Geliat Para ‘Sugih Macak Kere’ Alumnus Universitas Brawijaya

Geliat Para ‘Sugih Macak Kere’ Alumnus Universitas Brawijaya

Universitas Brawijaya (ub.ac.id)

Ramai urusan seorang fresh graduate yang nolak gaji Rp 8 juta per bulan hanya karena dia lulusan UI. Sampai merembet ke universitas-universitas yang lain.

Tiap-tiap perguruan tinggi memunculkan ego kampusnya. Tak hanya terkait profesionalitas, namun juga sampai urusan politik hingga ada yang ngomong, “Kampus lo dah pernah menghasilkan presiden gak?” Buset dah.

Dalam kericuhan berbalut arogansi tersebut, jadi kebayang kampus saya tercinta, Universitas Brawijaya, Malang. Sekarang lebih dikenal dengan sebutan UB. Meninggalkan singkatan Unibraw. Teringat teman-teman juga. Alumnus UB ini dikenal andhap asor alias sopan dan tidak sombong. Tak ada cerita kami menyombongkan gaji. Yang ada hanyalah bekerja keras sesuai idealisme. Tsahh…

Ini adalah beberapa contoh teman-teman alumnus UB yang cara hidupnya keren dan layak dicontoh. Bukan perkara gaji, tapi cara hidupnya. Sungguh inspiratif. Berikut adalah beberapa cerita para Sumaker (sugih macak kere, kaya berlagak miskin) yang dulu kuliah di UB.

Baca juga: Nego Gaji mah Bebas, Langsung Jadi Bos juga Bisa

Ndaru
Bisa diikuti di Twitter dengan akun @ndaru_wagu. Dia alumni UB Fakultas Perikanan. Tahunnya tidak usah disebut. Kasihan dia. Tak pernah dalam pertemuan srawung dia cerita gaji atau pendapatannya. Ke mana-mana selalu naik motor atau kendaraan umum.

Sampai suatu hari, ketika pertemuan dan selesai makan, kami bantingan uang untuk membayar. Ndaru membuka dompet dan mengeluarkan pecahan 100. Apakah pecahan Rp 100 ribu? Bukan. US$ 100.

Ndaru aktif di berbagai gerakan NGO. Dari urusan HAM, lingkungan, dan lain-lain. Beliau kami sebut aktivis segala bidang.

Paring Waluyo Utowo
Bisa diikuti di akun twitter @paringwaluyo. Dari sejak kuliah di Fakultas Administrasi Niaga (FIA), pria dengan potongan rambut mirip Wiranto ini sangat trengginas jika sudah urusan kemiskinan dan kerakyatan. Walaupun banyak berdiskusi tentang kemiskinan, Paring adalah mahasiwa pertama di angkatannya yang memiliki HP.

Hidupnya diisi dengan pendampingan-pendampingan permasalahan kerakyatan. Semua teman bingung. Bagaimana Paring bisa hidup tanpa punya nafkah dan memilih berada bersama rakyat?

Sampai kemudian, muncul lah informasi penting dari Bojonegoro. Paring ternyata mewarisi kebun kelapa, sawah, juga kos-kosan 50 pintu. Kami yang sok bertanya-tanya memilih nunduk dan mundur alon-alon.

Baca juga: Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Tri Andri Kurniawan
Bisa follow akun twitter @triandrik. Seharusnya dia menyelesaikan studi di Fakultas Teknik. Tapi dia memilih tak menyelesaikannya. “Saya tidak mau dikekang pencapaian akademis,” katanya. Padahal, kami semua tahu, alasan dia tidak melanjutkan kuliah karena bayangan mantan yang membuatnya tak bisa belajar dengan tenang.

Andri menjalankan berbagai usaha di Malang. Entertainment, properti, dan lain-lain. Dia tetap rendah hati pada teman-temannya. Karena memang rendah hati? Bukan. Dia berhati-hati karena rahasianya dipegang teman-temannya.

