Ilustrasi YouTube. (Photo by CardMapr.nl on Unsplash)

Bukan sekadar berhasil memukul mundur Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman di medan laga, Keanu Reeves alias Baba Yaga juga membuat sentakan kecil di akhir pertempuran dengan mengucap salam penghormatan kepada dua jagoan kita. “Sampai jumpa,” katanya. Bertahun-tahun setelahnya, kita masih mengenang John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019) sebagai salah satu film laga populer yang mengakomodasi Bahasa Indonesia, kita merasa bungah bukan kepalang. Padahal dalam dunia showbiz, fans service semacam itu memang strategi jitu memasarkan produk.

Ketika berkunjung ke destinasi wisata kelas wahid yang disesaki turis asing, sebagian dari kita mungkin pernah memberanikan diri meminta foto bersama ‘bule-bule’ – tentu dengan pose paling necis biar instagramable. Dalam pigura foto itu kita merasa sejajar dengan si kulit putih, dan kita bangga. Padahal, di negeri asalnya mungkin ia hanya mas-mas biasa yang sedang gabut dan memilih vakansi ke negara dunia ketiga, dengan pertimbangan ongkos yang tak seberapa.

Baca juga: Terheran-heran dengan Bintang Hollywood yang Ngomong Bahasa Indonesia

Begitulah cara kita menatap orang-orang asing; penuh dengan ketakjuban, merasa diri rendah. Alhasil, selama bertahun-tahun kita diasosiasikan sebagai bangsa yang penuh ramah-tamah. Iya, betul, ramah ke turis – apalagi yang asing – tetapi beringas ke tetangga sebelah. Yaelah~

Ini berbeda dengan cara mereka menatap kita. Seperti curahan hati Frantz Fanon dalam Black Skin, White Masks bahwa tatapan orang-orang kulit putih selalu dalam kerangka menjaga status inferior dalam tatanan kolonial. Terus begitu, dilanggengkan oleh pelbagai macam prosedur.

Pusing membaca paragraf sebelum ini yang terkesan fafifu-wasweswos? Sama, saya juga. Tapi Rendra punya puisi ajaib yang mungkin bisa menjadi ilustrasi untuk fenomena itu, yakni Sajak Pulau Bali (Potret Pembangunan dalam Puisi, Jakarta; 1980). Biar saya nukilkan petikannya di sini;

Baca juga: Berhenti Memuja Laki-laki Bule

“Oh, look, honey – dear!
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat kelapa seperti kera.
Fantastic! Kita harus memotretnya!

Awas! Jangan dijabat tangannya!
Senyum saja and say hello.
You see, tangannya kotor.
Siapa tahu ada telor cacing di situ.

Begitulah. Belakangan ini, saya menyaksikan riuh perdebatan soal bagaimana kebanggaan berlebih orang-orang kita saat menyaksikan konten reaction di YouTube terhadap segala yang memiliki cap Indonesia, yang diunggah oleh orang-orang luar negeri, oleh para ‘Londo’.

Konten reaksi itu betul-betul beragam. Mulai dari reaksi terhadap suporter bola, kedigdayaan tentara, makanan, video promosi wisata, ketampanan para aktor dan kecantikan para aktris, desain ibu kota baru, dan sebagainya. Anda bisa melihat katalognya setelah menelusuri tab pencarian YouTube dengan kata kunci “reaksi terhadap Indonesia” atau “reaksi bule”.

Baca juga: Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Saya menonton beberapa di antaranya, dan jujur saja, satu-satunya yang menarik dari aneka konten tersebut adalah fakta bahwa ia memiliki jumlah penonton yang cukup fantastis. Padahal, isinya – tentu saja bagi saya – menjemukan belaka. Sebagian hanya berkomentar, “Oh, beautiful”, “Eksotis”, atau “Saya ingin berkunjung ke sana”.

Mungkin, boleh jadi, ada memang orang-orang tertentu yang terobsesi dan terhibur dengan konten semacam itu. Sebab berharap pada dimensi edukasi sama sekali tak mungkin terpenuhi.

Pada derajat tertentu, ini sama seperti betapa fantastisnya reaksi ketika Maria Ozawa merentangkan sang saka merah putih saat Timnas Indonesia berlaga. Padahal kita tahu, itu hanya salah satu tugasnya sebagai brand ambassador judi online. Huft.

Puncak dari serbuan konten-konten reaksi Youtubers luar negeri ini adalah video kolaborasi berjudul “Youtuber Korea memanfaatkan orang Indonesia demi duit doang!?”, yang diunggah oleh konten kreator asal, ya jelas, Korea.

Artikel populer: Indonesia Tanpa Youtuber, Apakah akan Baik-baik Saja?

Video itu berisi klarifikasi atau lebih tepat disebut apologi, yang dipantik oleh komentar-komentar nyinyir kritis beberapa netizen Indonesia. Mereka yang dengan sendirinya memahami formula matematis “overproud + konten = adsense berlimpah”. Ada ceruk pasar yang menganga di sini, begitu lebar.

Di luar urusan geger yang melingkupinya, kita patut senang atas tumbuhnya kesadaran semacam itu. Sebab, ini bisa menjadi momentum yang pas untuk menyingkirkan penyakit inferiority complex yang selama berabad-abad menggerogoti pikiran kita.

Kalau dipikir-pikir, kita nggak butuh-butuh amat seluruh pengakuan dari bangsa lain. Toh, paling tidak, kita masih punya Rangga Sunda Empire. Dilihat dari sudut mana pun, ia lebih menghibur berkali-kali lipat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini