Ilustrasi anak perempuan. (Image by Phan Minh Cuong An from Pixabay)

Istilah broken home sering disematkan kepada anak yang orangtuanya memilih berpisah, bercerai, atau salah satu di antaranya selingkuh saat si anak masih tumbuh. Sementara, anak dari orangtua yang berpisah sering kali menganggap itu sebagai kutukan dan seolah-olah ia layak mendapatkan perlakuan yang tidak baik hingga mengasihani dirinya sendiri.

Bahkan ia kerap dianggap pantas untuk mendapatkan kekerasan seksual. Alasan broken home sering digunakan oleh sejumlah aparat hukum untuk memaklumi kekerasan seksual yang terjadi pada anak perempuan. Perempuan yang memiliki trauma masa kecil sering dibilang suka cari perhatian. Padahal, kekerasan seksual terjadi bukan karena perempuan mencari perhatian, tapi karena ketimpangan relasi kuasa yang membuat pelaku memaksakan kehendak dan membuat perempuan tak berani melawan.

Baca juga: Slogan Keluarga yang Overused dalam Meme Dom Toretto Fast & Furious

Anak dengan trauma masa kecil jangan dikucilkan, apalagi dihukum oleh masyarakat atas apa yang dilakukan orangtuanya. Jangan pula direndahkan, apalagi diperlakukan secara tidak manusiawi. Sebab seperti trauma masa kecil yang lain, anak yang orangtuanya berpisah juga berhak untuk pulih, dan bisa pulih.

Diksi broken home juga seharusnya dihilangkan. Anak yang ortunya berpisah tidaklah broken atau rusak. Banyak ibu dan ayah setelah berpisah mampu memberikan kehidupan yang layak kepada anaknya. Kalaupun mereka tak sanggup atau mengalami kesulitan finansial, itu tidak berarti si anak jadi rusak atau pantas disalahkan dan dihukum dengan stigma.

Kita mesti melihat bahwa sistem yang ada tidak membuat para orangtua mudah untuk menitipkan anaknya di tempat pengasuhan anak atau day care. Sebab tidak ada subsidi day care dari pemerintah. Boro-boro day care, memenuhi kebutuhan anak saja sudah sulit kalau harus membiayainya seorang diri. Tak jarang tetangga, kakek nenek, atau saudara dititipi anak oleh orangtuanya yang bekerja.

Baca juga: Daripada Mengurusi Selangkangan, Mending Urus soal Pengasuhan

Dan, selama pandemi, beban mengasuh anak tetap dilimpahkan kepada perempuan. Menjadi ibu sekaligus guru yang mendampingi anak belajar dari rumah. Ini menjadi masalah bagi ibu tunggal yang harus bekerja dan mendampingi anak pada waktu bersamaan.

Masalah pengasuhan anak oleh orangtua yang berpisah juga tak seharusnya dijadikan stigma untuk menghukum perempuan, baik perempuan sebagai anak maupun sebagai ibu dan pengasuh. Masyarakat mudah sekali lompat pada kesimpulan bahwa anak yang tidak memiliki orangtua lengkap bakal berakhir buruk.

Pada kenyataannya banyak perempuan yang seorang diri harus menghidupi anak-anaknya tanpa bantuan dari negara sekalipun. Dan, ini bukan salah mereka, melainkan sistem yang tidak mempersiapkan kemungkinan perempuan untuk menjadi kepala rumah tangga. Rumah tangga hanya dilihat dari sudut pandang heteronormatif dan patriarkal.

Baca juga: Kewalahan Dampingi Anak Belajar Online, tapi Masih Ngeri kalau Tatap Muka: Dilema Orangtua

Dalam undang-undang perkawinan, perempuan tidak dilihat sebagai kepala rumah tangga yang bisa menafkahi keluarga, sehingga perempuan sulit mendapatkan bantuan dan akses jika ia harus meminta bantuan dana. Ia bahkan mendapatkan potongan pajak yang lebih besar karena dianggap lajang.

Begitu pula dengan anak-anak yang besar dengan satu orangtua. Banyak anak harus bertahan dan mencari penghasilan tambahan. Anak yang sering dianggap rusak oleh masyarakat ini tumbuh dengan pribadi yang lebih kuat, karena memang terpaksa harus kuat. Padahal, mereka tak seharusnya dipaksa kuat. Mereka semestinya bisa menikmati masa anak-anak tanpa harus bersusah payah. Namun sayangnya, itu menjadi keistimewaan bagi orangtua dengan kemampuan finansial yang mumpuni.

Frasa broken home ini juga membuat banyak orang merasa tak percaya diri. Mereka merasa tak layak untuk mendapatkan perhatian, penghargaan, atau bahkan melakukan apapun untuk meningkatkan kualitas diri.

Artikel populer: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Siapapun yang memiliki trauma karena perpisahan orangtua juga harus berhenti mengasihani dirinya. Bukan salah anak mengapa orangtua berpisah. Bukan salah anak pula jika mengalami trauma. Sudah saatnya untuk pulih.

Penghakiman yang tak berujung ini tidak memberikan dampak baik sedikit pun. Itulah mengapa istilah broken home harus dihapus dari muka bumi. Kita bisa ganti dengan istilah trauma masa kecil. Lalu, fokus pada upaya pemulihan dan bagaimana setiap anak, dengan orangtua yang tak lengkap, bertahan sebagai penyintas.

Istilah broken home hanyalah mitos menyesatkan yang menghasilkan stigma dan stereotip. Sudah waktunya anak dengan trauma masa kecil lepas dari hukuman masyarakat, dan tak lagi menganggap trauma itu sebagai kutukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini