Ilustrasi memasak (Photo by One Shot from Pexels)

Saya pernah menulis artikel berjudul “Antara Memasak, Gender dan Saya” untuk website Aliansi Laki-laki Baru. Intinya memasak adalah salah satu keahlian yang bisa dimiliki oleh setiap manusia untuk bertahan hidup. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan gender.

Belakangan ini, sempat viral screenshot WA seorang perempuan yang kena damprat pacarnya. Perempuan ini mengirim makanan yang dimasak sendiri untuk sang pacar dan ibu alias calon mertua (camer). Tapi apa daya, ternyata masakannya dianggap nggak enak oleh si ibu. Bahkan, menurut sang pacar, kucing pun enggan memakannya.

Kemudian, sang pacar menyuruh perempuan ini untuk belajar masak agar ia yakin bisa melamarnya jadi istri. Kalo nggak, siap-siap aja dianggap tidak cukup baik sebagai ibu rumah tangga. Nggak hanya sama suami, tapi juga mertua.

Terlepas dari apapun kemungkinan dari kisah tadi, kita tak bisa memungkiri bahwa masalah itu begitu dekat dan nyata di tengah masyarakat yang patriarkis. Karena itu, perkara memilih calon pasangan hidup memang sebaiknya jangan hanya terfokus pada si doi, tapi juga keluarganya. Meskipun, risikonya kita dianggap sinis, terlalu pemilih, hingga disumpahi bakal makin ‘berat jodoh’.

Baca juga: Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Memang sih, agak ribet kalau dari awal gelagat mertua toksik nggak langsung kelihatan. Banyak yang awalnya manis-manis saja. Tapi setelah sah, sah, sah jadi mantu, mulai timbul konflik. Raut muka mertua yang semula manis berubah jadi asemm.

Namun, jika sejak awal sudah terlihat jelas pertentangan dari keluarga si pacar, semisal dari ibunya, semua balik lagi ke diri masing-masing. Mau lanjut atau bubar? Apalagi, kalau sikap pacar yang negatif dan lebih banyak menuntut, tapi merasa nggak perlu memperbaiki diri sendiri. Sikap seperti itu bisa terbentuk karena faktor lingkungannya, terutama keluarga.

Ini bukan bermaksud untuk mendikte kamu agar tidak menerima pasangan karena calon mertua merasa bahwa kamu kurang baik buat putranya. Ini hanya untuk persiapan bagi siapapun biar nggak sakit hati, jika kelak harus menghadapi hal-hal seperti itu.

Baca juga: Tanda-tanda Relasi yang Sehat, Berkaca dari The King: Eternal Monarch yang Uwu-uwu

Biasanya, selain persoalan masak, masalah fisik seperti kurang langsing, kurang tinggi, kurang putih, nggak bisa dandan, dan segala hal terkait ‘standar kecantikan’ juga jadi persoalan. Belum lagi faktor lain, semisal latar belakang keluarga, pendidikan, dan sebagainya.

Perempuan kayaknya selalu dianggap kurang aja. Giliran protes malah dibilang kurang ajar, hihi…

Bagi sebagian orangtua, calon pendamping hidup pilihan anak nggak akan pernah cukup baik, karena ideal itu hanya milik Tuhan, aisshh… Sebaik apapun berusaha menyenangkan hati mereka, pasti akan selalu ada yang kurang. Sebab itu, ada benarnya jangan melulu terfokus bagaimana caranya menyenangkan hati mereka. Hati kita sendiri siapa yang mikirin?

Mungkin, ibu saya adalah contoh yang cukup beruntung. Saat baru menikah dengan ayah, dia sama sekali nggak bisa masak. Alih-alih didamprat atau dinyinyirin mertua, ayah dengan senang hati mengajari ibu memasak. Sebab ayah sempat ngekos selama kuliah dan memasak untuk mengirit pengeluaran. See, memasak adalah salah satu skill setiap manusia yang bisa membantunya untuk bertahan hidup. Dan, laki-laki yang bisa masak juga biasa-biasa saja.

Baca juga: Lelaki Memasak di Dapur Itu B Aja

Kalau kita terus saja mengikuti konstruk sosial yang mendiskreditkan perempuan, ya alamat makan hati deh. Lalu, curhat ke ruang publik? Siap-siap aja dapat ocehan nitijen-nitijen yang nggak banget. Biasanya, ada yang nyuruh kita untuk bersabar alias nrimo, seperti layaknya standar ‘perempuan baik’ yang berlaku. Ada pula yang malah langsung menyalahkan kita karena nggak bisa mengambil hati mertua.

Belum lagi, kalau pasangan ternyata enggan membela alias cenderung pro keluarganya. Pernikahan jadi malah bikin stres. Apalagi, tinggal satu atap pula dengan mertua di rumahnya. Lengkap deh.

Ini adalah gambaran nyata bahwa nggak hanya karakter calon pasangan hidup, karakter keluarganya juga berperan besar dalam langgeng atau tidaknya hubungan asmara. Jadi, ini bukan untuk mengajak siapapun untuk tidak respek sama mertua atau orangtua. Bukan, bukan itu.

Artikel populer: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Seorang teman sampai bercerai hanya gara-gara omongan mertua. Ceritanya, setelah lama menikah, mereka belum juga punya anak. Teman saya itu sering dituduh nggak niat punya anak atau kurang berusaha. Suaminya pun selalu menyudutkannya, sehingga mereka sering ribut. Akibatnya, si suami melakukan KDRT, kemudian mereka cerai. Serius, ini bukan lagi ngomongin drakor.

Kalau sudah tahu bahwa karakter calon pasangan dan keluarganya seperti itu, wajar bagi kita untuk bertanya-tanya, “Lanjut atau berakhir sampai di sini?” Jangan pernah menuntut pasangan harus memilih antara kamu atau ibunya. Pilihan ada di tangan kita sendiri. Dan, ini bukanlah akhir dari segalanya.

Jadi, untuk apa merelakan diri tersiksa, apalagi ‘atas nama cinta’? Kita berhak dicintai sepenuhnya, dianggap baik, dan paling penting…

… bahagia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini