhadap pertumbuhan anak. Segera beri tahu anak-anak yang terlanjur tumbuh dengan trauma, bahwa itu semua bukan kesalahannya.

It’s okay jika tak punya keluarga yang okay. Tinggalkan sumber masalahnya, sembuhkan diri – cari pertolongan jika perlu – dan bertumbuh lah!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini