Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Ilustrasi (Pete Johnson/pexels.com)

“Ih, ngapain banget kamu langganan Majalah B. Kata Papa aku Majalah B itu majalah agama anu. Aku dong (langganan majalah) A,” ujar seorang sepupu, mungkin lebih dari 20 tahun lalu.

Saat itu, saya yang baru enam atau tujuh tahun kebingungan. Memang betul, majalah yang satu lebih berbau agama, tapi seingat saya majalah yang saya baca ini tidak ada konten agamanya.

Kalaupun ada, memangnya kenapa? Mengapa cuma karena majalah saja, kita jadi meliyankan orang lain? Menjadi liyan semuda itu adalah krisis eksistensial terbesar dalam hidup saya.

Kejadian tersebut tentu bukan satu-satunya ujaran kebencian yang pernah saya dengar. Mulai dari: Jangan masuk rumah ibadah tertentu kalau tidak ingin masuk neraka. Jangan bersentuhan kulit dengan orang yang agamanya berbeda, kalau tidak kamu harus bersuci kembali.

Lalu, ada lagi ungkapan jangan terlalu sering berteman dengan si anu, karena dia beragama itu. Jangan masuk SD itu karena kepala sekolahnya beragama anu. Sampai: Si A orangnya baik yah, padahal agamanya itu loh.

Bagaimana kalau intoleransi itu justru terjadi pada keluarga kita sendiri? Mengapa menjadi baik saja seolah-olah hanya bisa dilakukan oleh agama dan golongan tertentu? Bukankah semua agama justru mengajarkan kebaikan?

Tentu kita sudah mendengar cerita viral seorang penumpang kendaraan umum yang enggan duduk, jika penumpang di sebelahnya tidaklah seagama. Padahal, seperti halnya HIV dan AIDS, agama tidaklah menular melalui sentuhan kulit, udara, ataupun pakaian. Apa lacur kalau benci dan curiga sudah tertanam.

Kita patut khawatir kebencian dan kecurigaan semacam ini semakin dianggap normal, sehingga jurang perbedaan semakin meruncing dan fundamentalisme pun berakar. Kekhawatiran ini bukan omong kosong, apalagi banyak terjadi kasus kekerasan terhadap pemimpin agama. Sebelumnya, terjadi penyerangan di Gereja Bedog, Yogyakarta.

Namun, saya juga percaya bahwa perbedaan dapat dirawat. Harapan saya tumbuh saat menonton Mata Najwa. Di Kampus Biru, kelompok minoritas sulit betul mencapai posisi Presiden BEM KM (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa).

Sebab itu, kenyataan bahwa Obed Kresna berasal dari minoritas, dan berorasi mengenai pentingnya menyatukan perbedaan, memberi harapan bahwa fundamentalis memiliki lawan seimbang: toleransi dan multikulturalisme.

Fundamentalisme tentu bukan hanya milik agama tertentu saja. Di Amerika ada Ku Klux Klan, di Iraq dan Syria ada Daesh (ISIS), di Myanmar ada Biksu radikal, di Afrika Barat ada Boko Haram.

Apakah kemudian kita akan menyebut semua yang Kristen adalah Ku Klux Klan, semua muslim adalah ISIS, dan semua orang Buddha suka membunuh muslim? Tentu tidak! Setiap agama selalu memiliki contoh pemimpin yang toleran dan yang fundamental.

Seorang laki-laki keturunan Pakistan terpilih menjadi wali kota London. Sementara itu, seorang perempuan imigran Pakistan terpilih menjadi anggota parlemen dari Partai Hijau di Australia. Dan, saat ini, anak imigran Mesir juga sedang berjuang menuju kursi gubernur Michigan.

Abdul sang calon gubernur Michigan, Mehreen Faruqi anggota Parlemen Australia, dan Sadiq Khan wali kota London memiliki kesamaan. Mereka memiliki agama yang sama, dan mengusung isu yang sama: kesetaraan di hadapan hukum bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk kelompok minoritas seperti kaum miskin kota, dan LGBTIQ.

Lalu apakah kita akan mengatakan agama yang mereka anut tidak bermoral? Tentu juga tidak.

Sebagaimana diungkapkan oleh Mehreen Faruqi, komunitas etnis multikultural bukanlah karikatur konservatif yang homogen. Kelompok-kelompok minoritas di Australia seperti Muslims for Marriage Equality, the Australian Council of Hindu Clergy, the Asian Australian Alliance, dan the Arab Council, sangat memahami bahwa setiap warga negara harus diperlakukan sama, apapun orientasi seksualnya.

Sementara itu, di Iran, perempuan dikekang otoritas atas tubuhnya karena penguasa memaksa mereka berpakaian dengan cara tertentu yang tidak mereka kehendaki. Sejak 1979 hingga sekarang, perempuan Iran belum juga menang melawan kewajiban otoriter tersebut. Protes yang bermula dari 100.000 perempuan yang mengokupasi jalanan, kini juga berjuang di laman digital.

Mereka tidak sedang berjuang melawan ajaran agama tertentu, apalagi melawan sehelai pakaian. Mereka berjuang melawan penguasa lalim yang mengebiri hak warga negaranya.

Apakah kita menginginkan penguasa macam ini yang akan langgeng di Indonesia? Penguasa yang mengekang hak-hak masyarakat atas tubuhnya sendiri?

Kalau begitu, bagaimana dengan budaya nusantara yang dapat ditelusuri dari relief candi dan lukisan-lukisan gua, serta kepercayaan leluhur yang telah ada di nusantara jauh sebelum agama-agama baru didatangkan bersama penjajah, perang, dan pedagang?

Kita harus menolak penggambaran dualisme yang terlalu menyederhanakan persoalan dalam hitam-putih, baik-buruk. Saya mengenal banyak teman yang sangat taat beragama sekaligus memiliki orientasi seksual yang berbeda, atau memiliki gender yang berbeda dengan alat kelamin ketika ia dilahirkan.

Salah atau benar, diterima atau tidak ibadahnya, tentu bukan kita yang berhak menerka-nerka. Menjadi manusia tidak perlu mengambil alih tugas Tuhan, biar saja Tuhan yang menentukan. Bukankah iblis masuk neraka karena dia merasa paling beriman dan sombong terhadap ciptaan-Nya yang berbeda?

Multikulturalisme dan toleransi bukan berarti kita akan dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki. Sebaliknya, multikulturalisme dan toleransi berarti semua manusia berhak melakukan tindakan yang sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, sembari menghormati kepercayaan orang lain. Hingga tak perlu lagi ada paksaan untuk melepas atribut keagamaan atau berhenti beribadah cuma karena tetangga percaya pada Tuhan yang berbeda.

Masa depan bangsa ada di tangan kita dalam pesta politik selanjutnya, baik dalam Pilkada atau Pemilu. Pemimpin yang kita pilih akan menentukan apakah negara ini akan semakin terbuka pada fundamentalis, atau toleransi.

Karena toleransi bukanlah ketika Banser NU menjaga teman-teman Kristen yang merayakan ibadah Natal. Toleransi adalah ketika Banser NU tidak perlu lagi menjaga ibadah teman-teman agama lain karena semua orang memiliki hak yang setara untuk beribadah, dan kita semua menghormati hak-hak tersebut.

Tapi bagaimana kalau intoleransi justru diajarkan, disuburkan di lingkungan keluarga sendiri? Jangan-jangan, kita gagap menyikapinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.