Squid Game. (Netflix)

Serial Squid Game ramai jadi perbincangan belakangan ini, mulai dari yang memuji hingga tuduhan plagiat film As the Gods Will dan dibanding-bandingkan dengan serial Alice in Borderland.

Cerita sejenis memang sering dibuat. The Hunger Games, The Purge, dan Death Race (franchise) adalah contoh genre bertema survival game lainnya. Lantas, apa persamaan tiga film tersebut dengan Squid Game? Ketiganya berlatar perbedaan kelas sosial.

Cerita survival game semacam itu menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kelas sosial. Melibatkan banyak orang dalam sebuah permainan yang berbahaya dan posisi mereka ditentukan oleh perbedaan kelas sosial. Seseorang terlibat dalam permainan, kemudian bertaruh nyawa, bukan karena tertimpa sial bertemu psikopat.

Sisi menarik lainnya, setelah permainan berlangsung sekian waktu terungkap bahwa bukan lagi uang atau nyawa yang berusaha didapat, melainkan kebahagiaan.

Membawa isu kelas sosial dalam pencarian kebahagiaan memudahkan kita memahami karakter nomor 001 dan nomor 456 di Squid Game sebagai perwakilan antagonis dan protagonis. Terutama, memahami ironi pada hubungan mereka berdua.

Baca juga: Kiat-kiat dari Alice in Borderland untuk Bertahan Hidup Selama Pandemi

Sesama melankolis, nomor 001 yang kaya banget sudah lupa cara untuk bahagia, nomor 456 yang miskin banget pun sama. Setelah hidup serba berkelebihan dan berkekurangan uang sampai level ekstrem, keduanya percaya bahwa kebahagiaan ada di masa lalu. Ironisnya, kebahagiaan di masa lalu tersebut berusaha mereka panggil ulang pakai uang. Ternyata perbedaan kelas sosial tidak membuat perbedaan apa pun pada perspektif tentang uang.

Perbedaan mereka hanya satu, nomor 456 meyakini bahwa manusia punya kedudukan yang sama dalam masyarakat. Ini cara berpikir yang khas untuk masyarakat kelas bawah dan tidak akan pernah disetujui masyarakat kelas atas. Nyatanya nomor 001, sebagai orang kaya, lebih mampu bertahan hidup karena punya sumber daya dan ia berusaha tetap berada di puncak piramida. Sedangkan nomor 456, meski berusaha sekuat tenaga pun, ia tetap membutuhkan keberuntungan sebagai faktor X.

Ketika nomor 001 mengaku sudah menemukan kebahagiaannya dengan bantuan uang, namun menderita berkepanjangan dan kehilangan nyawa. Sedangkan nomor 456 tetap hidup dan menjadi kaya, namun tak menemukan kebahagiaannya. Malah ingin kembali ke permainan. Di sinilah, penonton dapat mendefinisikan ulang kebahagiaan masing-masing.

Pada titik tertentu mungkin kita akan berpikir bahwa menjadi bahagia itu overrated. Lantaran bisa bertahan hidup dengan sebaik-baiknya saja sudah lebih dari cukup.

Baca juga: Sarjana, Serba Bisa, Hidup Bahagia di Desa? Ada, di Hometown Cha-Cha-Cha!

Pencarian kebahagiaan adalah masalah klasik manusia yang sudah dibicarakan sejak berabad-abad lampau. Stoikisme yang didengungkan sejak abad ke-3 SM, misalnya, meyakini bahwa seseorang dapat hidup bahagia ketika ia tidak terpengaruh oleh hal-hal di luar dirinya. Masih ada pendapat lain dari Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan lainnya. Sejak dulu manusia berusaha mendefinisikan ‘bahagia’ dan mencari tahu bagaimana cara memperolehnya.

Hidup dalam sistem yang buruk membuat pemikiran-pemikiran tentang mencari kebahagiaan menjadi hal yang mewah. Atau, tetap dipikirkan, tapi dengan menurunkan standar dan menyederhanakan definisi. Karena sering kali memang orang miskin pada hari ini adalah orang miskin kemarin dan mungkin masih miskin di esok hari. Situasi tersebut bernama kemiskinan struktural.

“Hidup sehari-hari juga udah sikut-sikutan gitu, tapi pingin tahu aja kalau menang duitnya buat apa entar?”

“Siapa yang jadi penyelenggara permainan, ya?”

“Kalau pemainnya kere dan nggak punya masa depan, penontonnya orang kaya yang kebetulan bosen, petugas yang pakai baju pink itu siapa?”

“Kok bisa aparat nggak ada yang tahu, padahal permainan setahun sekali dan ratusan orang mati?”

Di sepanjang series sembilan episode tersebut pertanyaan-pertanyaan tentang kelas, kesenjangan sosial, absennya negara pada persoalan-persoalan masyarakat, (disadari atau tidak) menjadi kunci mengapa Squid Game menjadi relate dengan banyak orang.

Baca juga: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Tak seorang pun, di dunia nyata maupun film atau series, yang bisa menjawab persoalan-persoalan tentang kelas sosial. Artinya, persoalan-persoalan itu abadi. Bahkan setelah ada kematian pun tinggal ganti subjeknya saja.

Peserta ‘Squid Game‘ bisa jadi adalah seorang caleg gagal dan banyak utang, korban pinjol ilegal, pernah masuk penjara karena pakai narkotika dan susah cari kerja, terjebak bujuk rayu trader forex karena ingin uang cepat lalu kehilangan segalanya, dan seterusnya.

Mereka bisa saja punya privilese dan pernah menjadi pemilik modal pada awalnya. Tapi salah mengambil keputusan dan mengubah status sosialnya. Seseorang yang tidak beruntung tersebut bisa saja orang yang kita kenal atau malah kita sendiri.

Namun, serumit apa pun persoalan yang dihadapi orang miskin selalu lebih sederhana, hanya menginginkan kesempatan untuk mengubah nasib. Tawaran untuk ikut dalam permainan (seperti Squid Game) kemudian dilihat sebagai kesempatan untuk mengubah keadaan.

Meski permainan semacam itu tidak ada di dunia nyata, perspektifnya bisa menjelaskan kenapa ada saja orang yang percaya uang bisa digandakan. Bahkan ada yang tega mencongkel mata anak sendiri untuk ritual pesugihan.

Artikel populer: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Puncak komedi di Squid Game adalah prinsip kesetaraan untuk semua orang menjadi dasar permainan. Sama seperti ‘optimisme’ orang miskin pada umumnya yang diwakili oleh nomor 456 bahwa setiap orang punya kedudukan sama di masyarakat.

Berangkat dari prinsip kesetaraan tersebut nyawa peserta dan petugas berseragam – yang juga terlibat dalam permainan karena motif uang – dihilangkan dengan mudah. Sementara, para borjuis yang menggelar permainan duduk di ruang nyaman.

Orang-orang dari kelas sosial atas menyimak orang miskin saling bunuh, dari tempat yang nyaman dan tetap tak tersentuh. Bikin deja vu nggak, sih?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini