Hidup Ini Dimulai dari Kisah LDR, maka Berhenti Menyalahkannya

Hidup Ini Dimulai dari Kisah LDR, maka Berhenti Menyalahkannya

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Ketika pasangan Youtubers Rakry dan Indy anget-angetnya bikin klarifikasi dengan video berjudul “Alasan kita selesai”, muncul kampanye #StopLDR di kolom trending Twitter. Gara-gara kegagalan satu pasangan Long Distance Relationship, LDR yang jadi kambing hitamnya.

Padahal, LDR hanyalah salah satu konsep dari banyaknya alternatif hubungan percintaan. Gagal atau suksesnya sebuah hubungan, itu tergantung yang menjalani.

Toh, Rakry dan Indy juga sekarang sudah menuai keuntungan dari Adsense melalui video bongkar aib mereka. Coba kalau mereka nggak LDR, Rakry nggak bakalan selingkuh, Indy juga nggak sampai minta putus. Mereka tetap bersama, menjadi tauladan relationship goals, tapi tidak seterkenal sekarang.

Video klarifikasi dua sejoli tersebut ditonton belasan juta orang karena respons warganet yang memang biasa kepo dengan urusan personal orang lain. Rakry dan Indy bisa melihatnya sebagai peluang bisnis. Kalau mereka mau balikan demi mempertahankan engagement dan memanfaatkan momentum, inilah saat yang tepat. Orang Indonesia pasti memaklumi kok.

Akhirnya, ketemu win-win solution: channel tetap dipegang berdua, nggak kehabisan bahan konten, dan penghasilan bisa dibagi rata. Alih-alih dituduh jadi konflik utama penyebab kegagalan hubungan percintaan, LDR malah jadi komoditi.

Baca juga: Kesamaan Fenomena Dimas Kanjeng dengan Pelaku LDR yang Taat

Jika mau berkaca ke belakang, tepatnya pada sejarah penciptaan manusia, kita bisa hidup dan berkembang biak karena nenek moyang kita kuat menjalani LDR pertama di muka bumi.

Bahkan, kala itu LDR tanpa teknologi gawai, pulsa, dan kuota internet. Hanya mengandalkan kekuatan cinta dan kerinduan semata serta mengharapkan terkabulnya doa-doa.

Terkisah Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga karena memakan buah terlarang akibat tipu daya iblis. Ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka dipisahkan oleh-Nya.

Konon, seperti dilansir di situs Wikipedia, Nabi Adam diturunkan di Sri Langka, sementara Hawa diturunkan di daerah Arabia. Bayangkan susahnya jadi sepasang manusia pertama di muka bumi. Sudah begitu, harus LDR pula.

Sebelumnya, nenek moyang kita tersebut hidup enak di surga. Namun, sebelum Hawa diciptakan, Adam justru merasa kesepian. Itulah alasan kenapa kita tidak dianjurkan memvonis orang lain masuk neraka dengan gampangnya. Sebab, jika benar nanti surga hanya jadi milik kita saja, kita bakalan kesepian dan menyesal tidak mengajak teman-teman yang lain.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Setelah 40 hari berpisah, Nabi Adam dan Hawa bertemu kembali di Jabal Rahmah. Setelah itu, mereka beranak-pinak, sampai sekarang saya bisa menulis artikel ini dan kalian membacanya. Kitorang basudara!

Mungkin waktu 40 hari terbilang singkat. Namun, untuk zaman dulu, waktu sesingkat itu pasti terasa lama. Apalagi untuk ukuran mantan penghuni surga. Ditambah belum bisa video call dan share location.

Nabi Adam dan Hawa jadi contoh LDR goals dan mengukuhkan bahwa LDR adalah tradisi tertua dalam sejarah umat manusia yang pantas dihormati. Selain dicontohkan oleh Nabi, LDR juga pernah dijalani oleh salah satu presiden Indonesia. Adalah Gus Dur yang pernah menikah jarak jauh dengan Bu Sinta Nuriyah.

Namun, rezim sekarang tidak pro-LDR. Bisa dilihat dari sikap Menteri Perhubungan yang meloloskan harga tiket pesawat domestik sampai melambung tinggi, bahkan harganya lebih mahal ketimbang penerbangan ke luar negeri. Masa iya pasangan yang LDR Padang-Jakarta harus ketemuan di Singapura atau Malaysia?

Namun, sisi baiknya, ‘penyintas’ LDR dituntut memutar otak untuk menggapai tiket pesawat yang ketinggian. Rindu berbanding lurus dengan kinerja. Semakin kangen ingin bertemu pasangan, semakin harus kerja keras cari uang untuk beli tiket.

Mungkin itulah makna motto Presiden Jokowi yang melantangkan “Kerja, Kerja, Kerja!” Sampai tiga kali kata “kerja”. Soalnya kalau hanya sekali kerja, nggak bisa ketemuan dong.

Baca juga: Memilih Pasangan Hidup Menggunakan Asas Pemilu

Bagi ‘penyintas’ LDR, jarak bukanlah masalah, yang terpenting dekat di hati. Saya sendiri yang sudah pengalaman menjalani hubungan dengan cewek sekota maupun beda kota, tidak terlalu mempermasalahkan perkara jarak. Sebab jarak terjauh bukanlah kota yang berbeda, melainkan hati yang tidak bertautan.

Saya pernah pedekate dengan cewek SMA yang satu kota. Sebut saja Popi. Suatu hari, saya ajak Popi ketemuan. Kebetulan waktu itu bulan puasa, jadi kami buka bersama. Lanjut nonton di bioskop. Sewaktu di bioskop, Popi dapat chat dari temannya: “Kamu jadi ketemuan sama Kak Haris? Dia orangnya gimana? Ganteng, nggak?”

Popi menunjukkan chat tersebut pada saya. Saya bilang, “Jawab aja.” Saya sudah antisipasi kalau Popi bakalan mengalihkan pembicaraan, “Aku lagi nonton nih. Ntar dulu ya chat-nya.” Atau, dia memberikan jawaban diplomatis, “Ganteng atau nggak, itu nggak penting. Asalkan hatinya baik dan mau tanggung jawab, sudah cukup.”

Namun, Popi justru mengetikkan jawabannya dan menunjukkannya kepada saya: “Ganteng.”

Dari situlah saya jatuh cinta dengan gadis SMA tersebut. Walaupun tahu itu white lie, tapi tetap bikin saya senyam-senyum kegeeran.

Artikel populer: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Sayangnya, setelah pertemuan itu, tidak ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ketika saya ajak jalan, ada saja alasannya. Hari sekolah, dia bilang tunggu libur. Sudah libur lebaran, dia mudik. Sudah pulang, dia mendadak sakit sampai nge-PAP (post a picture) kakinya yang diperban: tidak bisa jalan secara istilah dan harfiah. Sudah sembuh dan bisa jalan, dia tetap nggak bisa ketemu, alasannya bikin dengkul saya sakit:

“Sebetulnya, Mama nggak bolehin aku pacaran.”

Jeder!

Okelah, saya maklumi. Namanya juga anak SMA, jadi wajar masih diproteksi oleh orang tuanya. Saya bakal tunggu sampai dia lulus dapat ijazah dan diizinkan pacaran.

Namun, sepasang bulan kemudian, saya lihat foto profil WhatsApp Popi sudah berubah jadi foto cowok SMA. Status WA Popi yang semula “Hey there! I am using WhatsApp” berganti menjadi nama cowok: “Lupus”.

Mudah ditebak Lupus adalah pacar baru Popi. Setelah cek media sosial Popi: confirmed!

Fun fact, Popi dan Lupus LDR.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.