Habis dari Luar Negeri, Terbitlah Gegar Budaya

Habis dari Luar Negeri, Terbitlah Gegar Budaya

Ilustrasi via unsplash

Kamu pernah nggak ketemu rombongan orang Indonesia tapi maunya bicara Bahasa Inggris melulu? Minimal, setiap kalimat ditambahi which is sama actually.

Atau mungkin, pernah ketemu orang yang baru pulang dari luar negeri, terus dalam setiap obrolan, dikit-dikit langsung bawa-bawa kisahnya di negara lain tersebut. Misalnya, beberapa ungkapan seperti ini:

“Duh Jakarta panas banget, nggak kayak di Alaska, enak udaranya.”

“Ih, KRL gini amat sih, kalo di Tokyo tuh ya, paling bagus sedunia deh, pokoknya.”

“Bandung macet banget, coba di Singapura, mana ada macet!”

“Palembang begini amat sih, coba kalau di Barcelona, pasti uda begitu…”

Yang kayak gini, pamer banget nggak sih?

Setelah dipikir-pikir, kayaknya nggak semuanya pamer sih. Ada juga yang memang beneran kasih tanggapan serius dengan analisa, bukan cuma pamer pernah keluar negeri.

Para penanggap serius ini biasanya nggak sekadar asal ngomong ngejelek-jelekin Indonesia sambil pamer perjalanannya di negara orang doang, tapi juga kasih perbandingan yang objektif dengan penjelasan panjang lebar.

Misalnya, ketika membandingkan bank di Indonesia dan Amerika. Doi bisa menjelaskan dengan detil apa yang baik dan buruk.

Ilustrasinya begini. Bank di Indonesia bagusnya terkoneksi banget satu sama lain, sehingga memudahkan konsumen untuk kirim-kirim uang antar bank tanpa biaya yang mahal. Di Amerika, kirim uang antar bank mahalnya amit-amit, sampai orang harus bikin Venmo segala buat kirim-kiriman uang.

Namun, untuk urusan customer service, bank di Amerika jauh lebih jagoan. Nggak sekadar bilang “nanti saya bantu buatkan laporannya ya, Pak, Bu”. Tapi admin media sosial-nya juga bisa bantu mencari jalan keluar. Sementara di Indonesia, kalaua nggak bantu dibuatkan laporan, paling ya, mohon maaf atas keluhan Bapak/Ibu.

Mereka yang tipe serius ini, malah bagus, kalau didengarkan bisa menambah pengetahuan. Asal jangan keseringan aja. Kalau keseringan dan mulai gengges, mungkin dia masuk dalam kelompok kedua: mereka yang sedang mengalami reverse culture shock.

Mereka sebetulnya tidak bermaksud songong, tapi terkena gegar budaya balik atau reverse culture shock aja. Seperti halnya orang yang menghadapi gegar budaya ketika pertama kali ke luar negeri, orang yang baru pulang dari luar negeri juga bisa mengalami gegar budaya kebalikan.

Gegar budaya dan gegar budaya kebalikan sebetulnya sama. Bedanya yang satu terjadi ketika baru ke luar negeri, satunya terjadi ketika baru balik dari luar negeri. Banyaknya perubahan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan di lingkungan fisik, sosial, dan budaya bisa jadi bikin stres. Sementara otak belum bisa beradaptasi dengan baik dalam waktu singkat.

Sama halnya dengan gegar budaya biasa, gegar budaya kebalikan juga tidak selalu terjadi. Hal ini sangat subjektif, tergantung pengalaman, keluwesan, dan kepribadian masing-masing orang.

Orang yang sering berinteraksi dengan orang-orang dan persoalan-persoalan dari negara asal ketika berada di luar negeri, akan memperkecil pengaruh gegar budaya kebalikan. Sementara, semakin lama tinggal di negara lain, akan semakin memperbesar peluang gegar budaya kebalikan.

