Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Sosok Otis (Netflix)

Di Indonesia, seks masih dipandang sebagai hal yang tabu. Membicarakannya harus pelan-pelan, nggak boleh di muka umum. Sebab, obrolan seks bisa mengundang birahi dan maksiat, katanya.

Mereka mungkin berpikir bahwa seks semata-mata hubungan seksual, terlebih seperti adegan-adegan yang ditampilkan dalam video porno. Entah itu di film bokep atau video skandal seks figur publik.

Ketika beredar video skandal seks artis, misalnya, beberapa kawan kerap meledeknya di media sosial. Namun, di sisi lain, ikut-ikutan mencari videonya. “Ada link-nya, nggak? No video = hoax.” Hehehe.

Tapi keseringan nonton video kayak gitu juga nggak bagus. Pikiran jadi tumpul. Ya itu tadi, giliran ada orang lain bicara tentang seks, kamu pikirnya dia cabul. Padahal, bisa jadi kamu yang cabul karena keseringan nonton film porno.

Ngomong-ngomong soal nonton nih, belum lama ini saya nonton satu serial film yang belakangan berhasil menarik perhatian para penikmat film. Judulnya Sex Education atau Pendidikan Seks.

Tapi jangan bayangkan film ini isinya penuh dengan ceramah soal seks atau hal-hal selayaknya pelajaran biologi atau dokumenter ilmiah. Sex Education adalah serial film keluaran Netflix bertemakan komedi.

Baca juga: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Film ini menceritakan tokoh utama bernama Otis Milburn (Asa Butterfield), seorang remaja kikuk yang tinggal di Inggris. Pada usianya yang 16 tahun, dia nggak pernah masturbasi, apalagi bersenggama. Alasannya, dia merasa jijik setelah menyaksikan adegan selingkuh ayahnya.

Otis tinggal bersama sang ibu, Jean (Gillian Anderson). Jean adalah seorang seksolog yang membuka klinik di rumahnya. Maka, nggak heran kalau di rumahnya sering didatangi pasien. Bukan cuma itu, di rumahnya terdapat banyak lukisan vagina dan lain-lain.

Satu waktu, seorang kawan Otis bernama Adam (Connor Swindells) datang ke rumah. Otis sekuat tenaga menyembunyikan identitas profesi sang ibu. Usaha Otis sia-sia, karena pada akhirnya sekolahnya memberikan pendidikan seks dengan menggunakan video buatan ibunya.

Mempunyai ibu yang berprofesi sebagai seksolog sekaligus terapis seks membuat Otis terbiasa dengan percakapan mengenai seks. Dia memiliki akses luas untuk mengetahui seks melalui buku, percakapan langsung dengan ibunya, dan obrolan dengan pasien yang datang ke rumah.

Baca juga: Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Maka, wajar kalau Otis menjadi pakar seks, meskipun belum menikah. Melihat kepakaran Otis, membuat seorang kawannya bernama Maeve (Emma Mackey) terinspirasi untuk membuka jasa konsultasi seks, dimana Otis menjadi konsultannya.

Terlebih saat itu, teman-teman Otis mempunyai masalah soal seks. Teman-teman Otis sudah masuk masa pubertas.Tentu kehadiran Otis bisa menjawab permasalahan yang dialami rekan-rekannya.

Lantas, saya membayangkan sosok Otis hadir di Indonesia. Mungkin dia bisa menjawab rasa penasaran kalangan remaja tentang apa itu seks. Sudah bukan rahasia lagi, kebanyakan remaja di sini mengenal atau mendapatkan informasi seks dari video porno, lalu pengalaman pribadi. Padahal, seringkali informasi tersebut menyesatkan.

Terlebih, untuk mendiskusikan hal tersebut sangat sulit karena masih dianggap tabu. Banyak orang yang justru menghindar dari obrolan seks. Orang yang kuliah di universitas beken saja masih banyak yang gagal paham, apalagi remaja yang ‘belajar’ dari video porno?

Baca juga: Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Saya pikir Otis lebih dibutuhkan daripada Dilan. Dilan hanya menawarkan romantisasi cinta anak SMA. Membuat para jomblo semakin kesulitan untuk mendapatkan pasangan, sebab pasangan yang dianggap ideal itu kayak Dilan.

Sementara, sosok seperti Otis dapat membuka kesempatan bagi anak muda untuk lebih tahu soal seks. Dengan lebih tahu, tentu akan menjadi pribadi yang lebih berhati-hati. Dan, pastinya sudah mempunyai bekal untuk menikah nanti.

Namun, kehadiran sosok Otis di Indonesia bakal nggak mudah, karena kemungkinan ada penolakan dari kaum konservatif. Kaum yang masih melihat seks adalah obrolan yang harus dihindari. Kecuali, kamu sudah nikah. Tapi hanya dengan pasanganmu saja.

Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia boleh dikatakan karena mereka tidak mendapatkan pengetahuan seks yang mumpuni. Menganggap remeh soal seks hanya urusan penis masuk vagina atau sebaliknya.

Sementara itu, serial Sex Education membuka cakrawala bahwa pendidikan seks sejatinya lebih luas daripada soal seks itu sendiri. Pendidikan seks bisa menyangkut pubertas, penyakit menular seksual, cara menggunakan alat kontrasepsi, hingga tentang orientasi seksual.

Artikel populer: Vagina kok Jadi Bahan Candaan?

Seks juga akan berkaitan erat dengan aspek psikologis. Mulai dari tidak percaya diri karena merasa body image tidak sempurna, ejakulasi dini bagi laki-laki yang dianggap tidak maskulin, masturbasi yang dianggap tabu bagi perempuan, hingga korban pemerkosaan yang punya trauma sendiri untuk kembali berhubungan seks.

Pendidikan seks harus dimulai dari ranah paling kecil dan vital, yakni keluarga. Namun, kebanyakan di kita selalu kesulitan untuk memulai percakapan soal seks dengan ayah atau ibu, atau sebaliknya.

Kemudian, kita berharap mendapatkan edukasi seks di sekolah. Nyatanya, di sekolah hanya diajarkan soal alat reproduksi. Apa itu cukup? Jelas tidak. Kita membutuhkan pengetahuan yang lebih luas.

Lantas, kita obrolkan saja di warung kopi. Wah, bisa-bisa kita dianggap berpikiran cabul. Padahal, belum tentu kita cabul sejak dalam pikiran. Hanya pikiran orang-orang di negara +62 ini saja yang belum menerima bahwa seks adalah obrolan yang pantas mengisi waktu ngopi.

Pada prinsipnya, seks merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan layak untuk dipelajari lebih lanjut demi kebaikan umat manusia. Eric, sahabat Otis, pernah berkata, “Ilmu pengetahuan adalah kekuatan.”

2 COMMENTS

  1. Aaaa sukaa. Bener banget inii, bahkan ya aku tu gak berani nanyain beberapa hal ke ortuku karena suasana kekeluargaan kami menganggap hal kya gini tu memalukan buat dibicarain. Dan ketika aku cba ngomong ke teman2ku, mereka kaya jijay dan berpikir aku gimana gitu,, yaelahh padahal murni curiousity 😑😑😑

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.