Hal-hal yang Seharusnya Disampaikan Aktivis Dakwah dalam Kampanye Cokelat Simbol Maksiat

Hal-hal yang Seharusnya Disampaikan Aktivis Dakwah dalam Kampanye Cokelat Simbol Maksiat

Ilustrasi (Lisa Fotios via Pexels)

Hari Kasih Sayang sudah berlalu, tapi perasaanku ketika melewati rak promo cokelat di toserba masih menyisakan trauma masa lalu. Cokelat Valentine pertamaku saat kelas 5 SD. Aku mendapatkannya dari lelaki yang entah bagaimana hidupnya sekarang.

Kata teman-teman dulu, dia naksir aku. Masih kata mereka, kalau aku ingin menerima perasaannya, aku harus memberikan cokelat balasan kepadanya. Tentu saja ide ini kutolak, sebab aku tidak menyukai teman lelaki itu. Aku bahkan belum cukup puber untuk perkara naksir-naksiran.

Selain itu, dan sebenarnya ini alasan utamanya, cokelat yang diberikan lelaki itu bukanlah cokelat enak dari merek favorit. FYI, duit jajan anak SD saat itu memang hanya cukup untuk membeli cokelat bergambar ayam jago. Teksturnya lembek dan tidak murni coklat, rasanya juga ‘gula banget’.

Jadi, bukannya merasa haru menjadi golongan sedikit perempuan yang mendapat cokelat Valentine, tapi justru merasa gengsi memamerkannya di hadapan mereka yang mendapat Silver Queen.

Setelah itu, aku jadi rajin memberi cokelat enak untukku sendiri. Tanpa menunggu dibelikan lelaki yang mengasihi, apalagi menunggu momen Hari Kasih Sayang biar dapat diskonan. Horang kaya mah bebas ngemil cokelat kapan saja.

Baca juga: Jomblo atau Bukan, Kita Semua Sama di Hadapan Promo Valentine

Namun, belum lama ini, teman-teman linimasa mengejutkanku dengan kabar terbaru tentang cokelat. Bahwa sebenarnya cokelat adalah simbol maksiat!!1!1111!

Wow. Sungguh fakta pahit yang begitu menampar. Apalagi, pernyataan itu disampaikan oleh adik-adik mahasiswa aktivis dakwah. Masyaallah, sungguh sebagai alumni aktivis dakwah aku tercengang dibuatnya.

Kenapa aku bisa begitu lalai sampai terlena dengan jebakan kemaksiatan ini, hanya demi membalas dendam masa kecil pada cokelat ayam jago? Aku sampai lupa bahwa pada setiap batang cokelat yang kunikmati, akidahku bisa terancam, seperti kata adik-adik itu.

Jujur, setelah bertahun-tahun di dunia dakwah, aku tidak menyangka kampanya anti V-day bisa seprogresif ini. Dari seluruh printilan perayaan Hari Kasih Sayang, mereka memilih cokelat sebagai poin kritik. Tagline yang diusung pun begitu singkat, tajam, tetapi ear-catching: Cokelat Simbol Maksiat. Membuat orang-orang yang mendengar akan langsung memasukkannya dalam bawah sadar. Jenius sekali.

Kenapa dibandingkan bunga atau boneka, adik-adik aktivis dakwah ini justru menyebut cokelat sebagai simbol maksiat? Karena seperti kekhawatiran mereka atas pendangkalan akidah, cokelat adalah komoditas bisnis yang sedihnya banyak diproduksi dengan menentang konsep akidah dasar umat Islam, yaitu tiada sesembahan selain Allah. Alias semua manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan, bahwa seorang manusia tidak boleh menyembah manusia lain.

Baca juga: Valentine Bukan Budaya Kita, lalu Budaya Kita Apa? Nge-julid?

Tetapi faktanya, dalam produksi cokelat, terdapat praktik pemaksaan ketaatan berlebih dari manusia kepada manusia lain, yaitu perbudakan dan jual-beli manusia modern.

Menurut investigasi BBC, ratusan anak ‘dibeli’ untuk dipekerjakan sebagai budak di perkebunan cokelat di Ivory Coast, Afrika Barat. Daerah ini memang dikenal sebagai penyedia biji cokelat terbesar, setidaknya menyuplai 43% dari kebutuhan biji cokelat dunia. Dengan 600 ribu lahan perkebunan cokelat, komoditas ini menyumbang setidaknya sepertiga pemasukan negara.

Meski begitu, Ivory Coast (bersama Ghana) masih menjadi salah satu negara termiskin di dunia, sebab harga jual biji cokelat mereka jauh sekali dengan keuntungan yang didapat salah satu perusahaan raksasa cokelat olahan.

Lebih jauh lagi, anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun itu harus menghadapi kerja keras tanpa bayaran, jaminan kesehatan, bahkan tidak jarang penyiksaan. Jangankan berbincang soal hak pendidikan, bisa bekerja dengan nyaman saja mereka tidak bisa. Tapi kenapa anak-anak yang sebenarnya di bawah usia kerja ini tetap dipakai? Tentu saja karena harga mereka yang murah.

Apalagi, perbudakan modern tidak membutuhkan ‘biaya perawatan’ sebanyak perbudakan tempo dulu. Dengan begitu, sekali lagi, efektivitas biaya produksi lebih terjaga dan keuntungan bisa lebih banyak didapat.

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Sebenarnya kasus perbudakan anak dalam industri cokelat ini sudah ramai dibahas sejak 2001 melalui Harkin-Engel Protocol atau Cocoa Protocol yang memaksa perusahaan cokelat besar untuk menghentikan perbudakan anak dalam jaringan suplai biji cokelat mereka.

Sayangnya, sepuluh tahun setelah perjanjian itu ditandatangani, CNN melalui The Freedom Project-nya masih menemukan fakta penggunaan tenaga kerja anak yang tidak sedikit.

Selain bukti lapangan, jejak penggunaan pekerja anak ini bisa dibaca dalam laporan perusahaan cokelat terkenal, Hershey, melalui program yang disebutnya “improved supply-chain efficiencies” pada awal 2010.

Menurut catatan John Robbins, Presiden Food Revolution Network, melalui program ‘efisiensi’ itu Hershey bisa menaikkan laba hingga 54%. Apakah kenaikan laba ini akan menaikkan kesejahteraan pekerja anak di kebun cokelat? Tidak semudah itu, Ferguso…

Perjanjian baru terus dibentuk untuk menekan perusahaan besar yang mengambil suplai biji cokelat mereka dari Ivory Coast ini, yang target akhir mereka adalah pembebasan perbudakan pada 2020 (tahun depan, semoga).

Sehingga benar sekali jika sampai hari ini cokelat memang masih menjadi simbol maksiat. Tapi tentu tidak semua. Beberapa perusahaan besar mau melakukan sertifikasi merek cokelat ‘slavery free’ sebagai jaminan produk bisnis etis bagi konsumen “conscious buying” yang mulai memboikot perusahaan mereka.

Artikel populer: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Meski begitu, sertifikasi seperti itu hanya bisa diperoleh perusahaan raksasa. Perusahaan kecil yang sebenarnya juga berbisnis secara etis tapi tidak bisa membayar biaya sertifikasi, tetap berada di bawah radar.

Lalu apa hubungannya denganku yang jauh di Indonesia tetapi menyukai cokelat? Sebagaimana pengalamanku saat SD dulu, tidak semua orang menerima cokelat begitu saja. Ada gengsi tersendiri ketika cokelat yang diterima adalah merek kenamaan luar negeri, bukannya merek lokal ‘cokelat-cokelatan’.

Padahal, seperti kita ketahui, justru merek-merek besar itulah yang sejatinya menjadi simbol kemaksiatan perbudakan modern yang sampai hari ini masih terjadi.

“Tapi, Ukh… Maksud kami bukan maksiat itu,” kata adik-adik mahasiswa yang lalu menjelaskan hubungan memakan cokelat dan ‘efek bahagia’ yang menuntun pada aktivitas ena-ena ilegal. Hadeh… Kalau soal itu sih nggak perlu cokelat juga bisa kali, Ukh. Asal ada kemauan, tanpa hadiah cokelat pun bisa terlaksana setiap hari.

Cokelat Valentine belum tentu jadi simbol maksiat untuk membeli martabat seseorang agar bisa diatur (posisi tidurnya) oleh manusia lain. Tapi secara umum, cokelat memang masih menjadi simbol maksiat praktik perbudakan modern yang sering kita hujat tapi diam-diam turut menikmatinya.

Jadi begitu ya Ukh, semoga info ini bisa menambah khasanah kita untuk ‘merayakan’ V-day tahun depan. Semangat!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.