(500) Days of Summer (Searchlight Pictures)

Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) dikritik. Itu adalah keniscayaan karena ITP sendiri mengkritik pacaran. Solusi yang ditawarkan oleh pendiri ITP adalah menjomblo. Kalau tidak kuat jadi jomblo, maka nikah muda.

Halo, BKKBN??! Ini ada yang mau ngerecokin program kalian nih.

Orang yang tidak mau nikah muda, daripada buru-buru ke KUA, wajar mengkritisi pemikiran ITP. Opini dibalas opini. No baper.

Motif pembentukan Indonesia Tanpa Pacaran adalah menghindari seks pranikah di kalangan generasi muda. Tentu saja itu pemikiran naif karena tanpa pacaran pun seseorang tetap bisa melakukan hal tersebut. Maaf, maksudnya, dua orang.

Saya jadi ingin merekomendasikan sebuah film romantis untuk pendiri Indonesia Tanpa Pacaran dan seluruh anggotanya di Tanah Air: (500) Days of Summer.

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Indonesia Tanpa Pacaran dan Zooey Deschanel di film (500) Days of Summer punya satu kesamaan: menolak pacaran. Namun, dengan sudut pandang berbeda. Sewaktu ditanya alasannya oleh Tom Hansen, Summer menjawab, “Aku tidak mau menjadi pacar siapapun. Aku tidak suka menjadi milik seseorang. Aku tidak percaya cinta.”

Kalau saja Tom mau menyelidiki lebih jauh, bisa jadi ia akan menemukan kartu anggota ‘Amerika Tanpa Pacaran’ di dompetnya Summer.

Tom yang percaya konsep belahan jiwa bertemu dengan Summer yang anti pacaran, tapi juga nggak mau taarufan – apalagi nikah muda. Konfliknya selalu berkutat pada pertanyaan-pertanyaan meminta kejelasan status hubungan, “Sebenarnya, kita ini apa sih?”

Seandainya pertanyaan itu dilontarkan Tom dalam perjalanan menuju bioskop dan kebetulan radio dalam mobil memutarkan lagu Fourtwnty berjudul “Zona Nyaman”, mungkin Summer yang selalu mengelak diajak pacaran bakal mengeraskan volume pada bagian lirik yang bisa jadi jawabannya: “Kita ini insan, bukan seekor sapi.”

Kalau jawaban asli Summer dalam filmnya: “Bodo amatlah sama status. Yang penting kita bahagia.”

Baca juga: Proklamasi, dengan Ini Kami Menyatakan Kemerdekaan Hati

Tom manut saja karena sedang bucin-bucinnya. Tak sadar kalau itu adalah bom waktu yang bisa meledak saat dirinya terlalu baper dan minta kepastian.

Status hubungan yang jelas memang tidak ada jaminan langgeng, tapi kita bisa berharap keseriusan pasangan dalam komitmen. Namun, berharap pada hubungan atas dasar have fun, bisa jadi itu adalah kesalahan sejak awal. Sebab, siapapun dalam hubungan friend with benefits (FWB) berhak pergi ketika sudah tidak merasakan benefitnya.

Di ujung hubungan, Summer malah menanyakan pertanyaan yang sama: “Kita ini apa?” Tom menjawabnya dengan jawaban Summer di awal hubungan: “Yang penting kita bahagia. Kamu bahagia, kan?”

Summer malah nggak jawab. Ternyata hubungan tanpa status tidak semembahagiakan itu. Sama menyedihkannya dengan status tanpa hubungan.

Padahal, awalnya Tom optimis terhadap konsep hubungannya dengan Summer. Ini adalah hubungan yang modern dan dewasa. Kita bukan anak kecil lagi yang perlu melabeli sebuah hubungan, ceunah.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Film (500) Days of Summer jauh lebih keras dari film kriminal apapun yang pernah saya tonton, geramnya sampai kebas. Apalagi ketika menontonnya, saya baru putus dari hubungan tanpa status. Sewaktu ngajak putus, mantan saya malah balik nanya, “Emang kita pacaran?”

