‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

Ilustrasi (JC Gellidon via Unsplash)

Topi mahal, sepatu branded, kaos kece, jam tangan mewah, terus memangnya kenapa?

Bagi anak muda yang menggilai tren berpakaian yang sedang hype agar terlihat stylish dan kekinian itu biasa. Tolong, jangan kaget dengan harganya. Fenomena hypebeast ini adalah potret nyata.

Mengikuti gaya hidup dan busana ala hypebeast menjadi wajib hukumnya bagi sebagian anak muda – kaya tentunya. Nggak peduli kaya atas hasil usaha sendiri, jaga lilin, atau memang orang tuanya yang tajir melintir.

Aku membeli, maka aku eksis.

Belakangan, fenomena hypebeast tumbuh subur di Indonesia, negara yang katanya berkembang. Berkembang terus dari dulu, kapan majunya? Eh tapi mulai ada kemajuan sih, terutama di kalangan anak-anak muda hypebeast.

Yah, setidaknya maju dalam urusan berhias diri dengan produk branded dari ujung kepala hingga ujung kaki. Maju kan? Mengkiblat ke negara maju, maksudnya.

Sebagai bagian dari konstruksi budaya dalam era globalisasi ini, fenomena hypebeast menawarkan sisi ‘kemapanan’ dalam berbusana dan bergaya hidup. Coba bayangkan, baju hingga sepatu merek ternama dari luar negeri itu mampu menghipnotis saku para pemujanya.

Misalnya, untuk memakai sepatu seperti yang dipakai Kanye West. Memang berapa harganya? Paling di atas Rp 10 juta. Yah, sedeng lah. Buktinya, banyak yang hunting.

Ntap!

Konon, setelah berhasil mendapatkan produk incarannya, mereka memikirkan bagaimana mengintervensi ruang publik supaya dapat pengakuan. Jalan-jalan di pusat perbelanjaan sambil ngegaya pakai busana hypebeast, misalnya, menjadi sebuah kesenangan yang tak terkira.

Namun, yang belum terjawab adalah pertanyaan seputar apa makna mengadopsi kultur hypebeast ini? Apa iya, hanya karena itu sedang ngetren di luar sana, sehingga bisa menempatkan mereka dalam kelas sosial tertentu di sini?

Atau, jangan-jangan, mereka justru mengalami apa yang disebut krisis identitas?

‘Aku membeli, maka aku eksis’ mungkin jadi tagline utama soal bagaimana reproduksi budaya dari ekspansi kapitalis yang dipertontonkan melalui kultur hypebeast ini. Nggak peduli berapa banyaknya lembar rupiah yang dihabiskan, yang penting happy dan status sebagai kelas sosial yang ‘mapan dan sejahtera’ diakui.

Bukankah itu sangat akrab dalam keseharian kita, dimana kesejahteraan akan tercapai dengan sendirinya ketika kesejahteraan individu terpenuhi? Dalam konteks ini adalah kebebasan ekonomi, lebih spesifik kebebasan membeli barang.

Terus, di mana letaknya krisis identitas? Apa itu cuma ungkapan dari sobat-sobat missqueen kepada sobat khayya saja?

Krisis di sini ditempatkan sebagai suatu kondisi dimana identitas yang ada sekarang, digugat. ‘Siapakah aku’ dan ‘bagaimana aku dapat berbeda dari yang lain’ kemudian dipersoalkan.

Bagi pengkaji cultural studies seperti Chris Barker, menjelajah identitas berarti menyelidiki ‘how do we see ourselves and how do others see us? Di sini artinya, pandangan kita soal diri sendiri adalah identitas diri, sedangkan pandangan orang lain dan harapan orang lain menyangkut diri kita adalah identitas sosial.

Berdasarkan pandangan ini, identitas sepenuhnya adalah konstruksi sosial budaya. Tak ada identitas yang dapat mengada di luar representasi atau akulturasi budaya.

Kalau budaya dikatakan sebagai nilai kehidupan yang bermakna, maka kultur hypebeast di mata anak muda telah berhasil mengkonstruksi cara berpikir tentang makna dari sebuah budaya demi menamakan identitas diri dan sosialnya.

Hal yang agak senada dituturkan oleh seorang sosiolog bernama Anthony Giddens. Ia memahami identitas sebagai sebuah proyek diri. Identitas tercipta karena adanya kemampuan untuk mempertahankan narasi diri.

Identitas diri berusaha menjawab beberapa pertanyaan: Apa yang akan dilakukan? Bagaimana melakukannya? Akan menjadi siapakah aku? Implikasi dari pandangan Giddens ini merujuk bahwa identitas merupakan cara berpikir perihal diri.

Melalui cara pandang yang demikian, pantas saja anak muda sekarang terhipnotis agar terus membeli. Anggapan memakai sepatu berwarna putih dari sebuah merek terkenal yang menjadi salah satu ciri kultur hypebeast di kalangan anak muda seolah memantapkan langkah kaki dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

Bahkan, bagi yang tak mampu membeli produk ori, tersedia pula yang KW. Dan, laku!

Coba perhatikan, kalau kamu datang ke resepsi mantan, eh teman, banyak sekali anak-anak muda yang mengenakan jas dengan dipadupadankan dalaman kaos polos plus sepatu putih berkilau. Bisa ori, bisa KW, you know lah. Tapi, pertanyaannya, apa kabar batik di kalangan anak muda sekarang?

Alhasil, pemahaman anak-anak muda soal makna identitas begitu tereduksi di era kekinian. Fenomena hypebeast terlanjur jadi kultur yang melanggengkan narasi krisis identitas.

Sebab, apa yang ditularkan dari akulturasi budaya di luar sana secara otomatis berdampak pula dengan cara berpikir. Sifat-sifat seperti individualis dalam kehidupan sosial adalah salah satu cirinya.

Tanpa maksud memandang sama bahwa penganut hypebeast seperti itu, tapi setidaknya semua sama untuk urusan tampil kece dan instagrammable. Semoga itu bisa diimbangi dengan munculnya ide dan gagasan brilian demi kemajuan bangsa sendiri, aih gokil!

Bahwa mengikuti arus zaman tanpa filter yang rapat adalah logika yang terkonstruksi dari kultur hypebeast ini. Singkat kata, selama itu menjadi tren dan idola, sampai kapan pun penganut kultur ini tak akan absen mengikuti, kecuali hidayah datang. (( hidayah ))

Jika itu yang memang terjadi, ya jangan kaget kalau anak-anak muda menjadi anti sosial. Lantas, bagaimana mau bicara nasionalisme, lha wong bicara fesyen saja sudah disetir?

Situasi tersebut bisa membuat bangsa ini menjadi lemah dan tak beridentitas. Yang ada malah melanggengkan konsumerisme, hedonisme, individualisme, dan tumpul nalar kritis.

Maka, bangunlah kultur pendidikan yang menegakkan local wisdom dan menjunjung nilai kebangsaan. Dan, negara pun harus hadir dengan cara membangun ekonomi yang kuat, yang bikin rakyatnya sejahtera secara merata. Bukan ekonomi yang cuma angka-angka.

Seperti kata Bung Karno, sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat selayaknya berkepribadian dalam berkebudayaan. Ini semata agar identitas kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdiri tegak di tengah benturan budaya.

So, baju dan sepatumu harganya berapa?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.