Halo Bos, Ini Alasan Mengapa Usia Pelamar Kerja Tak Perlu Lagi Dibatasi

Halo Bos, Ini Alasan Mengapa Usia Pelamar Kerja Tak Perlu Lagi Dibatasi

Ilustrasi (Balik via Pixabay)

Sampai sekarang, perdebatan mengenai apa yang seharusnya dilakukan lulusan perguruan tinggi setelah menamatkan pendidikan, masih belum tuntas.

Secara umum, entah karena sikap pragmatis atau bukan, hampir semua orang akan langsung berpikir untuk mencari pekerjaan setelah diwisuda. Bekerja di perusahaan atau lembaga-lembaga profitabel, semisal sekolah, kampus, dan lain-lain.

Sebagian lainnya berpikir untuk menciptakan usaha sendiri, dan bila memungkinkan membuka lapangan kerja. Tapi itu jumlahnya tidak banyak. Apalagi yang sampai benar-benar sukses merealisasikan jalan pikirannya itu. Ujung-ujungnya terjerembab juga menjadi karyawan.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan kredo “sepatutnya seorang sarjana tidak menjadi karyawan, melainkan menjadi bos”. Itu malah bagus. Namun, dalam kehidupan yang fana ini, kadang-kadang kita perlu juga menyikapinya secara realistis.

Lagipula, kalau semua lulusan universitas menjadi bos, lalu yang direkrut siapa? Siapa yang akan menjadi pekerja? Apalagi, saat ini, banyak dibutuhkan tenaga-tenaga kerja yang memiliki skill beragam dan spesifik. Tak semua bos paham, kan?

Tapi, yang jadi pertanyaan, mengapa hampir semua perusahaan selalu mencantumkan sejumlah batasan dalam iklan lowongan kerja mereka? Itu berlangsung sejak dulu, sampai sekarang tidak ada perubahan.

Biasanya, batasan-batasan itu mencakup jenis kelamin, usia, level pendidikan, jurusan, pengalaman, dan domisili. Bahkan, ada juga yang ‘main fisik’ dengan membuat batasan sesuai tampang dan tinggi badan.

Untung saja tidak ada yang membuat batasan privat seperti status keperjakaan atau keperawanan. Eh, atau barangkali masih ada?

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Batasan-batasan itu bisa dipahami sebagai upaya perusahaan menyaring para peminat. Perlu digarisbawahi ya: peminat, bukan pelamar. Sebab, yang berminat belum tentu bisa melamar. Dan, di situ, letak masalahnya.

Pertama, soal jenjang pendidikan dan jurusan. Dalam sebuah iklan lowongan kerja yang membutuhkan teknisi, misalnya. Seorang yang memang sudah mumpuni untuk pekerjaan teknisi bisa saja langsung gugur sejak dalam pikiran, lantaran ia hanya tamatan SMP atau jurusan kuliahnya filsafat atau ekonomi.

Dalam kasus seperti ini, banyak perekrut yang terang benderang menunjukkan bahwa mereka lebih membutuhkan selembar sertifikat bernama ijazah sebagai bukti akademis ketimbang menguji kemampuan secara langsung.

Kedua, soal usia, dan inilah poin utama yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Pembatasan usia acapkali menunjukkan sikap ambigu dari perekrut.

Bayangkan, salah satu syarat yang dicantumkan dalam iklan lowongan kerja adalah pengalaman. Tapi, di syarat lain, mereka membatasi usia. Itu kan namanya kontradiktif.

Baiklah, semisal perusahaan memang tidak membutuhkan orang yang berpengalaman. Mereka hanya sekadar membatasi usia peminat. Tapi, tetap saja ada nalar yang tak beres dari pembatasan tersebut. Apalagi, dalam kenyataannya, rentang usia yang dibatasi tidak jelas dasar pertimbangannya.

Biasanya, perusahaan swasta membatasi usia maksimal pelamar kerja pada kisaran 25-28 tahun. Begitu juga dengan BUMN. Padahal, secara jasmani, apa bedanya usia 25 tahun dengan usia 30 atau 35 tahun?

