Agar Kamu Nggak Kecewa-kecewa Amat, saat Nonton Film dari Sebuah Novel

Agar Kamu Nggak Kecewa-kecewa Amat, saat Nonton Film dari Sebuah Novel

Ilustrasi (Karen Zhao via Unsplash)

Salah satu novel tebal yang bikin saya tak bisa berhenti membaca seharian adalah “The Da Vinci Code” karya Dan Brown. Saya membacanya tahun 2004, dua tahun sebelum difilmkan oleh Ron Howard. Novel ini cukup bagus.

Pertama, karena berhasil menciptakan apa yang biasa disebut theater of mind di kepala secara cepat. Bagaimana tidak, Dan Brown sudah menyuguhkan ketegangan sejak halaman pertama sembari mengenalkan tokoh-tokohnya.

Kedua, saya terpikat dengan riset yang dilakukan Dan Brown. Saya bisa menyusuri Paris, London, hingga Skotlandia, keluar masuk museum dan gereja-gereja tua, tanpa bayar kecuali untuk harga novel itu sendiri. Ketika mendengar kabar novel ini akan difilmkan tahun 2006, ada perasaan girang meski juga ragu.

Saya cuma penikmat film. Tidak kenal kiprah para pekerja film dunia satu per satu. Bintang film dunia? Paling-paling, hanya tahu aktor dan aktris ngetop Hollywood yang filmnya laris di bioskop.

Dalam film “The Da Vinci Code”, Tom Hanks memerankan Profesor Langdon. Sedangkan Audrey Tautou sebagai Sophie Neveu. Saat itu, saya tak mengenal aktris asal Prancis itu. Sampai suatu saat terpukau dengan perannya sebagai Amelie Poulain dalam “Amelie”, film berbahasa Prancis produksi tahun 2001 – mendahului “The Da Vinci Code” yang baru saya tonton tahun lalu. Oh kasihan…

Lalu, Ron Howard? Ia pernah menyutradarai “A Beautiful Mind”, salah satu film yang juga bagus. Saya belum pernah menonton film thriller besutan Howard sebelum “The Da Vinci Code”, dan tidak tahu apakah Howard pernah membuat film semacam itu.

Tapi untuk “The Da Vinci Code”, kebetulan membaca novelnya. Celakanya, saya kadung dibuat antusias pada cerita di novel. Karena itu, besar harapan, film tersebut akan sebagus versi novel.

Terus terang, porsi terbesar harapan bertumpu pada Tom Hanks sebagai pemeran utama. Siapa yang bisa membantah akting Tom Hanks di film “Forrest Gump” yang juga diadaptasi dari novel?

Nama Tom Hanks sedikit menepis keraguan. Tapi, ketika film itu sampai di Indonesia, sayangnya anyep. Audrey Tautou memang tampil secerdas bayangan saya terhadap Sophie Neveu. Bahkan, Paul Bettany secara tak terduga memunculkan karakter Silas, rahib Katolik albino yang dingin. Tapi, Tom Hanks justru mengecewakan.

Profesor Robert Langdon yang diperankan Tom Hanks tidak sesuai bayangan saya sebagai orang pintar yang kaku. Langdon seperti terlalu cepat menguasai keadaan. Howard pun gagal memunculkan ketegangan adegan dalam kejar-kejaran Profesor Langdon bersama Sophie dengan polisi dan pihak lainnya.

Secara keseluruhan, film itu tidak sesuai harapan. Itu pendapat saya sebagai penonton biasa kebanyakan.

Harus diakui, saya kehilangan ketertarikan menonton film itu pada seperempat bagian pertama, meski tetap menontonnya sampai habis. Saya tidak menonton seri Langdon yang dibuat Howard selanjutnya, “Angels and Demons” (2009) dan “Inferno” (2016). Keduanya dibintangi Tom Hanks sebagai Langdon.

Saya ingat cerita kawan yang suka naik gunung dan kebetulan pembaca “5 cm”. Ia kecewa setelah menonton “5 cm” versi film. Ada beberapa bagian yang menurutnya penting, malah menghilang dari film.

Kawan yang lain, kebetulan pembaca “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, novel karya Buya Hamka, sejak SMA. Dia bilang imajinasinya tentang Minangkabau ambyar ketika menyaksikan percakapan Herjunot Ali dan Pevita Pearce dengan syair mendayu-dayu.

Sepertinya saya bukan ‘korban’ tunggal kekecewaan pada film yang diadaptasi dari novel. Ada anggapan umum yang berbunyi, “Ketika menonton film dari sebuah novel, maka bersiaplah kecewa.”

Belakangan, “Bumi Manusia” sedang gonjang-ganjing. Roman sejarah terbaik negeri ini yang bakal difilmkan itu mendulang kekhawatiran. Orang-orang yang sudah mengunyah habis Tetralogi Pulau Buru, setidaknya menghabiskan buku pertama berjudul “Bumi Manusia”, takut dikecewakan oleh filmnya kelak.

Saking khawatirnya, film ini dihujani kritik hingga sindiran, bahkan sebelum gambar pertamanya diambil.

