Indonesia Mendunia Berkat Pembatasan Penyiaran Lagu, Selamat!

Indonesia Mendunia Berkat Pembatasan Penyiaran Lagu, Selamat!

Ilustrasi (Geralt via Pixabay)

Terlepas dari hobi kalian yang suka bikin meme sambil ngegabungin wajah Bruno Mars dan Didi Kempot, belakangan mas Bruno marah-marah di Twitter. Penyebabnya, dua lagu dia yang berjudul That’s What I Like dan Versace On The Floor dipersoalkan.

That’s What I Like dan Versace On The Floor termasuk dalam 17 lagu ‘barat’ atau berbahasa Inggris yang dibatasi penyiarannya di radio-radio dan televisi di Jawa Barat, sebuah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menyatakan bahwa 17 lagu tersebut memuat konten seksual. Ketua KPID Jawa Barat, Dedeh Fardiah mengatakan, lagu-lagu tersebut hanya boleh disiarkan dari pukul 22.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB.

Padahal, Bruno Mars sudah diakui masyarakat dunia, termasuk di Indonesia, sebagai salah satu musisi besar saat ini. Lagu That’s What I Like bahkan dianugerahi penghargaan Song of the Year dalam Grammy Awards 2018.

Saking kesalnya, Bruno malah ‘nyalahin’ Ed Sheeran. Dengan nada sarkasme, Bruno bilang bahwa lirik dalam lagu Ed Sheeran yang ‘sakit’ dan mesum telah membuatnya terjepit. “Terima kasih Ed, terima kasih banyak,” ujar Bruno. Entah ini untuk menyindir keputusan KPID Jabar atau apa.

Selain lagunya mas Bruno dan mas Ed (Shape of You), ada pula lagu-lagu hits lainnya yang bernasib sama. Sebut saja lagu Dusk Till Dawn (Zayn Malik), Sangria Wine (Camila Cabello ft Pharrell W), Love Me Harder (Ariana Grande), Makes Me Wonder (Maroon 5), Wild Thoughts (DJ Khaled ft Rihanna), dan Your Song (Rita Ora).

Bahkan, ada penyanyi asal Indonesia juga dalam lagu-lagu internasional yang dibatasi penyiarannya di Jawa Barat. Misalnya lagu Overdose, yang mana Chris Brown feat Agnez Mo. Atau, lagu Midsummer Madness dari 88rising yang ada Rich Brian.

Tapi, rupanya, pembatasan penyiaran 17 lagu ‘barat’ oleh KPID Jawa Barat ini sudah cukup membuat nama Indonesia mendunia! Pembatasan penyiaran ini diberitakan oleh sejumlah media internasional ternama. Selamat!

Sementara itu, di negeri sendiri, netizen kita menanggapinya dengan cara yang beragam dan unik.

Tapi tahukah kalian, pembatasan macam begini ternyata bukan pertama kali. Yuliandre Darwis, ketua KPI Pusat, pernah bilang bahwa ada dua provinsi lain yang pernah melakukannya, yaitu Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Bahkan, menurut Yuliandre, kedua provinsi tersebut bukan cuma membatasi, tapi melarang pemutaran lagu-lagu berkonten dewasa.

Lantas, apa kabar dengan lagu-lagu yang lain? Yang kalau dilihat dari kacamata mereka sih, seharusnya dianggap tidak kalah mesumnya. Atau, jangan-jangan, pembatasan ini karena lagu-lagu tersebut berbahasa Inggris dan tidak bernuansa lokal?

Yah, kalau sudah begitu, mau gimana lagi?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.