Ilustrasi (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

“…Sayangi temanmu!” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, lewat tweet-nya saat menanggapi beredarnya video perundungan (bullying) yang dialami seorang anak perempuan di sekolah. Peristiwa itu terjadi di salah satu SMP di Purworejo, Jateng.

Dalam video tersebut, korban bahkan dipukul dan ditendang secara bergantian oleh tiga anak laki-laki. Korban yang sedang berada di dalam kelas hanya diam tak berani melawan, saat teman-temannya melancarkan aksi brutal.

Duh, nangis saya.

Saya pun punya anak perempuan yang seumuran dengan korban, sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama. Menyaksikan para pelaku dengan entengnya merisak korban, perasaan saya sebagai ibu langsung terkoyak.

Belakangan ini, kasus bullying memang banyak muncul ke permukaan. Woiii… perundungan tak hanya merusak secara psikis, tapi juga fisik. Repotnya lagi, ada beberapa pihak yang malah menganggap itu sebagai sesuatu yang ‘wajar’. Hanya candaan antar teman, katanya.

Ngeselin nggak tuh?

Bercanda ya bercanda, tapi jangan sampai menyakiti, apalagi melukai dengan aksi kekerasan, keleus… Tak ada orangtua yang menyekolahkan anaknya untuk dijadikan sasaran kekerasan, begitu juga tak ada orangtua yang ingin anaknya jadi pelaku kekerasan.

Baca juga: Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Sebelum di Purworejo, seorang siswa SMU di Pekanbaru, Riau, mengalami patah tulang hidung. Lantas, ada yang bilang bahwa itu sekadar candaan yang kebablasan. Padahal, korban sudah mengalami perundungan selama lima bulan. Korban sering diperas oleh para perundung. Hingga puncaknya, korban dipukul dengan bingkai kayu foto yang mengakibatkan patah tulang di hidung.

Di mana letak bercandanya?

Lalu, kasus bullying murid SD di Grobogan, Jawa Tengah. Si anak sampai depresi karena dirundung secara psikis maupun fisik oleh teman-temannya. Tak hanya lewat kata-kata, melainkan dijambak, diludahi, disiram air, dipukul, hingga disekap di dalam kelas. Persis dengan peristiwa yang menimpa Nabila, siswi SD di Jawa Barat, yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya karena masalah sepatu.

Dan, lagi-lagi, ada saja pihak yang bilang bahwa itu bukan bullying, hanya gaduh biasa sesama siswa. Parahnya, orang yang bilang begitu adalah seorang kepala sekolah.

Yah, mungkin si kepala sekolah sering disiram air di depan teman-temannya kalee, dipermalukan gitu. Jangan marah lho, Pak, kan cuma bercanda tho, gaduh biasa tho?

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Pernyataan “cuma bercanda”, “gaduh biasa”, “namanya juga anak-anak”, tampaknya kini mulai berbahaya. Kata-kata itu seolah menjadi pembenaran atas terjadinya kekerasan. Mirisnya, itu keluar begitu saja dari moncong orang yang seharusnya melindungi korban.

Mengapa demikian?

Apakah itu demi menjaga ‘nama baik’ sekolah? Atau, mereka malu mengakui bahwa ada masalah yang terjadi di sekolah? Malu mengakui bahwa mereka tak mampu melindungi murid?

Perkara ini sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Hal itu menindaklanjuti Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak.

Sekolah ramah anak adalah sekolah yang mampu menjamin pemenuhan hak anak dalam proses belajar mengajar, aman, nyaman, bebas dari kekerasan dan diskriminasi, serta menciptakan ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi, berpartisipasi, bekerja sama, menghargai keberagaman, toleransi, dan perdamaian.

Baca juga: Katanya Bangsa yang Ramah, kok Masih Rasis sih?

Kriteria pertama sekolah ramah anak adalah mempunyai kebijakan anti kekerasan. Program ini wajib dilakukan sesama siswa, tenaga pendidik dan kependidikan, termasuk pegawai sekolah.

Jadi, memang sudah semestinya seluruh jajaran yang terkait benar-benar bertanggung jawab atas keselamatan siswa-siswi, bukan sekadar mendidik atau mengajarkan mata pelajaran di sekolah.

Kasus bullying ini sungguh mengerikan dan menyedihkan. Kurangnya rasa empati, rasa sayang terhadap sesama, menjadi penyebab utama mengapa anak-anak begitu mudahnya menyakiti temannya.

Yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah rangkulan dari orangtua dan guru di sekolah, bagaimana anak diedukasi tentang empati. Lalu, membuka ruang diskusi yang lebih luas bersama anak. Apalagi, kasus bullying kini menjadi concern banyak pihak.

Masih ingat Sripun, siswi SMP Negeri 17 Semarang, yang pernah didatangi langsung oleh David Beckham karena Sripun berhasil keluar dari kasus bullying, bahkan menjadikan teman-teman yang merundungnya sebagai pionir gerakan anti bullying di sekolahnya?

Itu juga berkat dukungan sang guru dengan menempatkan muridnya sebagai teman, membuka ruang diskusi bagi mereka yang bermasalah, yang membuat Sripun paham bahwa masalah bullying bisa dihindari jika kita punya empati, rasa welas asih, terhadap sesama manusia.

Artikel populer: Jomblo atau Bukan, Kita Semua Sama di Hadapan Promo Valentine

Tanggal 14 Februari adalah Hari Kasih Sayang atau populer disebut Hari Valentine. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali penolakan dan larangan untuk merayakannya. Larangan tersebut bahkan berasal dari jajaran lembaga pendidikan. Alasannya tidak jauh-jauh, mulai dari “bukan budaya kita” hingga ketakutan terhadap perilaku seks bebas. Padahal, arti dan cakupan kata “kasih sayang” begitu luas.

Penolakan Hari Kasih Sayang dengan alasan semacam itu sepertinya menjadi PR Menteri Pendidikan kita. Sebab, mereka yang bekerja di bawah naungan Kementerian Pendidikan ternyata memahami kasih sayang hanya tentang selangkangan, bukan empati terhadap sesama.

Kita pun harus terus belajar untuk saling menyayangi, bukan saling membenci. Dengan begitu, anak-anak kita kelak bisa bergandengan tangan dengan penuh kasih sayang, bukan malah menyakiti seperti beberapa kasus belakangan ini.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini