Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Ilustrasi (agoengadryirawan76 via Pixabay)

Alimatul Qibtiyah, Lecturer in Communication Studies, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

***

Hijab di Indonesia menjadi lebih populer sejak dua dekade belakangan ini. Sejarah mencatat bahwa budaya pemakaian hijab sebenarnya ada sejak abad ke-17. Namun demikian, perdebatan terkait dengan hijab ini masih terjadi, walaupun pemakai hijab di Indonesia semakin banyak dari tahun ke tahun.

Seorang kepala sekolah di Provinsi Riau mendapatkan kecaman  setelah menyuruh siswi di sekolahnya menggunakan hijab, walaupun siswi tersebut bukan muslim. Sementara itu, publik juga dikejutkan dengan kasus seorang atlet judo perempuan dari Aceh yang didiskualifikasi dari pertandingan di Asian Para Games 2018 karena memakai hijab.

Artikel ini menganalisis budaya penggunaan hijab di Indonesia dan mengapa sampai saat ini masih menjadi kontroversi.

Meningkatnya Bisnis Pakaian Muslim

Tidak ada data yang pasti terkait dengan jumlah pemakai hijab di Indonesia secara menyeluruh. Namun, sebuah survei pada 2014 melaporkan, ada sekitar 63,58% dari 626 responden perempuan muslim yang mengatakan bahwa mereka telah memakai dan akan memakai hijab dan hanya sekitar 4,31% dari mereka yang tidak akan memakai hijab.

Tren peningkatan pemakaian hijab ini menjadi peluang bisnis pakaian yang sangat menggiurkan. Salah satu pasar hijab di Bandung, Jawa Barat melaporkan bahwa peluang bisnis meningkat lima kali lipat dari Rp 3 miliar pada 2012 menjadi Rp 15 milyar pada 2018.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Hal ini juga berdampak positif terhadap perkembangan industri mode yang diekspor dari Indonesia. Pada 2014, nilai ekspor Indonesia untuk pakaian muslim mencapai US$ 7,18 miliar. Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah Bangladesh dan Turki.

Pada 2020, Indonesia diperkirakan akan menjadi pusat pakaian muslim di dunia.

Ragam Model Hijab

Berdasarkan pengamatan saya, paling tidak ada tiga macam model hijab di Indonesia.

1. Hijab sederhana. Hijab model ini berukuran pendek sebahu dan ada banyak warna dan model. Model jenis ini paling populer dan pemakainya sampai sekitar 70% muslimah.

2. Hijab konservatif. Hijab ini lebar, menutup seluruh tubuh bagian atas dan biasanya warnanya putih, hitam, dan cokelat. Beberapa orang menamakannya sebagai hijab syar’iatau hijab yang berdasarkan ajaran Islam. Hijab model ini digunakan oleh sekitar 10% oleh muslimah Indonesia.

3. Hijab modis. Hijab model ini mempunyai beragam model dan warna. Kalangan menengah ke atas biasanya menggunakan hijab model ini. Harganya beragam dari berkisar Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah.

Hijab telah menjadi bagian gaya hidup bagi banyak perempuan muslim di Indonesia. Banyak selebriti yang mulai memakainya. Para selebriti ini kemudian menjadi acuan fashion hijab buat masyarakat.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Salah satunya adalah desainer Dian Pelangi. Dian dan 30 temannya mendirikan Hijaber Community (HC) di Jakarta pada 2010. HC telah membuka banyak cabang di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Padang, Medan, Lampung, Pontianak, dan Makassar. Anggotanya sudah mencapai lebih dari 6.000 orang.

Sejarah Hijab di Indonesia

Berdasarkan catatan sejarah, hijab pertama kali dipakai oleh seorang muslimah bangsawan dari Makassar, Sulawesi Selatan, pada abad 17.

Cara berhijabnya lalu ditiru oleh perempuan Jawa pada awal 1900-an setelah berdirinya organisasi perempuan muslim Aisyiyah, yaitu salah satu organisasi Islam terbesar yang sampai saat ini cukup berpengaruh di masyarakat melalui kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial, dan kesehatan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jean Gelman Taylor, seorang profesor di bidang sejarah dari Universitas New South Wales, Australia, menemukan bahwa tidak ada gambar hijab di foto-foto perempuan Aceh pada 1880-an and 1890-an. Sayangnya, Taylor tidak menjelaskan mengapa demikian.