Alhamdulillah, Andri menikah beberapa tahun yang lalu. Yang terakhir menikah di lingkar pertemanan kami. Namun, bukan berarti beliau sudah terbebas dari bayangan mantannya. Hehehe. Ndak lah, guyon.

Harri Gibran
Bisa disapa di akun twitter @harrigieb. Dia akan sangat ramah dan responsif, jika Anda menyapa dengan niat membeli buku kepada dia. Iya, Gibran, panggilannya akrabnya, adalah pedagang buku bekas. Walau bekas, isi buku koleksinya selalu menarik. Tentu saja harganya terjangkau, bagi yang kaya.

Gibran hapal sekali tema-tema yang disukai pelanggannya. Jika dapat koleksi buku sesuai tema, dia langsung japri, posting di grup tentang buku tersebut. Tak lama, ya transaksi. Buka-buku tentang isme-isme di dunia, sufi, pertanian, perikanan, hingga olahraga dia bisa cari.

Baca juga: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Gibran dulu selalu resah dengan penghisapan nilai tambah masyarakat. Mereka yang bertani, menjadi buruh, dan lain-lain. “Kapitalis itu tidak fair,” katanya. Well, sekarang dia juga menawar buku yang diincar dengan harga murah dan menjualnya ke pembeli dengan harga yang… ya gitu deh. Gibran perlahan kian kapitalis. Hee…

Yudha
Namanya keren, Yudha. Tapi panggilannya di kampus adalah Ulil. Sila follow akun twitter @ullilkecil. Yes, L-nya empat. Dia menempuh studi di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Ulil melanglang buana di beberapa perusahaan besar, lalu tiba-tiba menghilang. Muncul dengan jualan kaos dan merchandise lain-lain.

Tak lama setelah itu, dia merintis Jaringan Warkop Nusantara (JWN). Kini, dia sangat cas cis cus kalau diajak ngomong kopi. Beberapa kali jadi berita akan kiprahnya di bidang perkopian.

Walau sekarang sukses, kami semua heran. Bagaimana di masa-masa sulit Ulil bisa menghidupi keluarganya, padahal dia tidak punya pendapatan tetap? Hingga akhirnya, kami mendapat info valid bahwa istrinya Ulil kerja di korporasi besar. Baiqlaaa…

Artikel populer: Ngobrol Bareng Handoko Tjung tentang Permainan Kata-kata Hingga ‘Jokes’ Om-om

Suwandi Ahmad
Kini jarang aktif di akun twitter @suwandiahmad, bahkan beberapa waktu lalu menggembok akunnya. Walau tak menyelesaikan kuliahnya, Wandi sangat dihormati di kalangan alumnus. Bahkan, beberapa waktu lalu, dari kampus meneleponnya, “Ini Pak Wandi yang salah satu lulusan terbaik FIA UB itu ya?” Wandi menjawab dengan ketus, “Saya drop out.”

Dari kuliah, dia sangat keras menentang otoritarianisme. Dia juga sangat anti-Orba. Sampai kemudian jatuh hati dengan anak salah satu petinggi partai yang itu tuh.

Wandi adalah pakar digital. Tempat kita semua teman-temannya bertanya. Bisa jadi dia sangat pintar atau teman-temannya saja yang teramat bodoh.

Kami tidak iri dengan Wandi. Secara materi dia mapan. Inilah sebuah kristalisasi kerja keras yang dikombinasi dengan memiliki mertua kaya.

Hidup tak sekadar mencari gaji besar ketika baru lulus kuliah. Bahkan, teman-teman yang drop out pun dengan piawai dan campur jurus mabuk, sukses menghadapi dinamika kehidupan.

Hidup tak hanya masalah kerja di korporasi besar dengan gelimang fasilitas dan gaji, tapi juga bagaimana mengelola mimpi idealisme kita menjadi nyata.

Sukses selalu untuk semua alumnus UB!

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.