Ingat ya Girls, Perempuan Bukan Beban, justru Kita yang Terbebani

Ingat ya Girls, Perempuan Bukan Beban, justru Kita yang Terbebani

Ilustrasi (Photo by frank mckenna on Unsplash)

Hari gini masih saja ada orang-orang yang mengidolakan lelaki untuk sekolah tinggi-tinggi, sedangkan anak perempuan dilihat sebagai beban keluarga. Tapi di sisi lain, anak perempuan dibuat merasa bersalah jika tidak mengurus keluarga dan orangtua, namun juga dilihat sebagai beban karena dianggap tidak cukup pintar untuk mengenyam pendidikan dan bekerja.

Jadi kudu piye?

Tidak jarang juga kita lihat perempuan muda yang bekerja sebagai budak korporat dan harus menghidupi orangtua plus adik-adiknya. Baiklah, semisal itu adalah baktinya kepada orangtua, tapi apakah harus banget menuntut dia untuk membiayai semua kehidupan keluarga?

Malah banyak perempuan menjadi ibu tunggal dan harus bekerja menghidupi keluarganya, sedangkan suaminya kabur begitu saja lantaran tak sanggup menghidupi keluarga. Tak ada yang mempermasalahkan lelaki yang meninggalkan orangtuanya untuk merantau atau meninggalkan istri dan anaknya untuk bekerja, bahkan sampai menghilang ditelan bumi.

Baca juga: Maaf, Kami Memang Anak-anak yang Tak Bisa Dibanggakan Orangtua

Namun, ketika perempuan bekerja di luar rumah atau bahkan ke luar negeri sebagai pekerja migran, sering kali dipermasalahkan. Dan, bagi perempuan pekerja migran, masalahnya tidak berhenti di situ saja.

Perempuan Indonesia yang menjadi buruh migran mengalami berbagai macam masalah. Mulai dari eksploitasi, gaji yang rendah dan tak kunjung dibayarkan, kekerasan psikis, fisik, hingga seksual, serta eksklusi dari masyarakat karena perbedaan kultur, tekanan mental, dan rentetan masalah lainnya.

Belum lagi, ia harus memastikan bahwa anaknya yang dia tinggalkan di Indonesia diurus oleh keluarganya. Tak jarang yang mengurus anaknya adalah orangtua si perempuan, bukan suaminya. Malah ada suami yang cuma terima uang kiriman dan dipakai untuk bersenang-senang sampai selingkuh. Perempuan menjadi mesin pencetak uang saja.

Selain itu, perempuan yang menjadi buruh pabrik yang tidak mendapatkan cuti haid dan cuti melahirkan. Sudah harus mengejar deadline untuk memenuhi target produksi, namun tidak mendapatkan insentif untuk mengurus keluarganya atau bahkan mengurus dirinya sendiri yang sedang haid.

Baca juga: Di Balik Toko ‘Online’ Ada Kerja Perempuan yang Terabaikan

Terlebih, perempuan yang tidak diizinkan kerja oleh suaminya yang seorang ojek online dengan alasan agama. Apalagi lelaki semacam ini menuntut perempuan untuk cantik, padahal dibeliin skincare dan makeup aja nggak.

Sudah banyak perempuan yang menanggung beban ekonomi hari ini. Bukan hanya beban ganda, namun beban yang berlipat ganda. Masalah yang dialami perempuan membuat dirinya sulit menjaga diri dari tekanan mental yang terus datang bertubi-tubi. Tekanan mental ini bisa membuat seseorang sakit secara fisik hingga menderita penyakit kronis.

Sementara itu, tak jarang kita mengglorifikasi perempuan yang multitasking atau mengerjakan berbagai pekerjaan dalam satu waktu. Glorifikasi ini kemudian membenarkan bahwa memang sudah tempatnya perempuan melakukan pekerjaan domestik sekaligus mencari uang.

Multitasking bukan sebuah kemampuan, tapi semacam pelatihan yang dipaksakan oleh budaya patriarki agar perempuan bisa bekerja layaknya budak. Sudah dianggap jadi beban, diperbudak lagi.

Baca juga: Nyinyirin Perempuan Berotot? Jangan-jangan Itu Ketakutan Imajinermu Saja

Di India dan Tiongkok terjadi femisida besar-besaran karena banyak keluarga menganggap anak perempuan hanyalah beban. Bayi perempuan dalam kandungan pun tak jarang dipaksa aborsi oleh pihak keluarga yang menginginkan si perempuan mengandung anak lelaki. Perempuan dianggap gagal ketika tak mampu menghasilkan keturunan lelaki layaknya pabrik bayi.

Lantas, ketika perempuan dianggap sebagai beban, kenapa tidak membebaskannya dari segala tuntutan dan memberi kesempatan untuk sekolah dan bekerja? Kenapa tidak relakan perempuan untuk berpendidikan setinggi-tingginya dan bekerja mencari uang di luar rumah?

Oh ya, mereka yang menganggap perempuan sebagai beban itu takut nggak ada yang bisa dibodoh-bodohi dan dijadikan pekerja rumah tangga yang masakin dan nyuci baju secara gratis.

Yang jadi beban sebetulnya siapa sih?

Mungkin saja kita perempuan yang hidup dan tumbuh dalam keluarga yang adil dalam berbagi pekerjaan domestik, namun bukan berarti kita bisa lupa dengan perempuan yang terus ditiban dengan beragam beban ganda. Sebab masih ada perempuan di luar sana yang tak seberuntung kita. Mereka tersakiti dan depresi.

Perempuan bukanlah beban, justru ia terbebani.

Artikel populer: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Pada kenyataannya, orang-orang yang menuntut perempuan untuk bekerja siang malam dan sekaligus mengurus keluarga, adalah beban sesungguhnya.

Lelaki yang diam ketika istrinya kerja mati-matian dan tidak ikut mengurus anak dan rumah tangga adalah beban keluarga. Orangtua yang terus menuntut anak perempuannya untuk membiayai kehidupan mereka adalah beban. Masyarakat yang menaruh ekspektasi pada perempuan untuk dapat melakukan segala hal dalam satu waktu adalah beban. Korporasi besar yang tidak memberikan hak cuti haid dan cuti melahirkan adalah beban.

Kita harus berhenti mengglorifikasi hebatnya perempuan dari seberapa banyak pekerjaan domestik atau uang yang dihasilkannya. Kita harus bisa menuntut kembali masyarakat dan keluarga sebagai kelompok terkecil untuk berbagi tugas domestik.

Ingat ya girls… Perempuan bukan beban, budaya patriarki lah yang membebani kita.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.