Film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga. (Starvision Plus)

Setelah Dua Garis Biru yang mengangkat isu hamil di luar nikah pada usia muda, Gina S. Noer kembali duduk di kursi sutradara untuk film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga. Saking pentingnya tema yang dibawakan film-film karya Gina S. Noer, jangan sampai melewatkan film pertama, kedua, & ketiganya di bioskop.

Film keduanya ini mempertemukan Angga Yunanda dan Putri Marino yang beradu akting sebagai Raja dan Asia. Raja terlahir sebagai anak terakhir yang harus merawat ayah dan neneknya yang pikun. Sementara, Asia tinggal berdua dengan ibunya yang merupakan penyintas kanker sekaligus penyintas KDRT.

Ayahnya Raja dan ibunya Asia memutuskan menikah, saat Raja dan Asia mulai dekat dalam artian romantis. Mungkin konflik asmara seperti ini sudah pernah ditemui di film lain. Bahkan Raditya Dika pernah mengangkat tema yang sama di film The Guys. Namun, film Cinta 123 punya tema tambahan, yaitu sandwich generation alias generasi terimpit.

Baca juga: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Raja yang merupakan anak bungsu tinggal serumah dengan ayah dan neneknya yang pikun. Sementara, dua kakak perempuannya sudah berkeluarga. Raja tumbuh di keluarga tanpa mengenal ibunya yang telah meninggal dunia sejak ia kecil. Sebagai gantinya, Raja mendapatkan peran ibu dari dua kakak perempuannya yang bernama Ratu dan Suri.

Untuk meringankan beban orang tua, Raja bekerja sebagai sopir taksi online. Saat pandemi Covid pun ia masih tetap nge-bid karena dapur harus tetap ngebul.

Beberapa kali, Raja melamar kerja kantoran di tengah kesibukan mengurus nenek dan mengantar ayahnya ke rumah sakit. Saat wawancara kerja, Raja tidak bertanya besarnya gaji kepada HRD, tetapi menanyakan apakah ada hak cuti untuk mengantar orang tua berobat? Raja benar-benar mendalami perannya sebagai sandwich generation yang tidak memikirkan diri sendiri, justru menempatkan orangtua di tempat pertama, kedua & ketiga.

Baca juga: “Generasi Sandwich Baru” kala Pandemi dan Strateginya Agar Tak Jatuh Miskin

Saat diterima kerja yang mengharuskannya jauh dari orangtua, Raja pun tidak bisa begitu saja mengambil pekerjaan tersebut. Sebab dibayangi prinsip bahwa yang namanya keluarga tidak boleh saling meninggalkan. Raja punya visi “Kerja nggak kerja, asal kumpul” saat presiden punya motto “Kerja, kerja, kerja!”.

Raja tidak hanya mengorbankan urusan karier saja. Urusan asmara pun ia mengalah. Ia rela tidak meneruskan pedekatenya dengan Asia yang otomatis jadi saudari tiri ketika ayahnya dan ibu gebetannya itu menikah. Soalnya kalau lanjut, genrenya bukan film keluarga lagi, tapi bisa jadi film dewasa kategori step sister.

Namun, cinta terlarang tersebut sempat dilanggar. Jika Putri Marino di serial Layangan Putus harus jadi Detektif Kinan yang menguak rahasia suaminya yang diam-diam main serong, di film ini Asia yang harus diam-diam menjalin hubungan romansa dengan Raja. Walaupun ketika rahasia itu ketahuan ibunya, ujung-ujungnya hubungan mereka harus kandas karena tak pantas.

Padahal, Asia bisa saja merengek ke ibunya dengan dialog Kinan di serial Layangan Putus, “Aku juga ingin menikah dengan laki-laki yang kucintai. It’s my dream, Ma! My dream!”

Baca juga: Bocoran dari Layangan Putus soal Membongkar Perselingkuhan

Generasi terimpit memang terlatih untuk mendahulukan kepentingan keluarga. Ketika orangtua mereka ingin menikah, mereka merestuinya. Walaupun akibatnya tidak bisa mewujudkan impian mereka sendiri untuk menikah dengan orang yang dicintai.

Karakter Asia digambarkan sebagai kelompok rentan karena kategori profesinya adalah seniman. Dengan pekerjaannya sebagai penari yang dinilai tak mapan, ia tidak bisa memenuhi syarat perbankan untuk mendapatkan askes fasilitas pinjaman.

Diimpit keadaan, Asia nekat berutang kepada fintech bernama Dana Malaikat. Akhirnya, Asia terjerat pinjol (pinjaman online). Semua itu dilakukannya untuk biaya ibunya berobat. Mungkin Asia punya prinsip seperti anak-anak di Asia pada umumnya, yaitu memprioritaskan ibunya, ibunya, ibunya.

Ketika gagal bayar utang, Asia dipermalukan oleh debt collector yang menyebarkan meme foto Asia dengan caption “Tukang Ngutang” ke semua kontak di hapenya. Termasuk, nomor telepon Raja yang kena teror. Yang semula mengaku Dana Malaikat akhirnya jadi setan juga.

Artikel populer: Bisa Jadi Ada Varian “Spider-Man” di Indonesia yang Tidak Kita Sadari

Pemimpin negeri ini sempat mengeluarkan pernyataan untuk memberantas pinjaman online ilegal. Rakyat yang berutang di pinjol ilegal, tidak perlu bayar. Jadi, Asia nggak perlu bayar utang?

Namun, pinjol adalah akibat dari sebuah sebab. Sebabnya adalah masyarakat terimpit secara ekonomi, apalagi di tengah pandemi. Selama negara tidak bisa memberikan solusi jitu, warga lari ke pinjol yang menawarkan ‘bantuan’. Lupa kalau pinjol ilegal punya slogan “Menyelesaikan masalah dengan masalah”.

Generasi terimpit rentan terimpit secara ekonomi. Jika generasi ini ditolong, setidaknya mereka bisa bernapas lega, untuk kembali menjaga orang-orang terpenting bagi mereka.

Mereka sendiri harus membiayai orangtua yang sudah tak bekerja setelah dana pensiun kerap jadi sarang korupsi. Mereka sendiri harus membayar pengobatan keluarga yang sakit karena manfaat jaminan kesehatan belum optimal. Mereka sendiri harus menyekolahkan adik-adik mereka karena beasiswa tidak merata dan tidak tepat sasaran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini