Ilustrasi masjid (Photo by Artur Aldyrkhanov on Unsplash)

Ancaman COVID-19 atau virus Corona bukanlah hal buruk pertama yang negara ini hadapi. Kita sudah melalui banyak hal berat. Sebelumnya, Indonesia sempat mendapatkan ancaman tak main-main dari Sunda Empire. Jika masih ingin eksis di bumi, NKRI harus daftar ulang ke Rangga Sasana sang petinggi. Sebab, Sunda Empire yang punya sertifikat bumi. Eh, bukannya daftar ulang, Polri malah menciduk petinggi Sunda Empire tersebut.

Namun, kemunculan virus Corona lebih berbahaya daripada kerajaan-kerajaan fiktif yang kemarin sempat bermunculan. Virus Corona adalah musuh yang nyata. Awalnya, Corona hanya dijadikan lelucon oleh sebagian netizen, karena yang terdampak adalah negara-negara tetangga. Namun, ketika Corona masuk ke Indonesia, mereka sudah tidak bisa tertawa lagi.

Ibarat serial Netflix, isu Corona ini adalah episode yang panjang dan melelahkan. Sebagai figuran, cameo, dan pemeran pendukung, kita mesti menjadi rakyat yang baik. Tak lupa bersikap kritis kepada pejabat yang responsnya lambat atau tokoh masyarakat yang tidak mengutamakan selamat.

Menyikapi pandemi virus Corona, kita tidak bisa menganggap enteng. Seruan untuk isolasi diri atau swakarantina mesti kita ikuti. Untuk sementara, pertemuan dengan banyak orang sebaiknya dihindari.

Baca juga: ‘Social Distancing’, Semoga Tidak Malah Bikin Kerumunan Baru di Tempat Lain

Anak-anak sekolah mulai belajar dari rumah. Karyawan bekerja dari rumah. Akhirnya anak dan orang tua bertemu di rumah. Eh, mentang-mentang jarang ketemu dan mumpung ada momen yang pas, jangan malah ngajak anak-anak pergi ke luar rumah dengan tajuk ‘Liburan Corona’.

Belajar di rumah mungkin terasa tidak efektif karena bawaannya pengen rebahan. Bekerja di rumah pun demikian. Kelamaan di rumah bakalan membosankan. Tapi kalau bosan, bilang. Jangan tiba-tiba ngilang.

Selain itu, dianjurkan beribadah di rumah masing-masing demi meredam pandemi. Sebab, rumah ibadah menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Maka, beribadah di tempat ibadah pun perlu dibatasi sementara. Termasuk, perhelatan tabligh akbar.

Ka’bah sebagai pusat peribadahan umat Islam saja waspada dengan penyebaran virus Corona. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya berkiblat ke arah sana, harusnya menjadikan tindakan preventif di Ka’bah sebagai teladan.

Sebelumnya, sejumlah calon jemaah umrah batal berangkat ke Tanah Suci, lantaran Arab Saudi menghentikan sementara kegiatan ibadah itu sebagai upaya pencegahan virus Corona.

Baca juga: Virus Corona: 4 Hal Penting untuk Menghindari Penularan Baru

Di media sosial, beredar foto Ka’bah yang kosong saat disterilisasi. Corona menjadi ujian kesabaran untuk hamba yang ingin beribadah. Yang perlu diingat, bersabar juga termasuk ibadah. Tahanlah diri sendiri dari bepergian yang berisiko tinggi tertular virus Corona. Termasuk, dalam urusan ibadah keagamaan.

Dalam menyikapi wabah, kita jangan sampai ignorant. Tidak perlu berprasangka jika pembatasan sholat Jumat dan sholat lima waktu berjamaah sebagai bentuk fobia terhadap masjid. Majelis Ulama Indonesia (MUI) saja sudah mengeluarkan fatwa agar sholat Jumat ditiadakan sementara di masjid. Sebagai gantinya, sholat zuhur di rumah masing-masing. Sebab, selain wajib beribadah, umat juga wajib menjaga diri agar tidak terkena penyakit.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sebelumnya getol mengajak karyawan Ibu Kota dan pengusaha memberlakukan work from home (WFH), kali ini menginstruksikan Masjid Istiqlal tak adakan sholat Jumat selama dua pekan. Begitu juga dengan sholat Jumat di masjid lainnya di Jakarta. Imbauan ini sebagai seruan kemanusiaan.

Beribadah di rumah mungkin terasa kurang afdhol. Namun, kalau sampai terpapar virus Corona, bisa lebih gawat karena harus dirawat. Ujung-ujungnya jadi sulit, bahkan tidak bisa beribadah lagi. Mana dosa masih banyak lagi.

Baca juga: Virus Corona: 10 Alasan Mengapa Anda Tidak Perlu Panik

Namun, pembatasan beribadah secara berjamaah ini tidak hanya berlaku bagi umat muslim. Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G. Plate juga sempat meminta Keuskupan Ruteng menunda acara pentasbihan uskup baru Ruteng di NTT. Atau, dengan alternatif, pelaksanaannya tanpa kehadiran umat.

Dalam waktu dekat, juga bakal ada dua peringatan hari keagamaan: Isra Miraj dan Nyepi. Namun, di tengah kondisi saat ini, perayaan yang bisa mendatangkan banyak orang harus ditunda dulu. Dengan kata lain, diperingati di rumah masing-masing.

Di Twitter, Hidayat Nur Wahid menegur Gatot Nurmantyo yang heran dengan pembatasan ibadah di masjid saat ini. HNW menuturkan bahwa Vatikan telah menutup gereja-gereja di Roma. Betlehem juga ditutup. Sementara, kita janganlah tutup mata dengan fakta tersebut.

Padahal, memang tidak ada sentimen agama dalam ikhtiar mencegah penyebaran virus Corona ini. Sebab, virus tidak memandang agamamu apa. Semua orang sama di hadapan Corona. Karena itu, bersabarlah, pemerintah beserta ilmuwan dan ahli medis yang kompeten di bidangnya sedang mengusahakan solusi dari pandemi ini.

Artikel populer: Perang Melawan Virus, Sejarawan Israel Yuval Noah Ada Benarnya

Bumi kita sudah pernah dihujani meteor, terendam air bah, dan terbakar hutan-hutannya. Bumi memang sekuat itu. Namun, manusia bisa saja punah akibat wabah seperti halnya dinosaurus di zaman prasejarah. Langkah yang bijak perlu kita ambil untuk bertahan hidup.

Menghadapi ancaman serius virus ini, marilah kita bergandengan tangan. Eh, maaf, untuk kondisi saat ini, jangan bergandengan tangan dulu. Namun, tetaplah kompak selalu. Tak perlu terpancing dan terpecah-belah karena provokasi yang mencoba mempolitisasi wabah.

Urusan akhirat dan dunia tetap harus seimbang. Selain hubungan baik dengan Tuhan, kita juga harus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Di saat darurat seperti sekarang, menjaga hubungan baik itu dengan membatasi hubungan dengan manusia itu sendiri.

Terutama, jangan lupa sering-sering cuci tangan. Pakai sabun. Kalau cuma pakai air, tidak sampai mematikan virus, yang ada cuma memandikan virusnya saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini