Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Shazam! (Warner Bros)

Shazam memanglah masih belia. Alter egonya Billy Batson, seorang remaja berusia 14 tahun. Billy mendapatkan kekuatan super yang diwariskan dari seorang penyihir macam Harry Potter.

Awalnya, penyihir misterius ini menawarkan kepada Thaddeus Sivana kecil sebagai calon ahli warisnya: sebuah kekuatan sihir. Namun, di tengah negosiasi, tiba-tiba tujuh patung menyela obrolan. Tujuh patung ini adalah perwakilan dari tujuh dosa maut. Katanya, tujuh patung ini juga bisa kasih kekuatan yang tak kalah menggoda.

Ini dilematis. Pilihannya sama-sama sulit. Bersekutu dengan tukang sihir lalu jadi musyrik, atau membebaskan tujuh dosa maut yang bakalan bikin manusia tersiksa di dunia dan akhirat? Orang yang beriman pasti tidak akan memilih keduanya, karena sama-sama bermuara ke neraka. 🙂

Singkat cerita, Sivana yang datang lebih dulu ke hadapan penyihir memilih tujuh dosa maut, kemudian jadi supervillain alias penjahat super. Apa boleh buat, Billy kebagian sisanya: warisan kekuatan sihir.

Hal ini bikin saya bertanya-tanya, bagaimana kalau Doctor Sivana tidak pernah datang ke Kerajaan Shazam untuk menjadi inang tujuh dosa maut? Bisa jadi Billy pun akan membelot menuju kekuatan tujuh dosa maut, dan akhirnya ia tidak pernah jadi superhero.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Di titik ini, Billy berutang kepada musuhnya yang telah lebih dulu menyingkirkan godaan. Superhero bisa terlahir karena sebelumnya sudah tercipta sesosok penjahat sebagai lawan sepadan.

Dengan mengucapkan nama ‘Shazam’, Billy berubah menjadi pria dewasa yang sudah dimaksimalkan potensinya. Shazam adalah singkatan dari kebijakan Solomon, kekuatan Hercules, stamina Atlas, kekuasaan Zeus, keberanian Achilles, dan kepesatan Mercury.

Bayangkan, kesaktian setengah lusin dewa tersebut bergabung di satu tubuh superhero. Satu Hercules saja bisa jadi bos preman, gimana kalau gabung lima lainnya? Eh, beda Hercules ya?

Nama Shazam punya filosofi yang mendalam. Dengan hanya mengucapkan namanya yang terdiri dari satu kata itu, Billy Batson bisa berubah menjadi pria dewasa dengan kekuatan super. Praktis. Tidak seperti Clark Kent yang mesti repot-repot cari toilet umum cuma buat ganti kostum Superman (sudah begitu kolornya di luar). Atau, seperti Bruce Wayne yang harus nunggu malam dulu untuk jadi Batman (dengan sayap hitam yang tidak lantas membuatnya bisa terbang itu).

Shazam mengajarkan bahwa untuk mencapai potensi maksimal, kita perlu mantra ajaib. Semacam jargon yang mana setelah mengucapkannya, kita bisa menjadi manusia super.

Baca juga: Mengungkap Sisi Lain Venom yang Terhubung Langsung dengan Kita

Kalau menurut Ivan Lanin, kata itu netral. Tafsir manusia yang membuatnya memihak. Nah, itu berarti manusia juga bisa membuat kata jadi punya kekuatan.

Contohnya, novel trilogi Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi. Setiap jilid menawarkan pepatah Arab yang dijadikan pegangan oleh tokoh utama menghadapi konflik hidupnya:

“Man jadda wa jada.” (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

“Man shabara zhafira.” (siapa yang bersabar akan beruntung)

“Man saara ala darbi washala.” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)

Tiga mantra ajaib itu selalu diucapkan tokoh utama ketika terbentur masalah, sebagai reminder untuk menjadikannya lebih kuat dan percaya diri.

Sebelum mendapatkan kekuatan supernya, Billy menjalani hari-hari yang muram. Namun, ia selalu bersungguh-sungguh, tetap bersabar, dan berjalan di jalannya untuk mencapai tujuan. Sehingga membuatnya beruntung dipilih sebagai sang juara oleh penyihir tua bernama Shazam.

Sebagaimana starter pack menjadi karakter superhero DC, Billy punya masa kecil yang kelam dan keluarga yang tidak utuh.

Baca juga: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Bisa dibayangkan ketika masuk ke markas Justice League, Shazam bakalan disergap oleh para superhero senior untuk diinterogasi. Kira-kira seperti di adegan film animasi Ralph Breaks the Internet saat Princess Vanellope menyelinap ke ruangan Disney Princess.

Wonder Woman: “Siapa kamu?”

Shazam: “Saya superhero juga seperti kalian. Saya penjaga lingkungan di Kota Philadelphia. Saya bisa charge hape kalian sampai baterainya penuh.”

Green Lantern: “Superhero macam apa kamu? Kalau cuma bisa ngebanyol kayak Deadpool, harusnya disebut anti-hero.”

Shazam: “Saya tidak tahu kamu punya masalah apa dengan Deadpool, tapi saya superhero beneran, Bung Lentera Ijo.”

Superman: “Apakah kamu punya masa lalu yang suram?”

Shazam: “Bisa jadi.”

Batman: “Kedua orangtua ditembak oleh perampok sampai mati di depan mata kepala kamu sendiri?”

Shazam: “Tidak. Itu terlalu suram, Bung.”

The Flash: “Ibu dibunuh secara misterius dan ayah yang tak bersalah malah dipenjara?”

Shazam: “Tidak juga. Kamu sudah coba datang ke Kopi Joni untuk minta bantuan hukum Hotman Paris?”

Cyborg: “Diperalat oleh ayah sendiri dalam arti kata sebenarnya?”

Shazam: “Daddy issues? Saya bahkan tidak tahu kalau saya punya ayah. Yang saya punya cuma Deddy Corbuzier sebagai Father of YouTube.”

Aquaman: “Sejak balita ditinggal ibu?”

Shazam: “Ya!”

Artikel populer: Macam-macam Gaya Mencoblos Berdasarkan Film Favorit

Senasib dengan Arthur Curry atau Aquaman, sejak usia dini Billy Batson kehilangan sosok ibu dan menjadi sebatang kara. Karena itulah, ia berpetualang mencari ibunya seperti Hutchi si lebah madu. Ia kesana-kemari mencari alamat. Namun, yang ia temui bukan ibunya. Sayang, yang ia terima alamat palsu.

Kalau ikut D’Academy, bisa jadi Billy Batson sudah dibantu oleh tim kreatif di stasiun televisi itu. Tahu-tahu ibu kandungnya diundang datang ke studio. Billy dan ibunya berpelukan dan menangis tersedu-sedu, lalu ditanya oleh Ramzi, “Gimana perasannya bisa ketemu ibu setelah sepuluh tahun terpisah?”

TAMAT.

Kesamaan lain film Aquaman dan Shazam! sama-sama diarahkan oleh sutradara film The Conjuring Universe. James Wan, sutradara The Conjuring 1 & 2, telah sukses memperkenalkan kesegaran Aquaman. Menyusul, David F. Sandberg yang sempat menangani ‘Annabelle: Creation’ melanjutkan pekerjaannya di film Shazam!.

Aquaman dan Shazam! bisa mengubah citra DC yang selama ini telanjur dianggap gelap menjadi lebih berwarna. Bahkan warna-warni seperti Power Rangers. Uniknya, hal itu tertolong oleh sutradara film horor yang notabene lekat dengan dunia kegelapan.

Nah, untuk kamu yang masih bermuram durja – masih berpikir “hidup kok begini amat”, bisa belajar dari DC. Dalam konteks ini, Shazam! Bahwa belum terlambat untuk move on menjadi pribadi yang lebih ceria. Kuncinya, bergandengan dengan hal-hal yang horor dalam hidupmu. Selamat mencoba! 🙂

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.