Ilustrasi (Photo by Luana Azevedo on Unsplash)

Di masa pandemi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dapat PR baru. Berkaca dari kasus Covid-19 yang bisa menyerang bayi usia hitungan hari, pemerintah melalui BKKBN mengimbau masyarakat untuk tunda prokreasi. Jangan karena di rumah aja, justru digas pol.

Sempat viral video kampanye BKKBN. Dengan pengeras suara, mobil BKKBN keliling kampung untuk menyerukan pesan, “Nikah boleh, kawin boleh, hamil jangan.” Jika bukan demi keselamatan orang banyak, BKKBN tidak perlu sampai cosplay seperti mobil tahu bulat.

BKKBN sampai repot-repot begitu karena data statistik menunjukkan bahwa pasangan produktif menghentikan pemakaian alat kontrasepsi selama pandemi. Wajar saja karena mereka takut berkonsultasi ke klinik kesehatan untuk pemasangan alat kontrasepsi karena alasan pandemi.

Sementara itu, angka kematian akibat Covid-19 melahirkan teori konspirasi. Salah satunya isu depopulasi. Namun, persoalan ini bukan berarti harus dilawan dengan ledakan penduduk, mengulang era baby boomer. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi juga tidak baik, seperti yang pernah diuraikan oleh Thanos.

Baca juga: Di Rumah Aja saat Pandemi Bukan Berarti Kami Dihamili

Masa pandemi dirasa kurang cocok untuk bereproduksi. Katanya daya tahan tubuh ibu hamil sering menurun, sehingga rawan terpapar Covid-19. Ibu hamil yang terinfeksi virus corona juga bisa menularkan virus yang sama ke bayinya. Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan.

Bumi sedang tidak baik-baik saja. Bukankah lebih baik menyiapkan dunia yang aman dulu untuk generasi mendatang? Karena corona belum hilang, menghadirkan manusia baru ke dunia hanya akan menambah daftar inang bagi virus. Sebab itu, menunda punya anak bisa juga menjadi sebentuk kasih sayang kepada calon buah hati.

Namun, tetap saja, pesan BKKBN hanya imbauan. Keputusan akhir tetap pada pasangan produktif yang berencana memiliki momongan. Jika tetap ingin beranak-pinak, perlu diantisipasi langkah-langkah klinis agar terhindar dari paparan virus corona.

Jadi teringat film-filmnya Joko Anwar. Karya dari sutradara ini sering mengangkat tema ibu hamil yang tersakiti. Salah satu filmnya yang berjudul Pintu Terlarang, terang-terangan menarasikan bahwa prokreasi bisa jadi sebuah kesalahan. Tidak ada anak yang minta dilahirkan. Sebab dunia adalah tempat yang menyeramkan. Apalagi, ditambah pandemi.

Baca juga: ‘Pengabdi Setan’ dan Kisah Hantu Perempuan: Simbol Adanya Kekerasan terhadap Perempuan

Namun, sebagian orangtua bisa dimaafkan karena membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Jadi, orangtua yang abusif adalah masalah besar. Masa tega-teganya melahirkan anak manusia ke dunia untuk disiksa?

Jika tidak direncanakan dengan baik, kelahiran yang tak diinginkan juga bisa menyiksa orangtua itu sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan bayi dan ibunya, mesti menyiapkan keuangan yang stabil untuk beli susu dan popok. Karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan kesiapan untuk menjadi orangtua yang baik.

Belakangan sempat viral estimasi biaya persalinan Rp 88 juta, yang dipublikasikan oleh akun penasihat keuangan. Kalau termasuk perawatan untuk satu tahun pertama, biayanya bisa mencapai Rp 166 juta. Melihat angka yang bombastis, banyak netizen terperangah. Jangan-jangan, penasihat keuangan ini bekerjasama dengan BKKBN supaya orang-orang menunda kehamilan.

Demikianlah cerita yang terjadi di kalangan rakyat jelata. Namun, di kalangan ‘sultan’, kondisinya seperti langit dan bumi. Di sana bergulir sebuah pamflet kursus poligami yang menghadirkan coach seorang tokoh masyarakat. Harga kursusnya Rp 3,5 juta, jauh lebih mahal daripada rata-rata kursus yang ditawarkan program kartu prakerja. Di masa pandemi begini, apa coba urgensinya kursus poligami?

Baca juga: Bapak Poligami, Ibu Pura-pura Bahagia, Anak Tak Dilibatkan

Ditambah, materi promonya menunggang istilah kekinian, “New Normal? Poligami!” Jubir Covid-19 bisa menangis melihat ini. Sejak kapan poligami masuk protokol kesehatan? Yang ada disuruh jaga jarak, bukannya malah berkerumun.

Lagipula, dengan poligami, apakah membuat si suami bebas dari Covid-19? Alasan imunitasnya meningkat karena kebahagiaan yang berlipat berkat kehadiran istri yang lebih dari satu, belumlah teruji klinis.

Daripada mempersembahkan kursus poligami, mengapa tidak mengadakan kursus menjadi suami idaman saja? Soalnya masih banyak suami yang melakukan KDRT. Apalagi, kasus KDRT selama pandemi menanjak.

Poligami justru bisa menjadi faktor penambah. Misalnya nih, ada seorang suami menjadi pelaku kekerasan domestik, kebetulan punya tiga istri dan berniat menambah satu lagi, berarti korban KDRT bisa bertambah jadi empat.

Artikel populer: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

Akad nikah saat pandemi memang menghemat biaya karena pernikahan tanpa resepsi menjadi new normal. Namun, jangan dijadikan aji mumpung untuk menikah lebih dari sekali.

Ketika institusi rumah tangga menjadi jalan untuk proses prokreasi, negara kudu peduli dengan mengimbau warganya untuk merencanakan reproduksi. Nah, ini malah ada kursus poligami yang menjadikan pernikahan seolah rekreasi.

Yang urgen saat ini adalah rumah yang aman untuk anak-anak dan perempuan terbebas dari kekerasan domestik. Bukan drama poligami yang diromantisisasi, atau bahkan dikomersialisasi.

1 KOMENTAR

  1. poligami setau saya banyak menimbulkan masalah…memang sih ada poligami yang rukun2 saja..itu terjadi pada lelaki kaya yang mampu berlaku adil…yg jadi pertanyaan, emang ada berapa sih model lelaki seperti itu di dunia….

    Jangan malah menjad lelaki yang cuma ingin memenangkan egonya sendiri dengan mencoba istri lebih dari satu….karena sampai sekarang saya percaya, hati terdalam seorang istri tidak akan rela jika suaminya mencintai wanita lain….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini