Game of Thrones: Arya Stark adalah ‘Femme Fatale’ Modern

Game of Thrones: Arya Stark adalah ‘Femme Fatale’ Modern

Arya Stark dalam Game of Thrones (HBO)

Natasha Hodgson, Senior Lecturer in Medieval History, Nottingham Trent University

***

Akhir klimaks dari Game of Thrones musim delapan episode tiga membuat para penggemarnya di internet senang dan kesal saat Arya Stark muncul untuk menghabisi nyawa Night King ketika akan melancarkan aksinya untuk membunuh seluruh umat manusia.

Di media sosial, sehari sesudah episode tiga, sejumlah penggemar menyebut Arya sebagai “Mary Sue” – karakter perempuan ideal, sebuah fiksi dalam fiksi, yang muncul sebagai karakter untuk memenuhi alur cerita.

Tapi, setelah bertahan selama tujuh musim, mengasah kemampuannya sebagai pembunuh, julukan tersebut tentu tidak masuk akal. Banyak juga yang menyatakan kekecewaannya bahwa Jon Snow – sang pahlawan laki-laki – tidak diberi kesempatan untuk berhadapan dengan pemimpin zombie dari gerombolan mayat hidup.

Peran Arya di serial tersebut mematahkan konvensi yang ada, sebagaimana yang seharusnya dilakukan dalam cerita fiksi yang bagus.

Dari kacamata sejarawan, transisi Arya dari remaja perempuan pemberontak menjadi pembunuh yang keji merefleksikan representasi perempuan yang melakukan tindak kekerasan pada masa lalu dan asal-usul gagasan gender tentang mereka.

Baca juga: Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

Gagasan tentang perempuan yang bekerja sebagai pembunuh terlatih bukan hal yang lazim pada periode abad pertengahan. Pembunuhan politik tentu bukan hal baru, tapi mengabdikan diri karena panggilan biasanya dikaitkan dengan perkembangan sekte Nizari yang dipimpin oleh Hasan-i Sabbah pada awal abad ke-12, belakangan disebut sebagai “Assassin”.

Pada periode tersebut, ketika perempuan dituduh terlibat dalam pembunuhan yang ditargetkan, kejahatan yang mereka lakukan jarang melibatkan kekerasan fisik secara pribadi. Perempuan lebih mungkin untuk dituduh atas percobaan pembunuhan melalui cara yang tak langsung yang kiranya cocok dengan gender mereka – peracunan seperti kasus Lucretia Borgia – atau bahkan sihir seperti yang terjadi pada Joan of Arc ketika Inggris mencari alasan untuk membakarnya, karena ia angkat senjata untuk melawan mereka.

Kesamaan di dalam Alkitab dapat dibuktikan dengan perempuan yang menggunakan sifat feminin mereka untuk membunuh yang “dibenarkan”, seperti pemenggalan Holofernes oleh Judith atau Yael yang membunuh Sisera, jenderal Kanaan, dengan pasak tenda. Kedua tindakan itu melibatkan rayuan, penipuan, dan membunuh korban ketika mereka tidur, dengan demikian sesuai dengan ide-ide yang membuat kekerasan fisik “tidak sesuai” bagi perempuan.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Seks dan kematian

Pembunuh perempuan yang kuat dan agresif mendapat sorotan lebih dalam budaya media modern, tapi karakter mereka cenderung diseksualisasi. Contoh terkini adalah karakter serial televisi Nikita, “Sang Pengantin” dari trilogi Kill Bill karya sutradara Quentin Tarantino, atau Black Widow dari film the Avengers yang merupakan pembunuh. Mereka dituntut untuk berperan melawan sifat feminin mereka, namun secara bersamaan juga dituntut untuk rapuh secara emosional dan atraktif secara seksual.

Mungkin penggambaran yang paling menarik berasal dari serial terbaru BBC yang dibintangi oleh Jodie Comer dan Sandra Oh berjudul Killing Eve yang menampilkan Comer sebagai Villanelle, tokoh psikopat tapi juga seorang karismatik yang menjiwai pekerjaannya. Sayangnya, ketertarikan seksual antara laki-laki dan perempuan masih menjadi kunci utama dalam penggambarannya.

Dalam beberapa aspek, Arya Stark masih lebih baik dibandingkan dengan tokoh serial televisi lain. Ia juga termotivasi oleh balas dendam, tapi memilih untuk bergabung dengan “Faceless Men” – sebuah sekte religius para pembunuh yang melayani Dewa Berwajah Banyak. Setelah menjalani pelatihan brutal dan tidak manusiawi, dia memberontak sekali lagi, meninggalkan mereka untuk mendapatkan kembali identitasnya dan kembali ke rumah.

Baca juga: Sejak Dulu, Orang memang Tergila-gila dengan Kesatria Perempuan

Dalam episode tiga musim ini, ia mengalahkan Night King dengan menggunakan keterampilan yang ia peroleh selama pelatihan tersebut, bukan menggunakan pesona femininnya – meskipun ini tidak banyak pengaruh pada zombie yang dingin dan terobsesi dengan kematian.

Tapi keputusan editor untuk memperkenalkan kembali kerapuhan karakter Arya pada tahap ini adalah penting. Setelah menjadi pembunuh bayaran, kepulangannya dapat dilihat sebagai cara untuk menunjukkan sifat lemah, menjadikannya lebih tidak mematikan dan lebih manusiawi, saat ia memperbarui hubungan keluarga dan mengeksplorasi perasaannya terus bertumbuh terhadap Gendry, seorang anak haram raja sebelumnya yang kematiannya pada musim pertama serial ini memantik terjadinya perang saudara di Westeros.

Untuk catatan tayangan ini, Arya juga selamat dari keputusannya untuk berhubungan seks – meskipun dalam tradisi film ini akan menjadi indikator yang jelas tentang kematian yang akan segera terjadi. Tapi, ketidakmampuannya mengendalikan rasa takut ketika dikejar di koridor Winterfell oleh pasukan zombie memang menunjukkan bahwa mungkin ia telah kehilangan ketenangan yang dihayati dalam pelatihannya.

Artikel populer: ‘Sexy Killers’, Apa yang Seksi?

Sebuah elemen “penebusan” kuat mengalir sepanjang episode tiga, dengan Jorah Mormont mati untuk Daenerys Targaryen, ratu yang ia khianati, dan Theon Greyjoy mengorbankan dirinya untuk Bran Stark, hal-hal yang dilakukan tokoh jahat untuk menebus kesalahan mereka. Pendeta Melisandre – yang dirinya sendiri butuh diampuni atas penggunaan “ilmu hitam” pada masa lalu – mengembalikan Arya ke tujuan sebenarnya dan pemenuhan pelatihannya ketika ia pergi untuk bertarung dengan Night King, berjuang untuk hidup, bukannya mati.

Alhasil, Arya – yang dimainkan secara luar biasa oleh Maisie Williams – tampil sebagai karakter yang lebih kompleks dan asli. Ia menunjukkan kelemahan dan penyesalan yang menjauhkannya dari kategori “Mary Sue”, sambil menyimpang dari model perempuan yang menarik secara seksual sekaligus mematikan/membahayakan laki-laki yang tertarik padanya (femme fatale) yang lebih dari dua dimensi.

Namun, setiap evaluasi akhir, harus bergantung pada bagaimana cerita Arya – dan pemeran utama lain yang selamat dari pembantaian – diungkapkan dalam sisa serial ini.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.