Giliran Sakit Hati Ujung-ujungnya ‘Revenge Porn’, Katanya Cinta?

Giliran Sakit Hati Ujung-ujungnya ‘Revenge Porn’, Katanya Cinta?

Ilustrasi perempuan (Photo by Alex Boyd on Unsplash)

Baru-baru ini, publik terkejut dengan penangkapan JAA, aktivis salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Apakah pencidukan pria yang diramal bakal jadi politikus hebat itu gara-gara sikapnya yang kritis? Oh tidak, ia menjadi tersangka kasus penyebaran konten pornografi.

JAA menyebarkan foto dan video yang berisi adegan seks dirinya dengan seorang perempuan yang kala itu menjadi pacar pelaku (kini mantan). Hal itu dilakukan JAA karena merasa sakit hati, sebab hubungannya tidak direstui orangtua sang pacar.

Apa yang dilakukan JAA sebetulnya tak hanya tindakan kriminal penyebaran konten pornografi, tapi juga kejahatan seksual revenge porn atau pornografi balas dendam. Revenge porn adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan oleh partner atau mantan kekasih/istri tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Lagi-lagi, korbannya adalah perempuan.

Baca juga: Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam

Parahnya, alih-alih berempati terhadap korban, malah banyak yang berburu link dan videonya. Lebih parah lagi, ada saja orang-orang berotak mini yang terus menerus membuat pemakluman atas kekerasan seksual tersebut.

“Kasian putus asa gak dapat restu.”

“Dia begitu biar disetujuin sama orangtua si cewek.”

“Ya namanya juga laki-laki, kalau sudah cinta mati apa saja ditempuh.”

Apa-apaan ini?! Bersimpati pada kekerasan atas nama cinta? Atas nama keputusasaan karena tidak direstui orangtua pacar? Menjadi pemakluman dalam penyebaran foto dan video tubuh orang lain tanpa persetujuan?

Segitu parahnya ‘budaya memerkosa’ atau rape culture ini, menjadi biang kerok minimnya kesadaran masyarakat terhadap kasus-kasus kekerasan seksual. Bahkan, untuk sekadar berempati.

Kekerasan seksual tetaplah kekerasan seksual. Mau dasarnya cinta kek, kasih sayang kek, bullshit! Merebut harkat dan martabat siapapun, termasuk pada orang yang katanya paling kamu cintai, adalah pembunuhan terhadap eksistensinya.

Apakah itu yang namanya cinta? Cinta kok pakai kekerasan?

Baca juga: Cek Lagi soal ‘Rape Culture’, Jangan Sampai Kamu Jadi Antek-anteknya

Belakangan, revenge porn menjadi salah satu kasus yang serius di era digital. Jejak digital itu kejam. Pelaku merasa berkuasa untuk membuat korban tunduk dengan ancaman penyebaran data atau konten pribadi. Hati-hati, gaes…

Kasus JAA bukanlah kasus pertama yang viral. Pada beberapa waktu lalu, muncul kasus serupa. Dengan dalih tak mendapat restu, seorang aktivis kampus di salah satu universitas di Malang meminta kekasihnya untuk mencarikan temannya yang masih perawan untuk disetubuhi pelaku.

Jika tidak, pelaku mengancam bakal menyebarkan foto porno sang kekasih kepada orangtua dan teman-temannya. Akhirnya, sang kekasih ‘mengajak’ sahabatnya sendiri agar bisa disetubuhi oleh pelaku. Jahanam betul pelakunya!

Ada lagi cerita, yang kebetulan dialami oleh teman saya sesama konselor. Ia pun menjadi korban revenge porn ketika ia mutusin pacarnya yang toxic.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Jadi, kita perlu melihat narasi besar di balik kasus revenge porn ini. Narasi kekerasan atau kejahatan seksual yang nyatanya lebih banyak menjadikan perempuan sebagai korban. Bukannya malah memaklumi motif dari kejahatan tersebut. Apalagi, ikut-ikutan minta link atau videonya.

Sebuah artikel di Voxpop pernah membahas soal perilaku masyarakat yang justru sibuk minta link atau video saat revenge porn ataupun video mesum beredar di publik. Bahwa di negeri ini, seks dianggap tabu, tapi diam-diam dinikmati.

Parahnya lagi, setelah menikmati tontonan, bahkan sampai ada yang nobar segala, dengan enteng berkata, “Lagian perempuannya mau aja divideoin.”

Jadi begini, Bung!

Revenge porn dan kekerasan seksual lain tak terlepas dari relasi kuasa. Pelaku tahu bahwa korbannya berada di bawah kuasanya. Terlebih, itu semua dilakukan tanpa persetujuan atau consent. Pelakunya aja yang bejat, kok nyalahin korban?

Dan, perlu diketahui juga, konfrontasi terhadap pelaku revenge porn sering kali tidak menyelamatkan korban. Sebab, pelaku sudah putus asa. Ia tidak peduli dengan dampaknya secara hukum, apalagi terhadap masa depan korban.

Artikel populer: Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Ini berbeda dengan kasus catcalling alias pelecehan di ruang publik. Dalam kasus ini, seorang cat callers tidak akan melanjutkan aksinya, jika korban melakukan callingout atau mengkonfrontasi pelaku.

Jadi, stop bicara yang tidak substansi, mari kita lihat narasi besar dari kasus revenge porn dan kekerasan seksual lainnya. Bahwa kekerasan tetaplah kekerasan. Bahkan, jika lelaki itu adalah seorang aktivis atau siapapun yang memahami isu-isu kemanusiaan dan keadilan. Sebab, tak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap virus patriarkis dan misoginis.

Dan, jika kamu ada di posisi korban, segeralah cari pertolongan. Sebab, kamu berada dalam jebakan relasi kuasa orang yang putus asa. Sulit sekali lepas dari jebakan itu, sekuat apapun kamu meronta.

Kalau Chu Pat Kay – siluman babi dalam serial Kera Sakti – pernah berkata, “Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir”, maka saya juga mau bilang, “Dari dulu begitulah relasi kuasa, deritanya tiada akhir.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.