Katanya Manusia itu Hewan Berpikir, tapi Suka Tanpa Pikir-pikir

Katanya Manusia itu Hewan Berpikir, tapi Suka Tanpa Pikir-pikir

Ilustrasi (Jonny Lindner/pixabay.com)

Sebuah video garapan Dog Meat Free Indonesia sempat viral. Investigasi komunitas itu tentang penyiksaan anjing untuk konsumsi di beberapa tempat di Sulawesi Utara membuat Indonesia ramai diperbincangkan di media internasional. Anjing-anjing dipukul hingga sekarat, kemudian dibakar untuk menghilangkan bulu di tubuhnya.

Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey angkat bicara di sebuah media. Ia menyatakan bahwa cara pemotongan dan pengolahan binatang di pasar ekstrem Tomohon sama sekali tidak sadis dan sembarangan. Ia bahkan membandingkan terangkatnya isu itu dengan konsumsi otak monyet (Macaca fascicularis) hidup di Jakarta yang selama ini tidak diekspos.

Indonesia jadi terkenal. Anjing dan monyet juga – setelah selama ini sering dipakai jadi kata umpatan. Namun, mereka tidak tahu alasan mereka disakiti dan terkenal. Jangankan tahu alasannya, tahu bahwa mereka binatang saja tidak. Memang cuma manusia yang mempunyai kesadaran, bisa berpikir, dan berefleksi tentang dirinya sendiri.

Para binatang – yang disebut-sebut tidak sesempurna manusia dalam berpikir – telah berkali-kali menjadi korban irasionalitas manusia – yang justru lebih mampu menggunakan akal.

Sama kasusnya dengan jasad seekor orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang ditemukan mengambang tanpa kepala dengan belasan luka tembak di Sungai Barito.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa individu orang utan tewas di tangan manusia – baik secara sengaja maupun tidak. Bahkan, tahun lalu, menurut laporan National Geographic Indonesia, satu individu orang utan dibunuh, dimasak, dan dikonsumsi di area perkebunan kelapa sawit di Kapuas, Kalimantan Tengah.

Sulit untuk percaya bahwa manusialah yang ada di balik segala peristiwa itu. Ketika manusia berpikir tentang kehidupan hewan, sesungguhnya ia juga sedang berpikir tentang hidupnya. Seluruh makhluk hidup adalah bagian dari rantai kehidupan. Jika hilang satu, maka yang lainnya akan goyah.

Film animasi Bee Movie yang rilis tahun 2007 secara sederhana menggambarkan keterkaitan itu. Dalam film tersebut, Barry the Bee mendapati manusia ternyata menjualbelikan dan mengkonsumsi madu selama berabad-abad.

Ia kemudian menuntut umat manusia atas tuduhan pencurian madu yang sudah capek-capek diolah lebah. Persidangan lebah vs manusia memenangkan Barry. Stok madu jadi menumpuk tak tergunakan. Lebah-lebah nganggur. Bunga-bunga di berbagai pelosok daerah tak terserbuki dan mati.

Bee Movie berakhir bahagia karena Barry dan teman-temannya berusaha mengejar stok bunga terakhir di bumi. Film itu mengingatkan bahwa makhluk sekecil apa pun berguna dan baik adanya. Manusia, hewan, dan tumbuhan semestinya jadi partner yang baik dan saling melindungi. Terutama manusia. Sebab, kita puya daya intelegensi tinggi dan punya hati nurani.

Hati nurani menuntut manusia untuk bertindak dengan baik, jujur, wajar, dan adil. Hati nurani adalah semacam instansi kehakiman dalam batin kita tentang suatu perbuatan.

Maka, masuk akal kalau kita bertanya-tanya, “Kalau manusia bisa mikir dan punya hati nurani, kok bisa tega membunuh hewan dengan sadis, apalagi yang kini keberadaannya critically endangered?”

Oke, anggap saja si pembunuh tidak tahu. Tapi tolong deh, namanya saja sudah orang utan, jelas hutan memang rumah mereka, tempat bernaung dan cari makan – hingga kemudian dunia beranjak haus kelapa sawit dan si tuan rumah dianggap hama di rumahnya sendiri.

Saya berduka untuk para pelaku yang suara hatinya menuntun ke dalam kegilaan. Membunuh orang utan, memutilasinya, bahkan menyantapnya adalah kegilaan dan pada dasarnya membahayakan diri sendiri.

Kalau tak paham soal jumlah orang utan yang terancam, mengapa para pembunuh orang utan tidak mengakui keberadaan hati nuraninya saja? Mengapa tidak usaha supaya suara hati berakhir pada tindakan yang tepat? Ya, memang perbuatan menurut suara hati tidak bisa ditolak. Suara hati adalah tuntutan mutlak yang menunjukkan kemandirian manusia.

“Mutlak” tidak berarti selalu benar, karena suara hati juga didasarkan atas penilaian yang barangkali juga tidak tepat: membentengi lahan dari orang utan harus dilakukan supaya tetap bisa hidup dari pekerjaan. Bunuh saja “hama” itu supaya tidak kembali dan menyantap tunas-tunas kelapa sawit.

Pembunuh orang utan linglung memilih antara membunuh untuk memperjuangkan keamanan lahan sawit atau diam saja dan mengorbankan mata pencahariannya. Masalahnya, suara hati bukan persoalan perasaan atau selera subjektif, melainkan persoalan objektif mencakup hukum positif dan fakta-fakta di luar diri.

Orang utan mati tragis, tidak bisa dihidupkan lagi. Kita hanya perlu menyelamatkan populasi orang utan yang tersisa. Dalam First Integrative Trend Analysis For a Great Ape Species in Borneo, penelitian 47 peneliti yang dipublikasikan Jurnal Nature pada Juli 2017, disebutkan bahwa kepadatan populasi orang utan Kalimantan menurun dari 0,45-0,76 individu per kilometer persegi menjadi 0,13-0,47 individu per kilometer persegi.

Mereka hidup di habitat seluas 16.013.600 hektare, yang tersebar di 42 kelompok. Lebih menyedihkan lagi, hanya 18 kelompok populasi yang diprediksi bisa lestari hingga 100-500 tahun ke depan.

Penyelesaian yang lebih mengakar mungkin bisa tercapai dengan menyelamatkan umat manusia dari prinsip dominasi yang selama ini menyertai pembangunan. Pendidikan akal budi harus diimbangi dengan penempaan hati nurani. Ini lebih kompleks, tapi bisa dimulai dari keluarga.

Filsuf Prancis Gabriel Madinier melalui karyanya, La conscience morale, yakin bahwa menanam kepekaan yang baik bisa dilakukan dengan memberi contoh. Manusia punya kekuatan untuk memberi contoh tindakan untuk menanam kepekaan batin terhadap hal-hal baik. Kewajiban terhadap hukum moral pada dasarnya mengikat semua orang. Mencintai lingkungan hidup serta kewajiban menjaganya adalah tugas semua usia, semua kalangan.

Selain pengetahuan, anak, adik, keponakan, sepupu, dan seluruh anggota keluarga harus dapat suasana luhur tentang keterkaitan manusia dengan hewan dan tumbuhan. Tunjukkan kalau kita tergantung pada hewan-hewan, bagaikan lebah-lebah dalam Bee Movie dan umat manusia penyuka madu. Bukan malah mempertontonkan tindakan brutal pada binatang yang dijual sebagai wisata “walking through hell” atau “must see” tourist attractions.

Kebetulan, kita ini manusia berkesadaran, hewan berpikir alias animal rationale, kalau kata Aristoteles. Apa iya, rationale­-nya sudah raib entah ke mana, jadi tinggal animal-nya? Maka, demi kelangsungan bumi yang lestari, sadarlah wahai animal rationale!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.