Pertanyaannya itu jauh lebih menyakitkan daripada putus itu sendiri. Secara tidak langsung, dia tidak pernah menganggap hubungan yang serius. Ternyata, saya miskonsepsi kala itu.

Bersama penonton lain, saya sempat menyalahkan Summer Finn yang tega menyakiti perasaan Tom Hansen. Namun, Joseph Gordon-Levitt sang pemeran Tom justru membela Summer dengan berkata di Twitter: “Sejak awal, Tom yang salah kok. Dia egois dan nggak mendengarkan. Untunglah, di-ending dia tumbuh dewasa.”

Tom yang pro dengan konsep pacaran tidak follow akun ‘Amerika Tanpa Pacaran’. Padahal, adminnya sudah memperingatkan dengan sebuah meme: “Hei, bro. Kalau kamu nembak cewek lalu dia cuma jawab ‘HAHA’ ‘HMM’. Positive thinking saja bahwa itu singkatan dari ‘Halalin Adek Halalin Adek’Hi, Marry Me‘.”

Setelah tidak bersama Tom, Summer malah dilamar oleh seorang pria. Summer akhirnya mau menikah, tapi bukan semata ingin menghindari pacaran seperti yang dikampanyekan Indonesia Tanpa Pacaran. Tentunya setelah ia mendapatkan pendewasaan pemikiran bahwa dirinya telah siap menjadi istri. Bukan kebelet ujug-ujug menikah.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Indonesia Tanpa Pacaran mempersempit pandangan tentang gaya hidup tanpa pacaran, dengan mendorong orang untuk nikah muda. Padahal, nikah muda sangat rentan terjadi perceraian.

Lagi pula, banyak kok konsep anti pacaran di dunia ini. Salah satunya yang dipaparkan di film (500) Days of Summer. Di Indonesia sendiri, saat ini sudah banyak anak muda yang menerapkan gaya hidup anti pacaran. Alasan mereka tidak mau berkomitmen karena ingin menjalani kegiatan romantis dan hubungan kasual secara fleksibel.

Namun, mereka bisa saja mencapai titik seperti Summer di film (500) Days of Summer: menikah pada waktunya, karena merasa sudah siap. Bagaimanapun, menikah adalah pilihan. Begitu juga dengan tidak menikah.

2 KOMENTAR

  1. IMHO bang (no offense) :
    Kesiapan bukan ukuran angka usia yaa.. Ndak berarti yang muda belum siap nikah, terus yang tua siap banget yo.

    Saya ndak bakal bawa agama deh (nanti dibilang kadal gurun wkwk)
    Lihat sisi moralnya aja sii..
    Orang pacaran emang beneran nggak ngapa-ngapain? Pegang cium dikit mah ada lah meureuuun.
    Kalo nggak ngapa-ngapain, ngapain pacaran?
    Mubazir paaan?? Wkwkw

    Saya termasuk praktisi nikah muda tanpa pacaran kok.
    Alhamdulillah sama suami ndak pernah selisih faham.
    Udah punya anak 1 malah.

    Saya dulu suka film ini (karena zooey deschanel cantik anjir hehe).
    Tapi.. I found out that : useless bang. Film ndak ada faedah 😌

  2. Faktor usia memang tidak pernah menjadi patokan kesiapan seseorang untuk menikah, si penulis mencoba menyampaikan dengan logika yg baik bahwa semakin bertambah umur, pada umumnya manusia akan semakin bertambah pengalaman. Dia ambil secara garis besar.

    Bukan berarti dia bilang yg muda ga siap nikah, dia bilang, biasanya belum siap nikah, karena kurangnya pengalaman. Kebetulan mbak ini salah satu yg bukan termasuk garis besar, jadi siap-siap saja. Begitu, mbak. Jadi tidak bisa dipukul sama rata hanya dengan keadaan mbak saat ini.

    Pacaran ga selalu tentang hubungan setelah nikah kok. Tergantung pasangannya juga, mbak. Banyak pasangan yang juga jaga diri sebelum mereka nikah. Lagipula pada dasarnya semua ini kan balik lagi ke masalah pribadi, tidak seharusnya dicampuri orang atau badan lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini