Ketika Ibu Berdiri Paling Depan untuk Anaknya yang Gay

Ketika Ibu Berdiri Paling Depan untuk Anaknya yang Gay

Ilustrasi oleh Jean Manuel Duvivier (medicalxpress.com)

Saya menangis, nak. Itu reaksi pertama saya mendengar pengakuan mas Gun,” kata Ngainten, saat menuturkan ceritanya kepada Voxpop.

Itu adalah reaksi seorang ibu yang sungguh terpukul dan bagai tersambar petir ketika mendengar pengakuan anak laki-laki kesayangannya adalah gay.

Ibu jangan nangis ya. Ini pilihan hidupku,” tutur Ngainten yang menirukan respon anaknya, Gunawan Wibisono, kala itu.

***

Gunawan Wibisono adalah satu dari 8 anak Ngainten. Ibu yang kini berusia 75 tahun itu dulu adalah pedagang pecel, rawon, kare di Surabaya. Suami beliau seorang tukang becak.

Gunawan, kata Ngainten, dari kecil tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Sejak kelas 5 SD, Gunawan rajin membantu orangtua berdagang. “Anaknya sangat menerima keadaan. Sederhana, pintar, dan rajin membantu orangtua,” ujar Ngainten.

Dari kecil hingga dewasa, menurut Ngainten, tak ada tanda apapun anaknya akan menjadi gay. Dia juga sempat cerita Gunawan saat kuliah sempat punya pacar perempuan dan curhat ke ibunya ketika putus. Semua tidak ada beda dengan teman sebayanya. Sampai suatu hari terjadilah percakapan seperti pada paragraf awal.

Ngainten menjelaskan bahwa yang membuatnya menangis bukan hanya pilihan Gunawan menjadi gay, tapi bagaimana masa depan anaknya jika tidak menikah dan tidak punya keturunan.

Kamu nanti ikut siapa kalau sudah tua, nak?”

Aku kan bisa bekerja dan mandiri, bu. Aku ikut diriku sendiri.”

Ngainten memilih ikhlas dan sabar, serta mau mengerti pilihan hidup Gunawan. Namun, butuh waktu berapa lama beliau bisa menerima keadaan? Ngainten yang tahu.

Yang saya ingat, Ngainten mengeluarkan kalimat ini: “Mas Gun itu anakku. Dibolak-balik seperti apapun dia anakku. Saya mengandungnya 9 bulan 10 hari bertaruh nyawa. Apapun kondisi dan keadaannya, dia tetap anakku.”

Ngainten mendengar banyak keluarga yang seolah membuang anaknya setelah mengaku gay. Menurutnya itu tidak benar. Anak adalah anak. Apapun anak adalah titipan Tuhan. Mau seperti apapun jalan hidup yang dipilihnya.

Kalau dibuang (karena gay) lalu keleleran di mana-mana sampai kelaparan, gimana? Apa ya orangtuanya bisa makan setiap hari tanpa mengingat kondisi anaknya?” kata Ngainten.

Ngainten juga menjelaskan bahwa saudara-saudara Gunawan bisa menerima bahwa saudaranya adalah seorang gay. Sampai sekarang tidak pernah ada masalah berarti dalam keluarga besar.

Dia juga mengatakan, Gunawan adalah anak yang pintar dan bisa kerja berikut usaha. Banyak gay yang tidak beruntung nasibnya. Tidak mendapat pendampingan keluarga yang menerimanya apa adanya, mendapat diskriminasi di kalangan masyarakat, bahkan sampai terjerumus dalam tindak kriminal dan sebagainya.

Dari Ngainten, kita bisa belajar bagaimana seharusnya memperlakukan seorang gay, lesbian, biseksual, maupun transgender. Bahwa mereka memiliki hak yang sama di muka bumi.

Sama seperti heteroseksual, mereka juga punya hak hidup dan sepenuhnya dilindungi hukum dan HAM. Bukan malah didiskriminasi, dihakimi, bahkan dipersekusi.

***

Ngainten adalah seorang ibu yang luar biasa. Kami mendapat kesempatan bertemu dengan beliau atas jasa baik seorang aktivis, saat masih dalam suasana Hari Ibu.

Mendengar cerita Ngainten tentang keikhlasan dan kesabaran serta mau mengerti pilihan hidup putranya adalah sebuah kemewahan hidup.

Bagaimana beliau juga harus menghadapi semua cibiran dan pandangan yang merendahkan dirinya dan putranya, kemudian memilih berdiri paling depan memeluk putranya dengan penuh kasih sayang.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.