Ilustrasi. (Photo by Cristian Dina from Pexels)

Influencer adalah golongan yang pertama kelimpahan kucuran dana APBN ketika pandemi baru-baru singgah ke Tanah Air. Golongan mereka dibela (oleh golongan sendiri) sebagai promotor sakti yang memulihkan ekonomi kreatif. Sekaligus penyelamat industri pariwisata di tengah pandemi Covid-19.

Walaupun pada akhirnya industri pariwisata terpaksa dihentikan total demi memutus rantai penyebaran virus. Tidak ada yang bisa mencegah boncosnya ekonomi negara ketika virus corona sudah berkehendak. Influencer pun kalah dengan saudaranya influenza.

Influencer yang dulu pernah mati-matian membela pariwisata, bisa jadi sekarang sedang berjuang di antara hidup dan mati melawan virus. Di sisi lain, ada musisi punk dari daerah pariwisata yang menuding influencer endorse Covid-19.

Tuduhan tersebut mudah saja dipatahkan oleh Bintang Emon melalui video sindirannya. Ya kalau benar, masa iya invoice cair sebagai warisan, karena talent-nya tak terselamatkan?

Sebelumnya, mengapa tidak ada yang menuduh seorang musisi yang belakangan kedapatan memiliki ganja sebagai talent endorsement mariyuana? Sebab di YouTube slogannya saja “Jangan lupa senyum hari ini”. Nah, cengengesan itu sendiri adalah efek dari penyalahgunaan ganja.

Baca juga: Strategi Agar Tidak Terkecoh Gimik Influencer

Influencer seperti kecerdasan buatan di film fiksi ilmiah yang niatnya menyelesaikan masalah manusia, justru menjadi ancaman baru. Jika kecerdasan buatan yang tak punya rasa kemanusiaan diberikan kendali penuh terhadap hajat manusia, dunia bisa kiamat. Lihat saja film Terminator. Begitu pula dengan influencer yang punya kekuasaan untuk membentuk opini publik, sewaktu-waktu bisa menyalahgunakan wewenang tersebut.

Sebutlah seorang influencer kesayangan negara yang pernah melakukan doxing identitas warga sipil di Twitter. Bukannya dapat hukuman, ia justru kelimpahan jabatan penting sebagai komisaris BUMN.

Menapaki karier sebagai influencer memang menjanjikan. Apalagi yang mendukung pemerintahan. Contohnya, seorang personel band pendukung pemerintah sejak pemilu yang juga dapat posisi komisaris BUMN. Sungguh mengejutkan band yang dulu dicirikan anti-kemapanan kini tergiur jabatan yang menjamin kemapanan. Sepertinya dunia memang sedang tidak baik-baik saja.

Baca juga: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Namun, menjadi influencer independen non-pemerintahan pun bisa jadi cita-cita baru anak TK zaman kiwari. Dea Anugrah sempat membeberkan betapa menggiurkannya menjadi influencer, walaupun maksudnya ia ingin memperlihatkan ketimpangan sosial yang terjadi karena model bisnis influencer yang perlu dikoreksi.

“Di dunia fana ini ada orang-orang yang digaji Rp 800 ribu setelah kerja siang-malam sebulan penuh dan ada juga yang dibayar Rp 80 juta untuk pekerjaan sepele macam bikin IG post dalam satu-dua jam. Kalau menurutmu dunia kayak gini nggak rusak, berarti nalarmu yang rusak.”

Seorang influencer membela diri bahwa uang sebesar itu untuk membayar timnya dengan layak. Namun, melupakan poin pertama bahwa ada buruh diupah murah yang bisa ia ubah dengan pengaruhnya.

Belakangan, influencer yang sama tersandung dugaan pelecehan seksual. Selama ini, sang influencer dikenal playboy dengan rekor kencan yang fantastis. Membuat saya ingin memodifikasi twit Mas Dea menjadi seperti ini:

“Di dunia asmara, ada orang-orang yang masih susah dapat jodoh setelah berkali-kali PDKT dengan gebetannya dan ada juga yang mengaku sudah meniduri 100 perempuan di usia 21 tahun. Kalau menurutmu panah cupid nggak rusak, berarti Tindermu premium.”

Baca juga: Seandainya Seleb Internet Jadi Panitia Ospek Online

Menanggapi spill dari korban pelecehan seksual, sang influencer langsung klarifikasi dengan menyebutnya fitnah. Sekaligus menunjukkan kekuatannya yang bisa menyewa pengacara andal dengan tekad membawa kasusnya ke jalur hukum.

Influencer memang dekat dengan abuse of power. Pada kondisi normal, ia bisa mengajak orang-orang untuk menyukai sebuah produk atau mendukung sebuah gagasan. Pada kondisi luar biasa, ia bisa mengajak para pengikutnya untuk merundung seseorang yang bertentangan dengannya.

Tak jarang kita menemukan influencer idola anak muda yang ngedumel di internet tentang seseorang yang mengganggunya. Lalu, para fans ikut menyerang satu orang yang dibenci sang idola itu secara keroyokan seperti antagonis di Tokyo Revengers.

Contoh terbaru adalah anak pejabat tertinggi negeri ini yang mengunggah foto oknum pembencinya di media sosial. Selain mengarah ke doxing, ia juga mengolok-olok kendaraan sang pelaku. Padahal, apa yang salah dari sebuah produk otomotif? Setelah ini, mungkin pelaku perlu berseru, “Jangan salahkan motorku!”

Artikel populer: Indonesia Tanpa Youtuber, Apakah akan Baik-baik Saja?

Tak belajar dari kasus sebelumnya, ada selebram cum influencer yang sempat menggelar sayembara berhadiah jutaan untuk warganet yang bisa mengungkap identitas pembenci yang menyerangnya di DM Instagram. Padahal kan ada pepatah yang mengatakan “What happens in Vegas, stays in Vegas”. Apa yang terjadi di DM Instagram, tetaplah di DM Instagram.

Mengapa jadi urusannya warganet sedunia maya? Hanya karena punya banyak dana, seolah ia bisa membayar siapa saja untuk melakukan apa yang dikehendakinya.

Ajakan si selebgram tersebut bisa mengarah ke doxing. Jangan-jangan si selebgram bercita-cita pengen jadi komisaris BUMN di masa depan?

Naif jika para influencer tidak tahu pengaruh kekuatan mereka di dunia siber. Sebab sedikit blunder, jatuhnya abuse of power.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini