Ilustrasi pesepeda (Photo by Victor He on Unsplash)

Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal dalam tata kehidupan umat manusia. Kita jadi akrab dengan masker, hand sanitizer, dan tanda silang atau garis hitam sebagai batas jaga jarak di tempat-tempat keramaian.

Selain itu, ada satu lagi perubahan mencolok, terutama di masa yang katanya baru normal ini, eh new normal, yaitu ramainya para pesepeda di jalanan. Kalau biasanya jalan raya dikuasai anak muda bermotor racing gaya-gayaan, kini kita bisa mendapati sekumpulan bapak-bapak satu grup WhatsApp beriringan di jalan menggowes pakai baju olahraga.

Tren bersepeda sedang laris-larisnya, selaris komentar “Iri bilang bos” di berbagai postingan media sosial.

Di dekat rumah saya, ada toko sepeda. Biasanya, toko itu sepi – sesepi hati para jomblo yang baru ditinggal pacar. Namun, belakangan ini ramai sekali dari pagi sampai sore. Ini toko sepeda atau kedai seblak? Atau, jangan-jangan, di situ ada yang komentar, “Rame amat, mutualan yuk!”

Baca juga: Tipe Postingan Netizen yang Lagi Hype di Masa New Normal

Beberapa kawan yang tinggal di daerah-daerah lain juga mengabarkan fenomena serupa. Toko-toko sepeda di dekat tempat mukim mereka jadi kebanjiran pembeli dan pesepeda meluber di jalanan.

Tapi, tanpa bermaksud ngurang-ngurangin rezeki pedagang sepeda, pernah nggak terlintas dalam pikiranmu kenapa tren bersepeda di jalan malah berlangsung saat wabah? Saat jumlah penderita dan korban masih tinggi-tingginya? Apakah ini karena kebijakan new normal? Bukankah sebaiknya sebisa mungkin tetap di rumah aja nonton SpongeBob SquarePants berburu ubur-ubur?

Memang sih, banyak orang menjadikan sepedaan ini sebagai siasat untuk mengatasi keterbatasan di rumah. Ada rasa bosan yang membuncah, meski virus corona sendiri belum bosan dengan kita.

Terlebih, sebagian tempat kerja memperpanjang kerja dari rumah (WFH) dan sekolah tetap menerapkan belajar dari rumah (LFH). Alhasil, banyak yang punya cukup waktu untuk sepedaan. Dari sisi kesehatan, bersepeda juga salah satu olahraga yang manfaatnya melimpah ruah. Bisa menjaga kesehatan jantung, menguatkan otot kaki, kebugaran badan, hingga media untuk menjalani diet sehat. Imun tubuh pun bisa meningkat. Bahkan, iman juga bisa meningkat kalau bersepeda sambil bersholawat.

Pokoknya bersepeda bagaikan Pak Luhut dalam bentuk cabang olahraga: multifungsi.

Baca juga: Ada yang Lega dengan Kebijakan New Normal, Apa Perlu Kita Sinis?

Akan tetapi, tren bersepeda di tengah pandemi ini menimbulkan anomali tersendiri. Misalkan, tentang kebiasaan orang-orang berkerumun saat sepedaan. Ini kan berpotensi melanggar protokol kesehatan. Pakai masker saat menggowes pun napas terasa sesak. Nggak pakai masker? Selain rawan terinfeksi virus, denda pun siap menanti terutama bagi pesepeda yang melintasi kawasan khusus sepeda. Dendanya Rp 250 ribu atau sanksi sosial berupa menyapu kawasan khusus tersebut.

Sebagaimana lazimnya sebuah tren, tak ada tren yang tak retak. Tren bersepeda juga bisa menimbulkan berbagai problematika turunan. Misalnya, para pesepeda yang tidak taat tata tertib. Tempo hari sempat viral sekelompok pesepeda yang menerobos lampu merah. Padahal, sekalipun naik sepeda, kita juga harus patuhi rambu-rambu lalu lintas. Memang dikira lagi ikut Tour de France?

Selain soal menerobos lampu merah, pelanggaran lain yang banyak dilakukan adalah keluar dari jalur sepeda. Soal memakai jalur yang bukan hak si pengendara ini kayak udah jadi kebiasaan banyak orang di Indonesia. Jalur busway dilewati pengendara mobil, jalur pengendara non-sepeda dilewati pesepeda, dan jalur sepeda dilewati motor.

Ingat, serobat-serobot hak orang adalah kebiasaan para penguasa.

Baca juga: Pejabat Bebas Bercanda, Warga Biasa Kena Perkara

Masalah keselamatan di jalan para pesepeda juga menjadi sorotan. Perkumpulan Bike to Work Indonesia (B2W Indonesia) mencatat, terdapat 29 peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pesepeda selama Januari hingga Juni 2020. Belum termasuk peristiwa yang tidak tercatat. Pemerintah daerah mesti secepatnya mengeluarkan tambahan regulasi soal keselamatan bersepeda.

Masalah lainnya adalah pesepeda yang suka buang sampah sembarangan. Ada beberapa pesepeda yang terlalu malas untuk turun dari sepeda, sehingga asal saja membuang sampah di sisi jalan. Di Singapura, bahkan ada kasus yang ekstrem. Seorang pesepeda ditegur petugas karena buang sampah sembarangan. Bukan meminta maaf, si pesepeda malah meninju petugas. Celaka dua belas namanya.

Artikel populer: Kehidupan Asmara dan Panduan Kencan di Era New Normal

Bersepeda tetapi buang sampah sembarangan memang ironi. Lah, katanya bersepeda untuk menjaga kesehatan dan mengurangi polusi udara, tapi kok malah mencemarkan lingkungan?

Lagi pula, belum tentu tren bersepeda saat wabah dipicu oleh semakin meleknya masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Sebab, dari yang saya tahu, banyak yang sekadar ikut tren. Banyak dari mereka yang berasal dari kalangan berduit, karena harga sepeda jadi mahal. Bahkan ada yang harganya puluhan juta rupiah. Sobat misqueen mah lagi-lagi minggir.

Padahal, selain ramah lingkungan, konon sepeda adalah alat transportasi yang juga ramah kantong. Kalau bersepeda hanya peduli dengan harga, alih-alih pelestarian lingkungan dan kesehatan, mending ternak lele aja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini