Girls, Seberapa Menor atau Naturalnya Riasan di Wajahmu, Jangan Mau Diadu!

Girls, Seberapa Menor atau Naturalnya Riasan di Wajahmu, Jangan Mau Diadu!

Ilustrasi (Photo by Katarina Šikuljak on Unsplash)

Belum lama ada tweet yang intinya bilang bahwa perempuan yang suka dandan adalah perempuan bodoh, karena cenderung menggunakan uangnya untuk membeli riasan. Sedangkan perempuan pintar katanya hanya akan memakai riasan natural yang sederhana seperti lipstick dan maskara, karena uangnya cenderung dimanfaatkan untuk biaya kursus dan lain-lain.

Tentunya pernyataan tersebut salah besar, sebab persoalan siapa pintar siapa bodoh tak sesederhana itu. Perempuan bisa menyukai riasan menor sekaligus gemar membaca buku. Perempuan yang mandiri secara finansial atau bahkan yang masih bergantung pada orangtua, masih bisa menata keuangannya untuk memperkaya diri secara ilmu maupun fisik.

Tapi memang, perlu banyak kritik mengenai tren kecantikan hari ini yang berupaya memanfaatkan rasa tidak percaya diri perempuan. Namun, kali ini, fokusnya bukan itu.

Perempuan bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk produk riasan, sekaligus menghabiskan uang dalam jumlah yang sama untuk beli buku yang kadang cuma ada dalam Bahasa Inggris. Kalau perlu ikut kursus bahasa hingga kursus makeup juga, yang nggak tanggung-tanggung harganya sampai jutaan.

Saya pernah melakukannya, menghabiskan uang untuk lokakarya yang harganya sampai Rp 5 juta dan membeli satu set makeup yang harganya juga jutaan.

Baca juga: Sisi Lain Gerakan ‘No Makeup’, Pengikutnya juga Wajib Tahu

Tentunya, ini bukan untuk menarik perhatian lelaki. Ilmu dari kursus yang harganya jutaan itu untuk meningkatkan kapasitas diri agar bisa bekerja lebih baik. Begitu juga dengan makeup. Beli makeup mahal-mahal bukan untuk menyenangkan pandangan mata laki-laki, melainkan untuk kesenangan sendiri sebagai sebuah hasil karya.

Lagipula, makeup yang dikatakan natural oleh banyak orang itu menggunakan campuran alas bedak yang harganya sangat mahal. Semakin mahal alas bedaknya, semakin terlihat natural karena menyatu dengan warna kulit, menutup pori-pori, dan tahan lama hingga berjam-jam.

Kalau kamu pikir perempuan pintar nggak suka dandan, justru ada perempuan yang saking pintarnya memilih makeup yang mahal agar tak terlihat menggunakan makeup. Mereka juga pintar mengoles adonan makeup ke wajahnya. Ini butuh keahlian yang bisa didapatkan dari kursus makeup dan menonton video tutorial di YouTube selama berjam-jam.

Baca juga: Ketika Perempuan Ditakar dari Riasan Wajahnya dalam Ajang Pencarian Bakat

Perempuan ini juga suka baca buku, bahkan memahami implikasi sosial dari tren kecantikan. Perempuan yang pintar juga mendorong agar produk makeup mengikuti warna kulit yang ada.

Saya pun nggak yakin kalau perempuan yang pintar baca buku sekaligus pintar merias diri, mau sama lelaki yang suka membanding-bandingkan perempuan dan membuat mereka saling berkompetisi tidak sehat. Memangnya kamu pikir perempuan itu apa, bisa diadu-adu? Terus, ‘pemenangnya’ bisa dapetin kamu, gitu? Monmaap neh, jangan GR dulu!

Lantas, kamu pikir dari mana perempuan yang dikatakan bodoh itu bisa mendapatkan uangnya untuk membeli makeup? Ya dari hasil kerjanya sendiri donggg… Nggak pakai uangmu kok.

Tentunya, perempuan yang pintar tidak mudah dibodoh-bodohin dengan dikotomi semacam itu. Bahkan, mereka akan cenderung memilih untuk bersekutu dengan perempuan lain guna melawan pembodohan massal seperti ini. Perempuan pintar akan mengangkat perempuan yang lain, baik yang berbeda dengan dirinya maupun yang sama.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Jadi, ngapain sih bandingin perempuan yang satu dengan yang lainnya? Memanipulasi perempuan agar mereka mau sama kamu? Ironis sekali.

Kalau memang nggak percaya dengan diri sendiri, ya nggak usah ngajak-ngajak. Perempuan tahu kok bahwa mereka cantik dan tentunya nggak butuh pengakuan lelaki untuk merasa cantik. Apalagi, dari laki-laki yang suka membanding-bandingkan perempuan. Termasuk, membandingkan dan menilai perempuan dari seberapa menor atau naturalnya riasan wajah.

Ini semacam taktik adu domba yang berusaha mengadu satu perempuan dengan yang lainnya supaya mereka berseteru. Sama dengan taktik devide et impera ala penjajah ketika berusaha menyedot sumber daya alam kita. Nah, ketika perempuan berseteru satu sama lain, laki-laki berstrategi untuk mendominasi dan mengambil keuntungan.

Artikel populer: Aku Memantaskan Diri Bukan untuk Dilamar Kamu

Itulah mengapa masih ada upaya untuk mengkotak-kotakkan perempuan antara yang menor dan ‘natural’, antara yang pintar dan bodoh, perawan nggak perawan, bekerja dan tidak bekerja, melahirkan normal dan sesar, sampai membandingkan antara perempuan cis dan transpuan dengan menggunakan istilah ‘perempuan beneran’ dan ‘perempuan bohongan’.

Memang tidak ada yang salah memiliki preferensi tertentu. Namun, kita perlu sadari bahwa preferensi bisa datang dari konstruksi sosial yang bias, serta asumsi-asumsi yang seksis dan misoginis, bahkan bisa jadi rasis.

Lagipula, ngapain sih ngomongin preferensi layaknya iklan biro jodoh? Seperti iklan yang menciptakan konstruk kecantikan agar produknya dibeli? Ups… Ketahuan deh!

1 COMMENT

  1. Selalu suka baca tulisan2 kamu Dea. Really thought provoking dan semoga bisa “menampar” para pria (juga wanita) yang masih berpikiran sempit seperti itu.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.