Misalnya, seseorang yang baru pulang dari bersekolah di luar negeri, bisa jadi mengalami gegar budaya kebalikan ketika kembali lagi ke tatanan masyarakat di Jakarta. Ada yang jadi merasa teman-teman dan keluarganya nggak berusaha memahami apa yang dia rasakan dan alami setelah terpapar dengan budaya dan kebiasaan-kebiasaan baru.

Bahayanya, kalau tidak dapat diatasi dengan baik, keterasingan ini juga bisa membuat stres, terutama karena merasa tidak ada yang dapat memahami kesulitan perubahan budaya yang dia alami.

Tak hanya perubahan mental dan pola pikir, bisa jadi secara fisik tubuhnya juga kaget. Misalnya, kalau tadinya dia tinggal di negara-negara utara dengan udara yang jauh lebih bersih, badannya jadi kaget ketika harus balik lagi menghirup asap knalpot Jakarta.

Dengan perubahan yang secepat itu, badan dan mentalnya tidak sempat beradaptasi sepenuhnya. Sementara, jika mengeluh atau cerita ke teman, jangan-jangan cuma dijawab, “Halah, belagu betul.”

Hal ini nggak cuma kejadian sama orang Indonesia aja atau orang dari negara-negara selatan yang baru pulang dari negara-negara utara. Gegar budaya kebalikan juga tentunya sering terjadi pada ‘bule-bule’ yang baru pertama ke luar negeri.

Misalnya, seorang teman berkewarganegaraan Amerika Serikat yang pernah tinggal di Asia Tenggara selama beberapa tahun, mendapati dirinya kewalahan dan gelisah saat kembali ke Amerika.

Katanya, dia terganggu atas kenyataan bahwa budaya Amerika Serikat sangat menjunjung konsumerisme. Segala sesuatu diukur dengan konsumerisme, dan dia merasa ada hal fundamental yang salah dengan ukuran ini.

Dia kebingungan menghadapi kehidupan baru tapi lama itu, sehingga terkesan selalu ngomongin di Asia Tenggara. Setiap kali makan di restoran atau berbelanja, semuanya dibanding-bandingkan dengan Asia Tenggara. Padahal, sebagian orang-orang disekitarnya sudah bosan mendengarkan, atau memang tidak tertarik sama sekali dengan ceritanya hidup di luar negeri.

Akhirnya, dia lebih memilih bergaul dengan mahasiswa internasional yang berasal dari Asia Tenggara atau dengan mereka yang pernah ke Asia Tenggara. Dengan begitu, dia merasa lebih dimengerti, karena merasa punya kedekatan budaya.

Cuma kan masalahnya kita lebih menghargai ‘bule’ yang gaul sama orang Asia daripada orang Asia yang gaul sama ‘bule’. Gitu nggak ya? ‘Bule’ di Indonesia yang main sama orang lokal atau bule di Amerika yang banyak bergaul dengan anak internasional, akan disebut ramah dan inklusif.

Sementara, kalau ada perempuan Indonesia yang main sama ‘bule’ karena merasa ada kedekatan latar belakang, masyarakat mana peduli? Palingan langsung dicap keganjenan sama ‘bule’.

Selanjutnya, tipe yang ketiga, adalah tipe manusia yang bisa jadi memang suka pamer jalan-jalan ke luar negeri aja. Kalau diajak ngobrol, meski nggak nyambung sama cerita jalan-jalannya, pasti selalu aja cari celah untuk pamer soal cerita dia di luar negeri. Kalau ketemu yang begini, ya udah biarin aja. Jangan didebat, jangan dilawan.

Mungkin dia punya masalah dengan kepercayaan diri, sebab itu butuh pengakuan dari orang lain bahwa dia hebat. Kalau sudah begitu, dengerin aja, siapa tahu kita jadi membantu meningkatkan kepercayaan dirinya.

Kalau kamu, termasuk golongan yang mana?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.