Ilustrasi (Image by Abie Rachman from Pixabay)

Film bertema kuliner tak jarang terasa ajaib. Contohnya, film animasi Ratatouille yang menceritakan tikus jadi koki. Di semesta Pixar, tikus bisa lebih jago masak ketimbang manusia. Penonton dibuat berkompromi dengan kehadiran seekor tikus di dapur. Padahal, kalau di program investigasi, kemunculan ekor tikus adalah tanda bahwa sebuah kedai bakso harus dijauhi.

Di dunia sinematik ada istilah foodporn. Sebuah jurus mengeksplorasi keindahan lekuk makanan untuk membangkitkan gairah dan nafsu makan penontonnya. Film Indonesia berunsur foodporn yang paling bikin ngiler adalah Aruna & Lidahnya.

Adalah sebuah film dimana Dian Sastro melakukan wisata kuliner dengan Nicholas Saputra sembari menyelidiki kasus flu burung yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Bukannya ketemu kasus, Dian Sastro justru mengalami foodgasm (puncak kenikmatan dalam menyantap makanan).

Pesan moral dari film itu: pekerjaan apapun akan terasa menyenangkan apabila dilakukan sambil makan.

Namun, kredo tersebut belum tentu diamini oleh Chef Juna yang acap kali melepehkan makanan yang dimasak peserta di ajang pencarian bakat memasak. Walaupun pekerjaannya sebagai juri lomba masak cuma icip-icip, kalau rasa makanannya melecehkan indra pengecapnya, Chef Juna bisa bad mood.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Sebaliknya, makanan juga bisa mengundang efek haru. Itulah yang saya tangkap ketika menonton Tabula Rasa, sebuah film penghormatan untuk masakan Padang. Di film ini, gulai kepala ikan kakap bisa terasa sangat sentimental. Tak hanya memanjakan mata dan menggoyang lidah, tetapi juga mengaduk-aduk perasaan.

Dinarasikan bahwa tokoh Emak memasak gulai kepala ikan sebagai bentuk ziarah, mengenang almarhum anaknya yang menyukai masakan khas ranah Minang itu. Ketika Emak berkonflik dengan mantan kepala kokinya, maka gulai kepala ikan yang menjadi konklusi. Kerasnya hati sang koki langsung runtuh begitu menikmati masakan Emak yang penuh nilai historis. Seperti Squidward yang menangis bahagia ketika kali pertama mengudap Krabby Patty.

Di kehidupan sehari-hari, makanan adalah hal pokok. Bahkan, bisa jadi rebutan ketika panic buying. Seruan pemerintah untuk isolasi mandiri dalam menghadapi pandemi Covid-19, disikapi warga sipil untuk menyetok makanan sebanyak-banyaknya di rumah.

Baca juga: Fase-fase dalam Bencana Corona: Setelah Donasi Meredup

Perihal adegan perebutan makanan, sebuah film fiksi ilmiah bertajuk The Platform menggambarkannya secara aneh. Film ini dibuka dengan keriuhan di sebuah dapur. Chef dan koki menyiapkan berbagai hidangan ala restoran berbintang. Ternyata, makanan mewah tersebut disajikan untuk para penghuni penjara.

Dikisahkan sebuah penjara berbentuk menara dimana makanan setiap harinya dikirimkan melalui wadah yang terhenti di setiap lantai dalam waktu tertentu. Tahanan di lantai atas bisa makan enak, yang di bawah kelaparan.

Film ini mencoba menyindir sistem ekonomi kapitalis yang cenderung menguntungkan kelas atas dan membuat orang-orang di bawah menderita. Namun, menjatah makanan untuk setiap tahanan pun bukan jalan keluarnya. Sebab makanan yang tersedia memang tidak akan pernah cukup untuk semua tahanan. Pun, sistem ekonomi sosialis-komunis tidak akan berhasil di penjara ala The Platform.

Pengelola penjara memang tidak serius mencukupi kebutuhan pangan para tahanan. Mungkin pengelola berniat membuat The Hunger Games x Battle Royale di penjara. Kebijakan pengelola jelas tidak manusiawi karena memaksa manusia menyerang manusia lain demi menghindari ancaman kelaparan.

Baca juga: Masih Mikirin Berat Badan di Tengah Wabah?

Di tengah pandemi, isu krisis pangan pun berhembus. Sampai ada berita warga miskin yang meninggal dunia karena tidak makan berhari-hari. Anehnya, pada saat yang sama, petani yang notabene penyuplai bahan pokok makanan justru mengeluh rugi. Hasil panen tidak terserap pasar dan harganya turun drastis. Beberapa petani sampai membagi-bagikan hasil panennya ke tetangga secara gratis.

Bahkan, sempat kejadian harga ayam anjlok. Lalu, dengan berat hati, peternak memusnahkan anak ayam karena tak sanggup beli pakan ternak.

Perkara ini seperti benang merah film distopia, makanan terpaksa dibuang-buang saat ada orang yang kelaparan. Seharusnya, pemerintah bisa hadir di tengah dua konflik itu. Dengan kekuatan sebagai pengelola negara, pemerintah bisa membeli hasil panen petani untuk disalurkan kepada rakyat yang membutuhkan.

Masyarakat yang menaati anjuran pemerintah untuk di rumah saja, butuh bahan makanan untuk masak sendiri. Hal ini bertolak belakang dengan masalah komoditi yang kelebihan stok. Berarti ada mata rantai yang terputus antara produsen dan konsumen akhir. Apakah karena PSBB? Tapi, PSBB tidak membatasi distribusi bahan pokok. Itu jadi pengecualian.

Artikel populer: Jika PSBB di Jakarta Jadi Latar Film Parasite

Sementara, harga kebutuhan pokok di pasaran tergolong tinggi. Hal seperti ini bisa saja membuat Jerinx Superman Is Dead berteori bahwa ada konspirasi permainan harga dengan memanfaatkan isu Covid-19.

Kita butuh peran pemerintah untuk mengatur keseimbangan permintaan dan penawaran kebutuhan pokok di lapangan. Selain memastikan stok pangan untuk rakyat sebagai konsumen akhir, pemerintah juga perlu menjamin pasar yang sehat untuk petani.

Jadi, pemerintah tidak perlu membuka lahan sawah baru. Sawah yang ada saja dimanfaatkan secara proper. Dengan cara, memastikan hasil panen dapat didistribusikan kepada konsumen. Tanpa dicurangi mafia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini