article
Ilustrasi (Photo by Laura Fuhrman on Unsplash)

Hari itu datang juga. Hari ketika billboard, poster, dan spanduk bertebaran. Ucapan “Selamat Hari Ibu” menyesaki berbagai ruang di dunia nyata, media sosial dari berbagai kanal. Kita akan mudah membaca; terima kasih ibu, ibu pilar bangsa, ibu tiang keluarga, kasihmu tiada batas, hingga tips menjadi ibu tangguh.

Tokoh, politisi, para pemuja ‘panjat sosial’ alias pansos pun berebut menjadi yang terdepan mengunggah tentang Hari Ibu. Satu hari dalam setahun, hari ketika semua orang mengucapkan “Aku sayang ibu”.

Tapi, wahai para pengucap “Selamat Hari Ibu”, luangkan waktu untuk bergerak. Hari Ibu bukan ajang pansos. Hari Ibu seharusnya membuat kita sadar bahwa 3 perempuan dilecehkan setiap 2 jam, 8 perempuan diperkosa setiap hari sepanjang 2016-2018, ibu tak dapat recovery secara maksimal karena cuti melahirkan tidak memadai, RI belum meratifikasi konvensi ILO 183, lebih dari 400 ribu cerai talak per tahun – ada 2 juta pernikahan per tahun, serta perempuan yang rentan dan negara tak bikin women crisis center.

Baca juga: Bapak Poligami, Ibu Pura-pura Bahagia, Anak Tak Dilibatkan

Hari Ibu semestinya juga membuat kita sadar tentang perempuan yang putus akses pendidikan, ekonomi, dan kesehatan karena berbagai hal dan hanya bisa pasrah menghadapi tindasan patriarki, single mom yang mencoba mandiri karena melawan lalu jungkir balik mencari nafkah untuk dia dan anaknya, berjibaku juggling mencari nafkah dan memberi kasih sayang anak, adakah yang peduli dengan daycare murah atau gratis? Sepertinya minim perhatian.

Yang sungguh nyata kita lihat hari ini wajah-wajah sumringah dalam billboard, poster, dan postingan di media sosial. Padahal, Hari Ibu layak diperingati setiap hari, karena setiap hari adalah perjuangan yang sangat berat bagi perempuan.

Hari Ibu seharusnya dijadikan tonggak pergerakan harian. Iya, harian. Bukan sekadar membuat pabrik kata-kata manis, menebarkan buih ludah palsu ke berbagai platform. Hari yang menjadi penanda Kongres Perempuan bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka ini, mengalami penyempitan makna.

Baca juga: Suka atau Tidak, Takkan Ada Hari Ibu Tanpa PKI

Ya, semestinya menjadi pergerakan harian kita. Membantu perempuan usia senior membawa barang di kendaraan umum, melindungi mereka dari pelecehan, bersama memberikan edukasi bahwa catcalling membuat perempuan tidak nyaman. Bersama mendesakkan agenda-agenda besar cuti melahirkan lebih panjang, daycare, dan women crisis center. Upaya-upaya itu tidak bisa berjalan hanya bermodalkan peringatan Hari Ibu setahun sekali.

Semisal, cuti hamil 6 bulan. Ini penting untuk pemulihan fisik, mental, dan berdua bersama newborn baby menikmati hubungan ibu-anak yang terjalin dalam pemberian ASI. Perusahaan harus untung, itu harus. Namun, perlu diingat, orang-orang yang bekerja di perusahaan sedang mencari nafkah untuk keluarga. Dan, keluarga adalah sumber energi dan inspirasi pekerja.

Di beberapa negara lain, cuti hamil 6 bulan sebetulnya sudah diterapkan. Contohnya, di India. Negara itu menjadi negara yang memberikan cuti melahirkan terlama ketiga di dunia setelah Kanada dan Norwegia.

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Jika India memberlakukan cuti hamil 24 pekan (6 bulan), Norwegia dan Kanada memberikan durasi cuti hamil masing-masing selama 50 dan 44 pekan. Bahkan di Swedia, selain cuti hamil, juga berlaku cuti ayah. Lalu, kapan Indonesia?

Selamat Hari Ibu untuk semua perempuan Indonesia. Saya akan bertarung sebagai aliansi di sebelahmu. Tidak di depan untuk mendiktemu, tidak di belakang untuk menjadikanmu sebagai tameng. Di sebelahmu. Kita robohkan dinding patriarki secara bersama-sama.

Maaf, jika tulisan ini bukan kata-kata yang manis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini