Serial Hawkeye. (Chuck Zlotnick/Marvel Studios)

Bagi warga New York, Avengers sudah seperti boyband. Boyband yang menyelamatkan hidup mereka sewaktu invasi Loki. Dibandingkan yang lain, anggota boyband yang paling tidak populer di sini adalah Hawkeye alias Clint Barton.

Saking tidak populernya, dalam drama musikal yang menceritakan Avengers melawan pasukan Loki, posisi Hawkeye digantikan dengan Ant-Man yang waktu itu bahkan belum ikut bertarung. Lalu, anak kecil yang melihat Clint Barton di jalan pun tidak menyapanya, malah lebih memilih mendekati orang yang sedang cosplay sebagai Captain America. Cosplayer pun lebih memilih menjadi Katniss Everdeen sang pemanah dari serial The Hunger Games dalam acara cosplay tema superhero.

Jika dibandingkan dengan superhero pemanah dari studio sebelah, Hawkeye jelas belum bisa menyamai kepopuleran serial DC Arrow. Bahkan Arrow punya universe sendiri, yaitu Arrowverse, yang berbagi semesta dengan The Flash, Supergirl, Batwoman, dan Superman & Lois.

Baca juga: Seandainya Eternals Punya Grup WhatsApp

Namun, Hawkeye punya fangirl bernama Kate Bishop. Sewaktu kecil, Kate menyaksikan Hawkeye bermanuver dengan panahnya demi membasmi alien penjajah. Dari situlah, Kate terinspirasi untuk menjadi pemanah jitu seperti Hawkeye. Kepada sang ibunda, Kate meminta busur dan panah. Bukan rokok dan kopi, seperti yang biasa dipinta remaja pencinta senja.

Seandainya yang disaksikan Kate kecil adalah Hulk, mungkin dia bakalan meniru sang raksasa hijau itu dengan mulai menghancurkan perabotan di rumah. Saat besar, bisa-bisa menjadi pelanggan tetap di fasilitas healing di Jakarta yang belakangan viral, dimana pengunjungnya rela bayar mahal untuk merusak barang-barang kaca hingga elektronik yang disediakan.

Kate kehilangan sang ayah yang menjadi korban kerusuhan New York 2012. Mengidolakan Hawkeye adalah metode penyembuhan (healing) untuknya. Kate kemudian bergabung dengan klub panahan. Beberapa kali dia juga menjuarai lomba beladiri. Menjadikannya sebagai pemanah jitu sekaligus petarung andal. Kalau sampai mahir berkuda plus berenang, sudah sesuai sunnah Rasul.

Di serial Hawkeye, Kate bertemu dengan idolanya di musim Natal. Menjadikan serial superhero Marvel kali ini bernuansa film liburan Natal seperti Home Alone, lengkap dengan adegan kucing-kucingan bersama perampok. Namun, sejatinya ini adalah kisah fangirling Kate Bishop kepada Clint Barton.

Baca juga: Jika Black Widow dan Shang-Chi Hidup di Indonesia

Arah serial Hawkeye terbaca setema dengan serial The Falcon and The Winter Soldier dan film solo Black Widow, yaitu prosesi serah terima tongkat estafet. Seperti halnya The Falcon akhirnya menerima tameng Captain America, lalu Yelena Belova menggantikan Natasha Romanoff sebagai Black Widow selanjutnya. Begitu pula dengan Kate Bishop yang nantinya menjadi Hawkeye.

Mengidolakan seseorang memang bisa seproduktif Kate Bishop yang bertumbuh menjadi penerus superhero idolanya. Namun, Kate belum tahu jika idolanya sempat melalui masa kelam. Clint Barton pernah menjadi Ronin yang tak segan membantai pelaku kriminal dengan kejam.

Ronin bukanlah sebuah kebanggaan bagi Barton. Sebab Ronin hanyalah pelariannya, sebagai proses healing pasca kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat jentikan jari Thanos. Ronin tidak bisa dikategorikan sebagai superhero, karena aksinya yang sering main hakim sendiri. Ada istilah sendiri untuk itu, yaitu vigilante.

Baca juga: Yang Miskin Tetap Miskin, yang Kaya Tetap Seleb Internet

Jejak masa lalu Barton sebagai sang vigilante kembali muncul di serial Hawkeye. Bahkan Kate Bishop sempat memakai kostum Ronin yang membuatnya dalam masalah. Sebab aksi Ronin di masa silam mengundang banyak musuh. Barton pun berusaha membereskan sisa masa kelamnya dan mengingatkan sang penggemar dari konsekuensi yang ditimbulkannya.

Ketika tahu sisi lain dari sang idola, bisa saja seorang penggemar menjadi kecewa karena ekspektasinya sendiri. Namun, yang seharusnya dipegang adalah fakta bahwa tak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Begitu juga dengan idola yang bisa saja punya cela.

Yang bisa ditiru dari idola adalah yang baik-baiknya saja. Itulah mengapa konsep bad influencer sudah bermasalah sejak penamaannya. Tidak bisa seorang yang berpengaruh dengan bangga memamerkan keburukan di media sosial, tanpa konsekuensi akan ditiru para pengikutnya.

Artikel populer: Apa Jadinya kalau Pejabat Ikut Squid Game?

Meniru idola pun perlu bimbingan. Jangan sampai mengulang fenomena pesohor TikTok yang konsisten berkonten dengan memukul batang pisang. Dengan alasan tak terbeli samsak, sang pesohor TikTok itu memanfaatkan pohon pisang tetangga di sekitar tempat tinggalnya untuk latihan tinju. Tak lupa ia memberikan sapaan kepada penontonnya, “Salam dari Binjai!”

Aksinya viral ke mana-mana. Sampai-sampai “Salam dari Binjai!” menginspirasi bocah-bocah di berbagai daerah untuk kompak menumbangkan pohon-pohon di kebun pisang orang. Berbeda dengan pesohor TikTok yang merubuhkan pohon pisang yang sudah tak bisa berbuah lagi, para bocah itu menumbangkan pohon pisang yang belum dipanen, membuat pemiliknya nangis sekebon.

Sementara, orang dewasa yang duduk di bangku pemerintahan mencontohkan yang lebih ekstrem. Seperti seorang menteri yang justru berpendapat bahwa pembangunan yang sedang berlangsung secara besar-besaran tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi (penebangan hutan). Lantas, bagaimana jika ditiru rakyat dengan menebang pohon-pohon sembarangan? Bisa-bisa yang kemudian viral adalah jargon “Salam dari Banjir!”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini