Hujan Air Mata di Penjara

Hujan Air Mata di Penjara

Ilustrasi CIW (the Bureau of Corrections)

Ini adalah kisah tentang sebuah harapan yang sarat nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah peristiwa yang mungkin sebagian dari kita lupa bahwa ada saudari kita, seorang ibu, yang mengalami kesulitan di negara lain.

Kisah ini pertama kali ditulis di Facebook oleh Anis Hidayah, seorang aktivis hak asasi manusia dan pendiri Migrant Care. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, mulai dari kasus itu sendiri hingga tentang pentingnya keluarga.

Yang pasti, sebelum membaca ini, jangan lupa siapkan tisu ya gaes…

***

Dwi Wulandari, ibu dua orang anak perempuan, 6 tahun lalu (29 September 2012) tertangkap di bandara Manila, karena kedapatan membawa 6 kg kokain. Saat ditangkap, Dwi memang tidak tahu bahwa di dalam kopernya ada kokain. Ingat kasus Marry Jane? Iya sama kayak Dwi.

Pada 2012, Dwi direkrut oleh tetangganya bernama Erna untuk dipekerjakan ke Malaysia. Dwi dibelikan tiket pesawat ke Malaysia lewat Surabaya. Baru dua hari di Malaysia, Dwi dibelikan tiket untuk ke India, katanya untuk membantu majikannya yang bisnis sari.

Namun kian mencurigakan, karena kemudian Dwi diminta traveling ke beberapa negara hingga ke Peru. Dari Peru, Dwi diminta ke Manila. Dalam perjalanan ke bandara Peru, seseorang yang tidak dikenal menitipkan barang yang harus diantar ke Manila.

Setelah melalui proses hukum yang panjang, pada 22 Juni 2017, Regional Trial Court Pasay City Philipina memutus penjara seumur hidup bagi Dwi. Pengacara yang membantu Dwi (public lawyer) mengajukan banding, karena putusan ini dirasa tidak adil, mengingat posisi Dwi sebagai korban. Proses banding sampai saat ini masih berjalan dan diperkirakan memakan waktu 1-2 tahun.

Saat Dwi memutuskan untuk berangkat bekerja ke Malaysia (2012), anaknya yang kedua baru berusia 1 tahun. Sementara anaknya yang besar baru lulus SD. Saat ini sudah kelas 3 SMA dan mendaftar PMDK di Unbraw dan Unej, semoga diterima.

Rabu kemarin (14/03/18), saya, cak Nur Harsono, Ibu Pujiastuti (Ibunda Dwi), dan kedua anak Dwi (Riska 17 tahun dan Fafa 6 tahun) berangkat ke Manila untuk visit Dwi di penjara.

Setelah melewati separuh malam di pesawat dari Jakarta ke Manila dan hampir tidak bisa memejamkan mata, jam 06.00 paginya kami disambut Manila dengan langit yang cerah dan hangat.

Dari bandara Manila, kami menuju wisma tamu KBRI Manila untuk mandi, ganti baju, dan sarapan. Pagi itu juga kami langsung meluncur ke penjara perempuan di Mandaluyong City, atau CIW (Correctional Institution for Women).

Sekitar 45 menit perjalanan dari KBRI Manila menuju penjara tersebut, tentu saja karena kami melewati jalur-jalur tikus biar tidak kena macet. Sudah mafhum bahwa Manila dan Jakarta adalah kota kembar macet.

Untuk memasuki kawasan penjara, melewati pasar tradisional yang berjualan sayur mayur layaknya Jatinegara, tapi di sini lebih kumuh. Setelah melewati pasar, masih melewati perkampungan yang kata cak Nur Harsono lebih kutho (kota) dari Selopuro (sebuah kecamatan di Blitar), hehehe.

Sepanjang perjalanan ke Mandaluyong, di pinggir-pinggir jalan dan di depan kantor pemerintah dipenuhi spanduk Women’s March berwarna ungu. 2018 national women’s month celebration. “We Make Change Work for Women”. #womenmakechange

Tibalah kami di penjara yang kami tuju. Tak ada pagar tembok besar nan angker atau plang megah yang besar sebagai penanda penjara, seperti penjara di Cipinang. Di CIW Mandaluyong ini, gerbangnya biasa seperti gerbang rumah biasa, tidak tinggi, dicat hijau segar, sama sekali tidak angker.

Sebagai pengunjung, kami (saya, cak Nur Harsono, Ibunda Dwi Wulandari, dan kedua anak Dwi (Riska 17 tahun dan Fafa 5 tahun), serta 3 orang pegawai dari KBRI harus registrasi. Kami harus mengisi formulir lengkap dengan tanda tangan dan cap jari (di sini masih ada cap jari, hehehe), menyerahkan paspor, dan difoto dengan background CIW.

