Film ‘The Nun’ dan Para Politikus Kita

Film ‘The Nun’ dan Para Politikus Kita

Film The Nun (Warner Bros Pictures)

Pada dasarnya, film adalah media hiburan. Apapun jenisnya. Romantisme, sejarah, aksi, petualangan, maupun horor. Semuanya, meskipun bukan komedi, selalu memiliki peran yang sama, menghibur.

Ini pula yang terjadi dengan film The Nun. Meskipun film ini seringkali dinarasikan sebagai salah satu film yang paling horor, tetap saja horornya sebagai horor yang menghibur, bukan hanya menakutkan.

Film The Nun merupakan prekuel dari The Conjuring Series. Awalnya, film ini direncanakan rilis dengan judul The Story of Valak, karena memang latar belakang film ini berkisah tentang hantu Valak. Namun, demi pemasaran, judul film ini diganti menjadi The Nun.

Lalu, siapa Valak? Valak sebetulnya memiliki dua rujukan. Pertama, Valak dalam pengertian mitologi kuno. Hal ini bisa kita jumpai dalam literatur klasik seperti Dictionnaire Infernal, Psedomonarchia Deamonum, maupun Book of Goetia.

Secara umum, Valak bisa dimengerti sebagai pemimpin agung di neraka. Ia menjadi jenderal iblis yang memimpin 30 legiun. Wajah Valak seringkali digambarkan seperti anak kecil yang menunggang naga berkepala dua. Wajahnya boleh menggemaskan, tapi kekuatan serta kekejamannya begitu menyeramkan.

Sementara dalam film The Nun, Valak digambarkan sebagai sosok hantu bertudung. Persis seperti tudungnya para biarawati. Film ini memang mengisahkan Valak sebagai hantu jelmaan dari seorang biarawati yang mati secara misterius.

Para penggemar film horor pasti pernah mendengar deskripsi hantu bertudung. Sosok hantu yang pernah muncul dalam film The Conjuring 2.

Baca juga: ‘Review’ Tidak Biasa Film Black Panther

Film The Nun dibuat untuk menjawab rasa penasaran para penggemar film atas hantu Valak yang muncul di film The Conjuring 2. Penggambaran Valak yang sedemikian rupa, menurut beberapa pengamat spiritual, mirip dengan Beezlebub yang berjuluk Demon of Flies atau dalam karakter hantu Semit sering disebut dengan nama Ba’al Azabab.

Selain rentetan kisah menarik yang mengiringi kemunculannya, sisi istimewa The Nun juga didorong oleh fakta bahwa film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata yang terjadi pda 1952.

Selain itu, The Nun dibesut oleh sutradara yang sudah malang melintang di dunia film horor, Corin Hardy. Sementara James Wan selaku produser sudah tidak diragukan lagi kreativitasnya dalam film horor.

Kisah dalam film ini diawali dari kegelisahan Vatikan atas kematian seorang biarawati secara misterius di Rumania. Kemudian, Vatikan mengirim Father Burke, seorang pendeta yang diperankan oleh Demian Bichir untuk menyelidikinya.

Selain pendeta Burke, Vatikan juga mengutus Sister muda Irene yang diperankan oleh Taissa Farmiga. Sebelum dikirim untuk menyelidiki kematian, Sister Irene sejak kecil sering dihantui oleh sosok hantu bertudung, yang kemudian dikenal sebagai Valak dalam film ini.

Tampilannya yang misterius, tempat syuting yang berada di bangunan tua, serta latar cerita yang mengambil waktu tahun 1950-an, menambah aroma horor film ini. Seram, kan?

Tunggu dulu…

Masyarakat Indonesia terutama para netizen ternyata malah menyikapinya dengan guyonan. Kemampuan netizen kita dalam menertawakan sesuatu yang berbau horor tampaknya di atas rata-rata.

Artikel populer: Bukan Cuma Cinta-cintaan, tapi Bicara #MeToo, Rasisme, dan Orientasi Seksual: ‘The Shape of Water’

Dunia perfilman Tanah Air sudah terlalu sering disuguhi film-film dengan genre horor yang menyeramkan baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, betapapun seramnya sebuah film, masyarakat kita selalu bisa menertawakannya.

Mereka sudah terlalu paham bahwa betapapun seramnya sebuah film, tak peduli ceritanya berasal dari imajinasi ataupun terinspirasi kisah nyata, itu hanyalah panggung sandiaga, eh sandiwara.

Namun, di sisi lain, akhir-akhir ini kemampuan masyarakat kita dalam menertawakan sesuatu, patut dipertanyakan. Lho, bagaimana bisa?

Pilpres yang akan berlangsung pada 2019 adalah buktinya. Banyak dari masyarakat kita yang terlalu serius menyikapi manuver para politikus negeri ini. Mereka lupa bahwa kronik-kronik pilpres 2019 bisa jadi hanya sebuah sandiwara.

Lalu, rakyat kecil seperti kita dipaksa untuk menontonnya. Banyak yang sensi pula. Seharusnya masyarakat kita punya cara unik untuk menertawakan setiap adegan yang diperankan para politikus.

Siapapun pemenang dalam kontestasi politik nanti, jangan-jangan hanya peduli dengan dirinya sendiri. Atau, cuma peduli dengan partainya, kerabatnya, atau kroninya. Bukan peduli sama rakyat yang telah memilih mereka.

Satu hal yang seringkali kita lupakan dalam politik adalah ungkapan ‘tidak ada teman atau lawan abadi’. Hampir semua politikus percaya bahwa yang abadi hanyalah kepentingan mereka.

Seseorang hanya akan dianggap teman, apabila ia memiliki kepentingan yang bisa dinegosiasi. Sementara, seseorang dianggap sebagai musuh, jika ia memiliki kepentingan yang tidak bisa dikompromikan.

Setelah kita sadar bahwa rakyat kecil seperti kita hanyalah boneka permainan mereka, mengapa kita tidak mencoba untuk menertawakan mereka sebagaimana netizen kita menertawakan film The Nun?

Cepat, mari kita tertawa sebelum kita ditertawakan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.