Hanya beberapa pahlawan perempuan Indonesia yang memakai hijab pada masa lalu, banyak di antara pahlawan perempuan muslim justru tidak memakainya. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian hijab adalah sebuah pilihan personal.

Selama Orde Baru, pemerintah sempat melarang  pemakaian hijab di sekolah-sekolah. Pemerintahan di era Soeharto secara ketat mengendalikan isu agama di arena publik. Pemerintah beranggapan bahwa hijab adalah simbol politis yang berasal dari Mesir dan Iran yang situasi politiknya tidak sama dengan situasi budaya Indonesia.

Baca juga: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Pemerintah saat itu khawatir bahwa hijab akan dijadikan sebagai identitas politik yang akan mengganggu stabilitas pemerintah.

Setelah itu, pemakaian hijab semakin diterima masyarakat. Tidak lama kemudian, hijab telah menjadi tren terbaru di kalangan para muslimah. Hal ini juga didukung oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang menyatakan bahwa hijab adalah pakaian ideal untuk muslimah.

Pengakuan dari kedua organisasi inilah yang menjadikan semakin banyak orang yang menerima hijab sebagai pakaian ideal bagi muslimah di Indonesia.

Alasan Pemakaian Hijab

Seorang antropolog Saba Mahmood dari Mesir menyatakan bahwa banyak muslimah yang memakai hijab karena alasan identitas agama dan ekspresi kesalehan seseorang. Artinya dengan menggunakan hijab, seorang muslimah mempercayai bahwa dirinya lebih saleh daripada mereka yang memutuskan untuk tidak menggunakannya.

Banyak muslimah Indonesia juga mempunyai alasan ini saat memutuskan untuk menggunakan hijab. Survei pada 2014 menyebutkan bahwa 95% responden dari para hijaber mengatakan bahwa alasan menggunakan hijab adalah karena alasan agama. Sebagian yang lain menggunakan hijab karena alasan keamanan, kenyamanan, dan alasan politis.

Seorang feminis sekaligus ilmuwan Indonesia, Dewi Chandraningrum menuliskan di bukunya yang berjudul Negotiating Women’s Veiling, Politic & Sexuality in Contemporary Indonesia, bahwa sebagian politikus perempuan terkadang menggunakan hijab untuk keperluan politis. Para politikus perempuan ini berharap mereka akan mendapatkan suara pemilih dengan penampilannya yang religius.

Artikel populer: Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Otonomi Perempuan

Walaupun perempuan muslim Indonesia dapat memakai jilbab dengan lebih bebas di tempat umum saat ini, usaha-usaha yang mengatur cara pemakaiannya masih saja terjadi.

Salah satu contohnya, akhir tahun lalu Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan pegawai perempuan muslim yang memakai hijab untuk memasukkan kerudungnya ke dalam baju seragamnya.

Namun, baru beberapa hari diberlakukan, kebijakan ini menuai protes, karena sebagian pegawai merasa nyaman kalau mereka mengenakan hijab sampai menjulur ke dadanya. Dan, akhirnya kementerian mencabut kebijakan tersebut.

Berbagai macam tekanan terkait dengan model berhijab datang dari masyarakat sendiri. Kalangan konservatif mengklaim bahwa hijab yang longgar dan lebar adalah yang paling baik dan benar, sesuai dengan ajaran Al-Quran.

Namun, kalangan ilmuwan progresif dan feminis berusaha melawan klaim ini karena khawatir klaim tersebut akan menghalangi kebebasan perempuan untuk menentukan apa yang ingin dikenakannya.

Bagi saya, segala jenis tekanan yang ada, baik yang menyangkut dorongan untuk memakai atau tidak memakai hijab ataupun bagaimana cara memakainya serta model seperti apa yang digunakan, dimaksudkan untuk mengendalikan tubuh perempuan.

Jika kita berkaca pada para pahlawan perempuan muslim Indonesia pada masa lalu terkait dengan keputusan mereka untuk memakai hijab atau tidak, kita seharusnya mendorong para perempuan sekarang untuk memilih memakai atau tidak memakai hijab. Perempuan harus bebas memilih berdasarkan preferensi pribadi.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.