Ilustrasi (Photo by Mikoto from Pexels)

Agaknya kontroversi yang dibikin oleh orang-orang dari generasi tua (Gen X dan Baby Boomers) mirip bencana banjir di Jakarta: nggak ada habisnya.

Kita sempat dibuat misuh-misuh dengan berbagai ujaran para menteri yang notabene kebanyakan boomers itu. Ada yang sok tahu soal Netflix, ada yang nyebut “salahmu sendiri kok beli (masker, padahal harganya mahal)”, mengusulkan fatwa orang kaya menikah dengan orang miskin, dan masih banyak lagi.

Bukan cuma menteri, boomers lainnya juga tak kalah heroik dalam memproduksi ucapan kontroversial. Misalnya, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty yang bilang bahwa perempuan bisa hamil saat berenang satu kolam dengan laki-laki. Pernyataan itu sukses bikin geger seantero negeri, lalu diberitakan oleh media internasional. Terkenal deh.

Bu Komisioner yang gajinya cukup untuk biaya saya makan enak selama setahun itu memang minta maaf dan mengklarifikasi ucapannya. Biasa, budaya kita: bikin kontroversi dulu, klarifikasi kemudian.

Baca juga: Berurusan dengan Netflix, Pemerintah kok Malah Ikutan Jadi Drama?

Tapi tetap saja, itu menunjukkan ada yang tidak beres di jajaran para pemangku jabatan di negeri kita. Dan, bukan merupakan kebetulan bahwa mereka adalah generasi tua.

Bukan hanya para elite, generasi tua dari kalangan ‘orang biasa’ juga bisa menjengkelkan. Ingat video viral seorang ibu yang menjambak dan menampar perempuan muda di dalam gerbong KRL? Si ibu seharusnya selow saja, kan bisa minta baik-baik atau minta bantuan petugas. Nggak perlu arogan gitu, apalagi sampai menggunakan kekerasan.

Sesungguhnya sedari kecil kita diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Ayat-ayat dalam kitab suci dan hadits banyak pula yang menyebutkan soal itu. Tapi, bagaimana kalau ucapan orang yang lebih tua itu ngawur atau tindakannya arogan? Belum lagi, orang-orang tua yang tidak pernah mau menghargai anak muda dan gemar melakukan diskriminasi usia.

Baca juga: Kenapa sih yang Tua Doyan Mencibir yang Muda?

Tentu tidak semua orang tua wajib kita hormati dalam tingkat yang setara, saudara-saudari. Orang tua yang baik dan tidak suka meremehkan anak muda patut kita hormati sehormat-hormatnya. Namun, orang tua yang ngawur, terlebih suka bikin kebijakan yang nggak jelas, perlu kita kritisi. Sampaikanlah kebenaran, walaupun itu pahit. Ok boomers?

Jadi, lucu banget kalau ada pejabat generasi tua menyebut anak-anak muda yang demonstrasi tempo hari sebagai orang-orang yang nggak ngerti persoalan. Ini nih, contoh dari ageisme atau diskriminasi usia.

Memangnya politisi di parlemen paham mengenai isi dari rancangan undang-undang yang mereka buat? Sederhana saja, kalau mereka paham betul kondisi riil, tidak akan ada penolakan dari masyarakat.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Di pemerintahan juga sama. Ada menteri yang bilang bahwa orang-orang yang menolak Omnibus Law itu nggak ngerti. Tapi, iya juga sih, nggak ngerti. Nggak ngerti kok bisa-bisanya RUU yang nggak pro-rakyat itu digodok terus? Nggak ngerti kenapa RUU yang lebih penting, semisal RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), malah ditelantarkan?

Orang-orang dari generasi tua yang terhormat semestinya jangan melulu mencap generasi muda dengan anggapan yang meremehkan. Seakan-akan hanya karena usianya masih muda, lantas dianggap tidak tahu apa-apa. Seharusnya diajak dialog, dong. Dasar boomersplaining!

Apa iya, boomers dan Gen X yang terhormat tidak tahu ucapan Bung Karno “beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” yang legendaris itu? Kalau Bung Karno hidup di zaman sekarang, mungkin beliau bakal bilang, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia dengan tagar dan viral di media sosial.”

Artikel populer: Vigilante dalam Masyarakat Kita, Bisa Merasuki Siapa Saja

Eksistensi anak muda sama sekali tak boleh diremehkan. Banyak CEO perusahaan start-up adalah anak-anak muda. Aktivis dan pegiat kemanusiaan banyak anak muda. Mark Zuckerberg, pencipta Facebook, anak muda juga. Iya Facebook, media sosial yang sering dipakai orang-orang tua untuk menyepelekan anak muda.

Generasi muda sebetulnya ingin sekali menghormati generasi tua. Tapi, gimana mau menghormati, kalau generasi tua sering bikin kegaduhan, ngotot bikin kebijakan yang merugikan, dan selalu memandang sebelah mata gagasan anak muda?

Kalau gitu mah bukannya terhormat, tapi kita skakmat!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini