Cara Membalas Hinaan Fisik, meskipun Dia Guru atau Ustadz

Cara Membalas Hinaan Fisik, meskipun Dia Guru atau Ustadz

Ilustrasi (gq.com)

Ada banyak kriteria yang mesti dipenuhi seseorang agar ia bisa dilabeli sebagai guru. Itu jika anda setuju. Misalnya, ia harus punya integritas, kemauan mendidik, upaya memberi contoh yang benar, dan yang paling penting bisa menularkan adab.

Saat kecil salah seorang guru ngaji saya pernah bilang, “Kamu boleh pintar mengaji, tapi kalau kamu gak salim sama ibumu, percuma.”

Ucapan ini ia lontarkan saat melihat saya diantarkan belajar mengaji. Begitu sampai di langgar, saya langsung berlarian bersama teman-teman tanpa mencium tangan ibu.

Ketika itu, saya masih kelas dua SD, tapi guru ngaji saya itu bicara seolah-olah saya adalah orang dewasa yang setara. Sejak saat itu saya nyaris tak pernah lupa mencium tangan ibu, baik pergi ataupun datang ke rumah.

Mutu seorang guru tentu bisa diukur dari murid yang dihasilkannya. Meski ini tidak selalu, ada banyak guru brengsek yang menghasilkan murid yang beradab. Sebagaimana guru yang baik menghasilkan murid-murid biadab. Tapi seburuk-buruk guru adalah orang yang hanya bisa melontarkan kebencian dari lisannya.

Seorang ustadz, guru agama, yang telah menempuh pendidikan ilmu keagamaan semestinya juga diajari tentang budi pekerti, tentang adab.

Tentu kita bisa berdebat, betapa artifisialnya adab, betapa budi pekerti itu konstruksi peradaban. Tapi, nilai yang hendak diperjuangkan dari adab dan budi pekerti adalah usaha menghormati orang lain, memperlakukan mereka seperti kita ingin diperlakukan.

Seorang teman pernah bercerita, dalam tradisi pendidikan agama di pesantren, seorang santri akan melalui banyak tahapan pendidikan. Untuk bisa mengerti ilmu agama, mereka punya piranti-piranti yang mesti dikuasai, seperti nahwu, sorof, balaghoh, mantiq, dan sebagainya.

Piranti ini diajarkan secara bertahap sesuai kapasitas dan level pendidikannya. Tapi jauh sebelum semua ini dikuasai, seorang santri harus belajar adab.

Adab atau ahlak atau budi pekerti, terserah mana yang anda suka, dipelajari sebagai dasar. Kerendahan hati itu akan membentuk perilaku kita, cara pikir, dan juga sikap kita dalam menghadapi masalah.

Itu mengapa di pesantren, kata kawan saya itu, kitab Akhlaqul lilbanin dan Ta’lim muta’alim hukumnya wajib untuk dijalankan.

Kitab-kitab ini secara garis besar berisi mengenai bagaimana berperilaku, adab, dan akhlak kepada orang lebih tua, lebih muda, atau orang-orang yang dianggap sebagai ‘guru’. Relasi sosial terhadap masyarakat sekitar dan bagaimana semestinya dilakukan.

Tidak berhenti sampai di situ, biasanya dalam mendidik soal adab dan ahlak, kyai-kyai di pondokan akan menyertakan bagaimana perilaku Nabi. Supaya ada contoh yang bisa ditiru.

Tradisi ini terbentuk selama berpuluh tahun. Seorang guru menurunkan pada santrinya, santrinya jika kelak jadi guru dan membuka pesantren baru, akan mengajarkan ini kepada muridnya.

Amal ini akan turun menurun, amal jariyah, kebaikan yang disebarkan dengan niat tulus. Itu jika anda percaya pahala. Tapi saya percaya, hal baik akan membuahkan hal baik.

Mengapa tradisi ini penting? Karena bagi saya yang paling susah dalam kehidupan beragama itu dua. Pertama bangun subuh untuk sholat, yang kedua menjaga lisan.

Lihat keburukan orang, ingin sekali membaginya kepada yang lain. Menemukan aib, tak tahan untuk kemudian menyebarnya kepada yang lain. Belum lagi kalau sudah biasa memaki, waduh, susah betul.

Misalnya, menghina tampilan fisik seseorang yang bergulat dengan imannya sendiri sebagai perempuan pesek yang jelek.

Atau, menyebut bahwa seorang istri yang ditembak mati pantas dibunuh karena melawan suaminya. Atau, memberikan label perebut laki orang hanya karena kita ingin fit in dalam pergaulan grup wasap.

Cara terbaik membalas keburukan adalah dengan baik-baik saja, dengan tidak peduli, dan terus menjalani hidup seperti tidak ada yang terjadi.

Kalau kamu disebut pesek, disebut jelek, ya sudah, cara terbaik membalasnya adalah dengan menahan diri. Ikutan mengejek bentuk estetik hidung orang yang membenci kita ya gak bikin hidung jadi mancung.

Jadi waras di tengah peradaban yang memuliakan pergunjingan dan caci-maki memang susah. Itu mengapa mengingat hal-hal kecil dari bagaimana kita dididik oleh para guru sangat penting.

Guru ngaji saya mengajarkan bahwa memuliakan orang tua, terutama ibu, adalah kunci kebahagiaan. Sementara ibu mengajarkan bahwa sambal terbaik adalah yang tidak digoreng cabainya.

Setiap dari kita mendapatkan guru sesuai dengan kapasitas kita. Jika kita gemar dengan hal yang rendah seperti pergunjingan, ya mungkin akan mendapatkan mutu guru yang rendah juga. Kualitas guru akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya ilmu. Semoga begitu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.