Bayangan saya akan dapat PAS layaknya kartu ATM dengan proses yang demikian rijid. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya PAS jadi, dan ternyata kertas biasa yang ditulis tangan oleh petugasnya, hehehe.

Untuk menuju ke ruang visit, perlu melewati beberapa petugas, semuanya ramah dan menyapa kami dengan bahasa Tagalog. Maklum, wajah kita hampir tak beda dengan orang Philipina. Sekali lagi ada security sebelum pintu masuk, semuanya perempuan. Kami diperiksa satu-satu, tas kami, dan HP harus dititipkan di loker. Di ruang tamu itu ada beberapa kursi dan meja.

Kami sudah duduk melingkar dan menyisakan 1 kursi untuk Dwi yang masih dipanggil oleh petugas. Saya melirik ibunda Dwi, matanya kosong, pucat, lemas. Saya juga melirik ke kedua anaknya Dwi, tegang dan sesekali menunduk.

Sekitar 5 menit kemudian, petugas mendampingi Dwi menemui kami. Dari kejauhan, saya sudah tahu bahwa air mata Dwi sudah basah dan tumpah saat memeluk anaknya, sangat lama. Semua yang ada di sana menangis. Air mata saya jatuh, dada sesak sekali, di kejauhan bayangan Marry Jane, Mery Utami seperti melintas.

Suasana makin haru saat Dwi memeluk Fafa (anaknya yang kini beranjak 6 tahun) yang selama ini hanya mengenalnya dari suara karena saat ditinggal, Fafa masih bayi. Fafa dipeluknya lama sekali, lalu dilepas sembari melihat wajahnya dan bergumam pendek, “Kamu sudah besar sekali, sekolah yang pintar ya nak”, dipeluknya lagi hingga berkali-kali, kemudian dicium bertubi-tubi sambil terus menangis.

Kemudian Dwi bersalaman dengan ibunya, tentu juga memeluknya dan masih terus menangis. Kami semua tak saling bicara mungkin 15 menitan, karena semua rasa diwakili oleh air mata. Ruang tamu bercat putih ukuran 3×7 meter yang plafonnya mulai keropos-keropos itu dihujani air mata. Sebagai seorang ibu, saya tentu bisa merasakan situasi ini.

Setelah 15 menit, secara perlahan obrolan mulai berlangsung. Namun, ibunda Dwi tak banyak bicara, nampak lemas, karena tadi pagi tidak sarapan karena badannya kurang sehat.

Ibunda Dwi memang mendadak sakit, kita menduga karena beban berat yang terpendam selama bertahun-tahun. Karena persis sejak Dwi di penjara, kedua anak Dwi diasuh olehnya. Suami Dwi pulang ke daerah asalnya di Bojonegoro.

Tidak hanya mengasuh anaknya Dwi dan mencari biaya hidup dan sekolah mereka, dengan jualan sayur, ibunda Dwi juga secara rutin mengirimkan uang ke penjara Dwi karena banyak kebutuhan sehari-hari yang tidak disediakan oleh penjara Pasay City. Seperti air minum, pembalut, telpon ke rumah, dan lain-lain.

Dwi baru pindah ke CIW 7 bulan lalu pasca vonis dijatuhkan. Tidak hanya itu, kakaknya Dwi yang memiliki 3 orang anak yang tinggal bersama ibunda Dwi, menikah lagi. Menantu dan ketiga anaknya tinggal bersama ibunda Dwi, sementara kakaknya lebih banyak tinggal bersama istri keduanya.

Bisa dibayangkan, perempuan sekuat apa ibunda Dwi ini? Dan, bagaimana perasaannya saat ketemu Dwi di sini?

Mungkin tumpah antara sedih, down, marah, dan lain-lain, sehingga jatuh sakit dan tidak mau makan sama sekali. Tiga hari kami disini, ibunda Dwi memang tidak sehat dan banyak diam.

Sepulang dari kunjungan hari pertama, Fafa bilang bahwa besok kalau berkunjung ke penjara lagi, dia akan menginap di sana bersama bundanya (Dwi). Kami hanya bisa saling berpandangan dan menahan air mata merespon keinginan Fafa.

Di penjara itu, ada 3000-an tahanan perempuan dengan 3 tipe seragam. Orange (seperti yang dipakai Dwi), biru bagi yang dinyatakan akan bebas dalam 2 tahun, dan cokelat bagi yang akan segera bebas.

Selain mengunjungi Dwi di penjara, kami juga berkesempatan bertemu dengan pengacara yang selama ini mendampingi Dwi dan pengacara baru yang akan membantu dalam proses banding. Pengacaranya optimis bahwa dalam banding bisa dibebaskan, karena posisi Dwi sebagai korban sebagaimana Marry Jane.

Dwi Wulandari saat menggendong anaknya (Facebook/Anis Hidayah)

***

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.