‘High Heels’ Hanya Meninggikan Badan, Bukan Derajat Kehidupanmu

‘High Heels’ Hanya Meninggikan Badan, Bukan Derajat Kehidupanmu

Ilustrasi (Jurgen Rubig via Pixabay)

Mungkin ini terdengar remeh bagi yang merasa bukan perempuan, namun sebetulnya menyebalkan. Entah ini bentukan atau dampak dari sistem sosial atau apa, perempuan kayaknya selalu diadu dari berbagai segi.

Mulai dari tubuh kurus atau gemuk, lajang-nikah-janda, hingga punya anak atau tidak punya anak. Bahkan, untuk urusan gaya dan penampilan juga begitu. Antara make-up atau polos, feminin atau tomboy, berjilbab atau tidak, hingga urusan alas kaki: high heels atau flat.

Dulu saya termasuk orang yang nggak pernah dapat kerjaan yang mengharuskan pakai sepatu hak tinggi atau high heels. Bahkan, ketika mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak, lebih sering nggak pakai alas kaki, karena kebetulan kelasnya pakai lantai karet warna-warni.

Sebetulnya urusan pakai high heels atau flat itu pilihan setiap orang. Kalau memang nyaman menggunakannya, kenapa tidak? Namun, yang jadi masalah, high heels sudah dianggap sebagai fashion statement, terutama oleh perempuan sendiri.

Baca juga: Kami Dandan untuk Bersenang-senang, Bukan untuk Bikin Kalian Senang

Ada anggapan kalau perempuan mau terlihat seksi, profesional, mapan, atau apa-apalah itu, kudu pakai high heels. Yang nggak pakai karena memang tidak punya atau tidak suka, kerap disindir bahkan diejek.

“Cewek itu harus mau dan bisa pake high heels. Kalo nggak, bukan cewek namanya.” Kira-kira begitu kata mereka. Atau, bagi kelas pekerja, sering banget dibilang, “Kalau nggak pakai high heels, kelihatan nggak profesional.”

Entah dari mana pakem semacam itu, yang pasti hingga kini saya tetap perempuan, belum mendadak berubah jadi laki-laki hanya gara-gara nggak suka high heels.

Soal tampak profesional di kantor, bukankah itu menyangkut dedikasi dan integritas dalam bekerja? Bagaimana kita mampu menjalankan pekerjaan dengan hasil yang menguntungkan semua pihak, termasuk karyawannya dong, hehe…

Toh, nggak mungkin juga bekerja di kantor pakai sandal jepit yang unyu-unyu. Lagipula, sejak kapan tinggi atau rendahnya hak sepatu menentukan seberapa profesionalnya kamu dalam bekerja?

Jadi, tolong dong dibilangin kalau ada teman kamu, keluarga, atau orang lain yang masih beranggapan seperti itu. High heels hanya membuat tubuh kamu tampak tinggi. Itu saja.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Pada suatu waktu, saya pernah mencoba pakai high heels ketika beberapa kali wawancara kerja atau meeting. Habis itu terpaksa harus plesteran gara-gara kelingking kaki iritasi akibat kesempitan di ujung sepatu. Yang paling parah sampai harus merendam kaki di baskom isi air hangat campur garam.

Eh, sudah menderita begini, masih dicela juga…

“Payah, masa perempuan nggak tahan? Inget, beauty is pain.”

“Yahh, baru juga lima-tujuh senti. Belum yang 10 atau 12… atau stiletto.”

Nah, itu lagi premis ajaib yang sudah sering dikatakan banyak orang. Kenapa sih harus bersakit-sakit dahulu, tampil cantik kemudian? Terus mau tampil cantik buat siapa? Bukankah yang terpenting dari cantik itu kalau kita happy dan nggak meringis nyeri?

Terus, kenapa ‘bersakit-sakit dahulu, tampil cantik kemudian’ menjadi kompetisi antar perempuan? Perempuan yang paling tahan di atas sepatu hak paling tinggi seolah derajat kehidupannya otomatis juga lebih tinggi. Halah, nggak penting!

Padahal, kalau mau belajar sejarah, high heels dulu juga dipakai laki-laki, lho. Mulai dari tukang jagal hewan di zaman Mesir Kuno, pasukan Persia (biar bisa memanah lebih baik), hingga laki-laki bangsawan pada akhir abad ke-16 dan Raja Louis XIV pada tahun 1701.

Artikel populer: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Catherine de Medici, seorang bangsawati dan Ratu Prancis, juga memakai sepatu hak lima senti sewaktu pernikahannya. Alasannya hanya satu: biar nggak kalah jangkung sama calon suami.

Sepatu hak tinggi juga populer dan banyak digunakan para aristokrat pada tahun 1500. Tujuannya agar gaun panjang mereka tidak sampai menyapu lantai dan kotor saat dikenakan di luar ruangan.

Sementara itu, kalangan medis sudah membuktikan kalau keseringan pakai high heels lebih banyak ruginya. Punggung pegal-pegal, nyeri lutut, sakit pada otot betis, kena varises, sampai kemungkinan kena bunion di usia senja.

Itu lho, saat bentuk kaki berubah gara-gara keseringan dipaksa masuk ke sepatu sempit dalam waktu yang lama. Tulang di bawah jempol jadi menonjol ke samping dan rasanya sakit banget. Kalau mau sembuh, harus terapi atau operasi. Kata kamu beauty is pain, kan?

Dari segi kepraktisan, high heels juga lebih banyak ribetnya. Mau jalan susah, apalagi lari. Siap-siap saja kesandung atau keseleo bagi yang belum terbiasa atau terpaksa. Belum lagi, kalau harus menghindari pelaku kejahatan yang sialnya paling getol mengincar perempuan yang jalan sendirian di jalan.

Tapi, tetap saja, die hard fans sepatu hak tinggi beralasan, “Pakai di kantor aja, terus pas naik angkutan umum tinggal ganti sandal.” Yah, buat yang siap ribet karena kudu gonta-ganti pasangan, eh alas kaki, wis monggo…

Kalau saya? Makasih, deh. Mending punya kaki yang lebih sehat dan diri sendiri selamat. Kalau kamu?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.