Baca juga: Bekerja di ‘Agency’ Tak Seperti yang Dikatakan Banyak Orang

Paling tidak, kalaupun perekrut memang harus membatasi usia calon pelamar, kenapa tidak mengikuti pembagian umur menurut standar kedokteran atau Departemen Kesehatan saja?

Usia 0-5 tahun itu tergolong balita, 5-11 tahun tergolong kanak-kanak, 12-16 tahun tergolong remaja awal, 17-25 tahun tergolong remaja akhir, 26-35 tahun tergolong dewasa awal, 36-45 tahun dewasa akhir, dan seterusnya.

Perhatikan bagian golongan dewasa awal. Secara fisik dan mental, sesungguhnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara mereka yang berusia 26 tahun dengan yang sudah mencapai 30-35 tahun.

Rentang usia tersebut sama-sama tergolong masa dewasa awal, yang mana kekuatan dan kesehatan fisik serta mental mereka rata-rata sama.

Sederhananya, tidak ada jaminan bahwa orang yang berusia 26 tahun lebih produktif dan tidak bakal sakit-sakitan dibanding orang yang sudah berkepala tiga. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa orang yang berusia 30-35 tahun lebih pintar dan matang dari orang yang berusia 26 tahun.

Oke, katakanlah perusahaan cemas kalau peminat yang usianya terlampau ‘ketuaan’ bakal menuntut gaji yang lebih tinggi, entah karena merasa sudah berpengalaman atau jenjang pendidikannya lebih tinggi. Anggaplah pembatasan usia pada rentang 25-28 tahun adalah siasat untuk menghindari hal tersebut.

Tidakkah itu gegabah – kalau bukan diskriminatif? Bukankah lebih elok, jika perusahaan memberikan opsi atau penawaran, semisal dengan kalimat:

“Kami tahu, Anda sudah berpengalaman/S2. Tapi apakah Anda berkenan jika kami menggaji Anda setara dengan yang fresh graduate/S1? Jika Anda tidak keberatan, kami siap mempekerjakan Anda.”

Artikel populer: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Penjelasan tersebut akan memberi kesan profesional dan adil, wahai bos-bos perusahaan yang baik hati. Perlu Anda ketahui juga bahwa di luar sana banyak orang yang berpengalaman dan berpendidikan tinggi, yang sesungguhnya tidak terlalu memikirkan besaran gaji.

Orang-orang seperti itu biasanya sadar bahwa besaran gaji adalah perkara loyalitas dan prestasi selama bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

Ngomong-ngomong soal diskriminasi dalam lapangan kerja di Indonesia. Itu tentu bertentangan dengan UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Diskriminasi yang dimaksud berupa pembedaan atas dasar agama, suku, ras, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, dan keyakinan politik.

Secara gamblang memang tidak tertulis ‘usia’ di sana. Namun, usia masuk ke dalam status sosial sebagai ascribed status, yakni status yang didapat seseorang sejak lahir.

Saya sendiri pernah melamar kerja ke puluhan perusahaan. Semuanya perusahaan media yang konon orang-orang di dalamnya memiliki nalar yang lurus lagi benar. Namun, semuanya menolak karena faktor usia dan status S2 yang melekat pada saya.

Tim redaksi sebuah media di Jakarta, misalnya, saat mewawancarai saya beberapa waktu lalu, dengan konyolnya berkata, “Waduh, segan pula kami nyuruh-nyuruh anak S2, soalnya kami cuma S1.” Mereka juga bilang, “Kamu sudah 30 tahun. Apa tidak malu jadi wartawan? Kapan lagi kawinnya?”

Terus, bagaimana dengan pembatasan jenis kelamin, domisili, tampang, dan tinggi badan? Ya gitu deh.

Misalnya untuk lowongan sekretaris kantor. Tentu saja mereka lebih menyukai pelamar perempuan ketimbang laki-laki. Kalau bisa kayak personel Blackpink, aye ayee… Apalagi, kalau bos perusahaannya laki-laki.

Sama halnya dengan cara pandang dan perlakuan terhadap pelamar soal tampang, tinggi badan, dan domisili. Pokoknya kalau bos atau perusahaan mah bebas, pelamar kerja mau apa? Ya suka-suka mereka sih kalau hari gini masih kolot.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.