Hantu dalam Lipatan Buku dan Manusia Berjalan Tanpa Kepala

Hantu dalam Lipatan Buku dan Manusia Berjalan Tanpa Kepala

Ilustrasi (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

Ada hantu gentayangan dalam lipatan-lipatan buku di Indonesia, hingga akhirnya diperlukan tim pemburu hantu untuk membasminya. Alasannya sederhana, karena hantu-hantu itu dianggap berpotensi mengganggu stabilitas keamanan negara dan dirasa cukup meresahkan.

Padahal, masyarakat kita sudah terbiasa menikmati komodifikasi tentang hantu dari layar televisi. Bahkan, sebelum ada acara guyonan nggak lucu yang bernada seksis dan mengotori pikiran umat, setiap hari para hantu sudah akrab di mata warga. Begitulah kita kebanyakan, sering menjauhi sesuatu yang dianggap tabu sambil diam-diam menikmatinya.

Saya pun penasaran tentang hantu-hantu yang diburu itu. Konon, perburuan hantu-hantu itu katanya sudah mendapatkan legalitas dari pihak yang berwajib dan yang tercyduk sudah banyak jumlahnya. Mulai dari pelapak buku di Yogyakarta, Kediri, Padang, hingga dua remaja bervespa pegiat perpustakaan jalanan di Probolinggo.

Bahkan, bagi siapa saja yang menyebarluaskan ideologi para hantu itu bisa diganjar sanksi pidana. Lha, kok takut sama hantu? Takut tuh sama Tuhan!

Baca juga: Hati-hati Kalian yang sudah Berpasangan, Ada Hantu Flamboyanisme

Sebagai manusia, tentu memiliki keingintahuan. Mustahil, rasa ingin tahu itu tenggelam sebelum matahari terbit dari barat. Saya pernah membaca tanggapan dari para pemikir, salah satunya Bung Ariel Heryanto, tentang dari mana kita bisa mengetahui banyak hal. Bagi sosok yang enggan dipanggil profesor ini jawabannya ada di dalam buku. Pada tulisan motivasi di dinding-dinding sekolah juga begitu, “Buku adalah jendela mengetahui dunia”.

Makanya, agak heran ketika banyak penggerebekan dan tuduhan penyebaran ideologi hantu kepada para pelapak buku dan pegiat perpustakaan jalanan saat menjejer buku yang katanya ada hantunya. Hantu, hantu, hantu, titik.

Padahal, hanya ada dua kemungkinan dari mereka. Pertama, pelapak yang mencoba menyambung hidup. Kedua, perpus jalanan yang berusaha menjemput calon pembaca guna meningkatkan minat baca masyarakat.

Soal menyambung hidup bisa bagaimana saja caranya. Ada yang menjadi Pegawai Negeri Sipil, ada yang menjadi aparat keamanan, atau ada pula yang menjadi politisi. Soal itu, saya nggak mau tahu, tapi yang saya tahu omzet penjualan buku bagi pelapak nggak sebanding dengan nominal uang yang masuk rekening mereka.

Baca juga: Tikus Pustaka v Kuda Pustaka

Ditambah lagi, dengan gempuran buku bajakan digital seperti sekarang, nasib pelapak buku semakin tidak menentu. Sekali-kalinya ada buku yang diminati banyak pembaca, malah buku-buku tentang kepiluan ‘para penikmat senja’. Padahal, yang dinanti kan revolusi mental, lha kok yang datang malah Fiersa Besari, kata seorang kawan penggila Gabriel Garcia Marquez.

Bagi pegiat perpus jalanan tentu buku punya fungsi dan kegunaan yang berbeda. Secara swadaya, mereka mengumpulkan buku-buku yang dianggap layak baca, penuh pesan moral, mengulas sejarah, dan pemikiran para pendiri bangsa.

Tanpa mengharap bantuan dari negara, mereka menjejer buku baris demi baris di beberapa pusat aktivitas warga. Harapannya sederhana kok, “Ayo membaca agar semakin terang dunia”.

Ironis, saat rendahnya minat baca masyarakat kita menjadi perbincangan warga dunia, yang terjadi justru penggerebekan dan penyitaan buku yang dianggap sebagai tempat hantu bergentayangan. Padahal, buku-buku tersebut juga dibaca oleh warga dunia sebagai pengetahuan. Bahkan, di negara yang anti-hantu dari duluuu. Pantas, mereka lebih tahu dan maju.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Tapi tentu minat baca bukan diukur dari seberapa banyak festival buku digelar dan diskon gila-gilaan, bukan! Sebab, kalau itu sih namanya mengukur minat membeli buku, bukan minat membaca buku.

Apa nggak ada hal lain yang lebih masuk akal selain menggerebek dan menyita buku-buku? Tuh, gerebek dong persembunyian Eddy Tansil yang merugikan negara triliunan rupiah atau gerebek pelaku tindak kekerasan terhadap Novel Baswedan yang sampai kini masih misteri. Sita dan miskinkan koruptor, bukan sita dan miskinkan pelapak buku.

Suka atau tidak, kini kita semakin lumpuh dalam membaca dan gagap literasi. Terbukti, mayoritas kita lebih menikmati hidangan ceramah provokatif di YouTube sampai lupa membawa akal pada pertemuan-pertemuan politis pragmatis. Atau, mayoritas kita lebih menikmati ujaran ilusi, “Heh… Jangan kritik pemerintah terus, ngaca dulu dong.”

Buku bagi golongan yang sok-sok’an intelektual dan akademisi mungkin hanya jadi pajangan wajib di ruang tamu, dibuka ketika mulai berdebu dan dinikmati oleh si pemiliknya. Tentu memilikinya dengan cara membeli dan membeli pasti pakai uang.

Artikel populer: Wawancara dengan @InfoMemeTwit: Indonesia Perlu Swasembada Hantu

Bagi golongan yang tidak mampu membeli buku, mungkin masih ada perpustakaan daerah atau kota yang bisa diakses. Tapi, bagi yang sehari-hari sibuk bekerja, boro-boro ke perpustakaan. Niat baca buku aja sulit.

Lagipula, hari gini mana ada sih perpustakaan yang buka 24 jam? Sekalipun ada, palingan hantu yang baca. Hantu lagi, hantu lagi.

Nah, makanya untuk menjawab rasa keingintahuan warga, solusinya ada pada mereka yang menjejer buku di perpustakaan jalanan. Mereka menjemput pekerja, pejalan kaki, orang dewasa, dan anak-anak untuk membaca, walau selembar dua lembar. Biar nggak baca buku rekening terooss, bikin pusing. Atau, sekalipun mengoleksi buku, buku nikah. Sampai empat lagi, eh?

Hantu di balik lipatan buku memang pernah punya sejarah. Tapi paranoia terhadap beredarnya buku-buku, sehingga ia harus dibinasakan, itu lebih berbahaya. Di balik ilusi ketakutan yang ditebar selalu ada rasa keingintahuan yang terpendam. Tanpa pengetahuan, manusia bagai berjalan tanpa kepala.

Hiiiyyy… Takut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.