Ilustrasi laki-laki (Photo by James Sutton on Unsplash)

Bayangkan kamu memiliki seorang ibu, adik perempuan, anak perempuan, sepupu perempuan, atau keponakan perempuan. Suatu saat, perempuan-perempuan yang memiliki ikatan keluarga denganmu itu mengunggah foto diri di media sosial. Foto yang biasa-biasa saja, sebetulnya. Tapi, lantaran ada seorang laki-laki yang otaknya berada di bawah perut, tiba-tiba dia menulis komentar yang berbau pelecehan. Apa reaksimu terhadap pelaku pelecehan itu?

Mungkin kamu berniat untuk melakban mulut si pelaku, mengeplak kepalanya biar nggak keblinger, atau berusaha mengirimnya ke Gulag. Itu reaksi yang normal belaka. Siapa pun jelas bakal marah kalau melihat seorang perempuan – terlebih yang ia cintai dan masih ada hubungan darah – dilecehkan. Apalagi, dilecehkan di depan umum. Bukankah semua pelecehan di media sosial sejatinya adalah pelecehan di muka publik?

Kalau kamu punya banyak waktu, kamu bisa bereksperimen untuk melihat kelakuan sapiens yang tampak seperti produk gagal evolusi. Orang-orang yang susah sekali menahan jempol dan hasrat seksual, lalu melampiaskannya kepada sembarang orang.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Mereka memang melampiaskannya dalam bentuk verbal berupa komentar pelecehan di akun-akun tertentu. Meski demikian, pelecehan dalam bentuk sekecil apa pun bukan sesuatu yang boleh dimaklumi.

Kamu bisa berkunjung ke akun-akun media sosial milik figur publik perempuan, terutama di Instagram. Sebab, di Instagram, dengan gampang foto didapat dan dengan gampang pula para pengomentar yang tampaknya akal sehat dan kemanusiaannya digondol alien bisa kamu temukan.

Akun yang belakangan menghebohkan jagat maya adalah akun milik selebgram Anya Geraldine. Di akun @anyageraldine, Anya kerap mem-posting foto-fotonya yang dianggap ‘seksi’. Coba cek kolom komentarnya, niscaya kamu akan menemukan cowok-cowok yang melontarkan beberapa komentar tak senonoh dan berbau pelecehan kepada Anya.

Mereka mungkin segera berdalih, “Salah sendiri unggah foto-foto seksi! Wajar dong kalau ada yang komentar mesum.” Dalih semacam itu, selain menjijikkan karena membenarkan tindakan pelecehan, juga merupakan manifestasi dari kemalasan berpikir.

Baca juga: Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Pertama, pelecehan tetaplah pelecehan, apa pun kondisinya. Dan, tidak pernah bisa dibenarkan. Miris, kalau ada yang berdalih kayak tadi ketika ditegur karena melakukan pelecehan secara verbal.

Kita tahu, manusia punya kehendak dan pilihan. Seorang laki-laki mungkin pernah melihat perempuan ‘seksi’ secara langsung ataupun melalui foto. Kemudian, lelaki tersebut merasa terangsang. Itu boleh saja, masa terangsang dilarang? Tapi, bukan berarti memberikan dia wewenang untuk melakukan tindakan sewenang-wenang.

Lelaki tadi bisa melakukan banyak hal yang lebih manusiawi, semisal mengabaikannya atau melanjutkan dengan aktivitas lain. Bukan lantas berupaya menormalkan tindakan pelecehan dengan menyalahkan perempuan mengapa mengunggah foto-foto ‘seksi’.

Kedua, faktanya laki-laki tak hanya melakukan pelecehan secara verbal kepada perempuan yang berpakaian ‘terbuka’. Tak jarang, perempuan yang berpakaian tertutup bahkan berjilbab juga menjadi korban. Menurut sebuah penelitian, sekitar 17% korban pelecehan adalah perempuan berjilbab.

Baca juga: Saya Melabrak Pelaku Pelecehan di Jalan dan Masyarakat Lebih Banyak Diam

Sementara itu, dalam sebuah grup Facebook tentang fotografi, saya melihat sendiri ada cowok berkomentar mesum menanggapi sebuah foto pemandangan kota. Alih-alih merespons soal pemandangan kota, cowok itu malah fokus pada potret perempuan dalam foto, lalu melecehkannya tanpa rasa bersalah.

Itu menunjukkan bahwa memang dasar cowok itu yang mesum. Sering update status kata mutiara “perempuan itu diciptakan untuk dicintai, bukan untuk disakiti”, tapi nyatanya kerap melecehkan.

Dalih lain laki-laki yang melecehkan perempuan secara verbal adalah menyebut pelecehan tersebut sebagai bentuk kekaguman. Mereka mengaku kagum dengan kecantikan seorang perempuan, lantas melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya tergolong pelecehan. Tentu, alasan ‘kagum’ itu tidak masuk akal. Kagum kok malah menyakiti.

Kalau memang kagum, tentu yang pertama dilakukan adalah menghargai dan mengapresiasi. Komentar mesum di ranah publik jauh dari makna apresiasi. Heran ya, kenapa cowok-cowok gampang sekali menulis komentar mesum?

Artikel populer: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Bro, pelecehan verbal tersebut seharusnya tidak terjadi, jika kamu mau lebih banyak berpikir. Berpikir seandainya ibumu, adikmu, atau anakmu yang perempuan diperlakukan serupa oleh orang lain. Bagaimana perasaanmu?

Tak sedikit pelaku pelecehan seksual secara verbal itu adalah orang-orang yang di media sosial tampak seperti calon kuat ‘penghuni surga’. Tapi memang, apa yang tampak di media sosial sering kali mengecoh. Bahkan, ada yang foto profilnya kibaran bendera bertuliskan Tuhan, tapi kelakuan kayak utusan setan.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini