Hal yang Penting Kita Ketahui dari Kasus Narkoba Artis, Nietzsche Ada Benarnya

Hal yang Penting Kita Ketahui dari Kasus Narkoba Artis, Nietzsche Ada Benarnya

Ilustrasi (Image by PublicDomainPictures from Pixabay)

Nunung, kemudian disusul Jefri Nichol. Mereka menggemparkan publik karena tertangkap menggunakan narkoba. Dan, seperti biasa, pertanyaan klasik ini muncul kembali dalam masyarakat kita: Bagaimana bisa orang yang (dianggap) bahagia malah mencandui barang haram tersebut?

Pertanyaan itu muncul karena masih ada anggapan bahwa orang-orang kaya, terlebih mereka populer, pasti hidupnya bahagia. Apalagi, mereka adalah selebtwit atau selebgram artis yang memiliki penggemar militan, sehingga punya kans disanjung setiap hari.

Imbasnya, banyak orang memandang atau setidaknya pernah meyakini bahwa menjadi kaya dan populer adalah akhir kebahagiaan yang dicari selama ini.

Padahal, kenyataannya bisa jadi jauh panggang dari api. Tidak ada garansi bahwa masalah hidup kita bakal makin ringan seiring naiknya kelas sosial. Malah, masalah akan terus bertambah karena menyesuaikan diri dengan kondisi terkini.

Baca juga: Ketika Citra Keluarga Ideal Tiba-tiba Buyar

Itulah mengapa masalah harus dihadapi, diselesaikan, untuk bisa naik level dan menghadapi masalah-masalah lainnya. Siklus tersebut terjadi sejak kita lahir dan baru berakhir ketika kita mati. Dengan kata lain, meskipun kaya dan terkenal, hidup mungkin tetap terasa berat.

Saya sempat menonton wawancara Nunung di TV via YouTube (YouTube, YouTube, YouTube lebih dari TV, Boom!). Perempuan kelahiran Solo itu bercerita bahwa harapan hidup menjadi alasan utama menggunakan narkoba.

Apa yang ingin Nunung wujudkan tak dapat dibilang mudah. Dia ingin membiayai cucunya yang harus bersekolah di tempat khusus karena penyandang disabilitas. Dan, terus membiayai kuliah anaknya di universitas yang bagus. Sebagai jalan keluar, Nunung pun mengambil banyak pekerjaan, meski menurut dia bahwa fisiknya sudah tak sanggup lagi memikul pekerjaan tersebut.

Baca juga: Lepas dari Kesepian dengan Cara yang Indah

Pada saat-saat itulah, dia merasa stres dan melihat narkoba seolah-olah sebagai solusi. Nyatanya, barang terlarang itu tak pernah menjadi solusi. Narkoba, sebagaimana yang kita ketahui, hanya menawarkan pelarian, bukan menyuguhkan keberanian dalam menghadapi masalah.

Pada akhirnya, kebahagiaan semu yang ditawarkan barang haram itu harus dibayar Nunung. Tak hanya dengan uang, tetapi juga dengan rusaknya relasi dengan orang-orang terdekat, dan kini reputasinya. Saya rasa, walau beda jalan cerita, masalah serupa juga menimpa Jefri Nichol.

Ironisnya, Jefri Nichol dan Nunung bisa jadi bukan nama terakhir dari kalangan artis yang terjerat narkoba. Selama tekanan untuk menjadi ‘sempurna’ itu ada, maka ancaman untuk merasakan hidup kesepian juga bakal terasa bagi mereka. Dari situlah narkoba menemukan jalan untuk menawarkan wahana eskapis (yang semu). Bisa melalui godaan rekan hingga hasrat untuk mencari sendiri.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari kasus narkoba artis? Nggak usah jadi artis aja? Rugi di saya dong. Sebenarnya, ada dua. Pertama, berhentilah menuntut idolamu untuk berlakon ideal.

Perlu diingat, masalah pribadi mereka bisa jadi lebih memusingkan daripada cicilan bulananmu. Alih-alih membuat beban hidup mereka menjadi lebih ringan, publik bisa jadi malah menambah beban mereka. Sementara, orang-orang dalam sirkelnya tak mau atau gagal memahami.

Kedua, Amor fati. Soal ini, Friedrich Nietzsche ada benarnya. Cintailah takdirmu. Karena kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang seharusnya dilakukan dari hari ke hari. Apalagi, dalam hidup yang penuh dengan skenario kejutan.

Jika kamu tak bisa mencintai takdirmu hari ini, apa yang membuatmu yakin bisa mencintai takdirmu esok hari? Semisal, ketika kamu sudah terkenal dan menjadi kaya?

Artikel populer: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Pemahaman seperti itu bisa menjadi salah satu solusi untuk membuat diri kita menolak eskapisme yang ditawarkan narkoba atau wujud lain yang bikin nyandu.

Seperti kata Nietzsche dalam bukunya berjudul The Gay Science, “Saya ingin belajar lebih banyak untuk melihat keindahan dalam berbagai hal; karena saya ingin menjadi salah satu dari mereka yang menimbulkan keindahan. Amor fati: biarkan saya mencintai takdir saya sendiri!”

Lalu, dia juga bilang, “Saya tidak ingin berperang melawan apa yang dianggap jelek. Saya tidak ingin menuduh dan saya tidak ingin menuduh mereka yang menuduh. Memalingkan muka berarti saya telah menyangkal. Dan, secara keseluruhan dan keseluruhan: suatu hari saya ingin menjadi manusia yang tegas dan percaya diri.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.