Bagaimana Seharusnya Menghadapi Hotman Paris ketika Jadi Selebgram

Bagaimana Seharusnya Menghadapi Hotman Paris ketika Jadi Selebgram

Hotman Paris (Instagram/hotmanparisofficial)

Saya rasa sebagian besar netizen mengetahui sosok atau tingkah laku ‘Bling-bling Lawyer’ ini, bahkan ada yang menjadikan dia sebagai panutan. Memang, apa hebatnya dia?

Belakangan ini, jagat Instagram dihebohkan oleh akun hotmanparisofficial, akun asli Hotman Paris, seorang pengacara papan atas dengan bayaran yang tinggi. Sampai-sampai dia dijuluki ‘Pengacara 30 Miliar”.

Akun dengan jumlah pengikut lebih dari 1,1 juta itu menyuguhkan ratusan video dengan durasi kurang lebih satu menit yang menghipnotis khalayak untuk berkunjung demi menikmati postingan atau hanya sekadar mencari bahan gunjingan.

Tak heran, jika Hotman Paris menjadi sosok yang kontroversial pada setiap unggahannya. Terlebih, pengacara yang sebetulnya fokus pada bidang hukum bisnis internasional ini sering didaulat oleh para selebritas untuk membantu menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan hukum. Ya iyalah, masa urusan asmara.

Namun, di tengah popularitasnya sebagai pengacara, Hotman Paris kini juga bertransformasi menjadi selebgram. Ya kira-kira begitulah sebutannya.

Aksinya memang kian mengundang reaksi publik. Prestasi, yang kadang terbalut sensasi dan kontroversi, membuat namanya besar hingga sekarang. Selain mereka yang suka dengan aksinya, tentu dia juga tak lepas dari banyaknya haters.

Tapi, kalau menurut saya, bukan karena Hotman yang melulu kebanyakan gaya, melainkan banyak netizen Indonesia yang lebih suka melihat orang dari sisi buruknya dibandingkan kebaikan yang kadang tak kasat mata.

Maka benar kata pepatah ‘karena nila setitik rusak susu sekaleng’. Ada kandungan susunya nggak itu ya?

Keadaan ini membuat netizen lebih senang untuk bergunjing saat tak punya kesibukan. Bahkan, jika kasusnya begitu renyah, netizen suka cari-cari dukungan orang sekampung untuk ikut campur. Padahal, belum tentu ada hubungannya juga dengan sebagian netizen.

Hidup seolah lebih bermakna ketika terlibat urusan orang lain, tanpa sadar urusan sendiri butuh terselesaikan. Lupa, bulan depan masih ada yang harus diselesaikan. Ya cicilan apartemen lah, Lamborghini Aventador, iPhone X, ehm.

Bisa jadi karakteristik masyarakat kita sebagai tukang ngintip alias bangsa voyeur. Begitu senangnya stalking kehidupan orang lain, kalau bisa larut dalam dramanya. Makanya kalau benci sama figur publik nggak usah pake banget. Sebab, dunia ini panggung Sandiaga, eh sandiwara.

Mari kita kembali ke topik awal…

Hotman Paris, selain mencari perhatian publik dari sisi hidupnya yang glamor, ia juga kerap dikelilingi oleh perempuan berparas cantik. Itu tampak pada beberapa video unggahannya di Instagram, media sosial yang lagi kekinian.

Hotman bahkan bergaya layaknya Don Juan yang memamerkan kekayaan dan terkesan sebagai penakluk hati perempuan. Asalkan tidak menjadikan perempuan sebagai objek semata, urusan pamer kekayaan sah-sah saja.

Faktanya, beliyau memang punya mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mehol, dan suka plesiran di luar negeri dengan fasilitas kelas atas. Asalkan itu dari hasil pekerjaan yang halal, ya seharusnya selow-selow aja.

Kalau ada anggapan ‘Nggak apa-apa dapet sedikit asalkan halal’, berarti boleh juga dong kalau ada anggapan lain ‘Nggak apa-apa dapet banyak asalkan halal’?

Saya sepakat dengan opini bahwa orang yang pamer harta perlu didukung, jangan dinyinyirin. Kalau perlu pamerkan semua hartanya. Bukankah itu bagian dari akuntabilitas dan transparansi publik? Gokil!

Begini ya… Daripada disembunyikan lalu nggak bayar pajak, kan lebih baik dipamerin ke publik. Jadinya petugas pajak tahu. Kalau diumpetin kayak koruptor-koruptor yang tinggal di sel mewah itu, gimana?

Ingat kejadian beberapa waktu lalu, ketika seorang komedian mengungkap hypercar dengan cara mengunggah foto mobil senilai puluhan miliar itu yang parkir di rumah seorang selebritas beken?

Tak lama kemudian, akun resmi Direktorat Jenderal Pajak mengomentari foto dan cuitan si komedian, yang intinya titip pesan ke selebritas tersebut untuk melaporkannya dalam SPT tahunan.

Ya, meski belakangan diketahui bukan mobil milik si pesohor, tapi di situlah inti dari ‘orang kaya yang pamer harta harus didukung’. Lagipula, petugas pajak sekarang juga milenial, keleus…

Tapi saya yakin Hotman Paris adalah warga negara yang taat hukum. Ya iyalah, beliyau kan (sangat) melek hukum. Jadikan saya asistenmu, Bang! Haha…

Belakangan, selain bertransformasi menjadi selebgram, Hotman Paris tampaknya lama-lama mirip motivator ulung. Mungkin tanpa disadari, dia seolah ingin memberi inspirasi bahwa urusan rezeki harus terus dicari. Jangan pasrah begitu saja. Itu kalau kita bicara ukuran materi.

Lha, dia yang sudah tajir melintir saja masih terus mencari, bagaimana kita yang hidupnya pas-pasan?

Di sisi lain, Hotman yang bergelimpangan harta juga masih menyempatkan berbagi ilmu dan memberikan bantuan hukum kepada warga. Dia menyisihkan waktunya untuk datang ke kedai kopi di bilangan Jakarta Utara guna menerima warga yang butuh bincang hukum.

Warga yang butuh perlindungan hukum bukan hanya dari wilayah Jakarta, melainkan dari daerah yang jauh, semata-mata ingin mengadu kepada Hotman. Ini menunjukkan bahwa kedudukan yang sama di hadapan hukum harus berdiri tegak.

Yuk, berbenah diri, jangan kebanyakan nyinyir, apalagi caci-maki. Kali aja dengan mengurangi gibah, kita dapat pahala dan bisa fokus sama masa depan.

Btw nih, Bang, kalau mau endorsement tarifnya berapa?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.