Hanung Bramantyo, sang sutradara, menunjuk Iqbaal Ramadhan yang dianggap masih mentah sebagai Minke. Kekhawatiran menjadi-jadi, ketika Hanung menyebut Iqbaal adalah Minke versi milenial dan Minke adalah milenial seperti Iqbaal pada zamannya. Sehingga blangkon, jarik, dan beskap sudah cukup untuk menjadikan Iqbaal sebagai Minke.

Mungkin memang begitu pendapat Hanung. Atau, mungkin saja pendapat itu bermaksud lain. Ya sudah lah ya, itu kan Hanung. Kita ribut atau tidak, film itu toh tetap akan dibuat. Kontrak dengan ahli waris Pramoedya Ananta Toer sudah ada, kontrak produksi sudah ada, secara tidak sadar kontrak dengan ratusan ribu calon penonton pun sudah ada. Bukankah begitu, Minke?

Yang semestinya jangan sampai diabaikan adalah kesiapan diri untuk kecewa. Yah setidaknya nanti jadi nggak kecewa-kecewa amatlah. Ya kan, Minke?

Sebab, aktivitas membaca novel tentu berbeda dengan menonton film. Jejak membaca di otak lebih kuat. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa membaca novel dapat meningkatkan konektivitas hingga menyebabkan perubahan pada otak.

Salah satunya, perubahan jangka panjang yang terjadi pada bagian otak yang mengolah informasi dari panca indera (cortex somatosensory). Hal itu terjadi ketika otak merepresentasikan kata-kata. Misalnya, jika seseorang membaca kata ‘bersepeda’, maka otak akan membayangkan aktivitas tersebut.

Kebanyakan pembaca novel biasanya membayangkan menjadi salah satu karakter dalam cerita tersebut. Pembaca merasa secara fisik bergerak bersama alur cerita. Itu akan bertahan lama, membekas di otak. Bahkan sampai berganti bacaan pun, memori yang lama masih ada.

Seorang pembaca cerita adalah orang yang memiliki pengalaman sendiri atas cerita tersebut. Ada beberapa kelompok membaca yang tidak hanya mengeksplorasi pengalaman berimajinasi, melainkan juga pengalaman fisik.

Contohnya, kelompok pembaca Max Havelar di Banten, kelompok pembaca The Old Man And The Sea, dan Ronggeng Dukuh Paruk di Kendal. Bahkan, ada kelompok pembaca Pram di Semarang yang mengaji bersama Tetralogi Pulau Buru. Mereka sudah menamatkan “Bumi Manusia”.

Selain membongkar pembacaan, mereka juga berusaha mencari tahu bagaimana rupa benda-benda yang disebut di dalam novel. Mereka mencari tahu bagaimana rasanya mencabut singkong dengan lebih dulu dikencingi karena kekeringan, mencari lokasi yang disebut dalam novel, bahkan menjajal cara makan seperti di novel.

Maka ketahuilah, Minke. Pembaca-pembaca seperti itulah yang punya kekhawatiran bakal dibuat kecewa. Menyodorkan kue keju kepada penikmat kue keju memang berpeluang memunculkan sanggahan dan kritik soal aroma, rasa, bahkan bentuknya.

Tidak mudah, Minke.

Terlanjur banyak penyayang Minke yang diyakini sebagai sosok Tirto Adhi Soerjo. Bagian penting dari perjalanan bangsa ini, namun absen dari narasi sejarah pada pendidikan formal.

Kisah Minke telah dilisankan di Pulau Buru sejak 1973 sebagai pelipur yang menguatkan dan memanusiakan para tahanan politik Orde Baru di sana. Minke kadung dicintai sejak “Bumi Manusia” belum dilahirkan penerbit.

Karenanya cukup beralasan, jika kekhawatiran pada kualitas film “Bumi Manusia” garapan Hanung, sangat besar. Selain kekhawatiran, sebetulnya masih ada harapan.

Medium buku memang beda dari banyak sisi dengan film. Memang tidak semua teks yang ada di buku dapat divisualisasikan. Visualisasi “Bumi Manusia” yang tebal itu memang akan bergantung pada arahan Hanung, yang didukung segala penataan perangkat film. Tapi ada gantungan lain, yakni skenario hasil kerja keras Salman Aristo selama dua tahun.

Meski rupa skenario Salman Aristo tak diumumkan, tak ada salahnya berharap. Toh, anggapan jamak tentang mengecewakannya film adaptasi novel itu tak selalu benar.

Buktinya, dua versi “Les Miserables”, baik drama (1998) maupun musikal (2012), berhasil mewujudkan bayangan tentang kehidupan orang-orang Prancis pada masa revolusi. Meski tak sama persis, tapi tak mengecewakan hasil pembacaan saya dari novel Victor Hugo itu.

Seorang kawan juga puas dengan dua sinetron berlatar Minangkabau yang tayang di TVRI tahun 90-an, “Sitti Nurbaya” dari novel Marah Rusli dan “Sengsara Membawa Nikmat” dari novel Tulis Sutan Sati. Keduanya dinilai lebih berhasil ketimbang film layar lebar “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” garapan Sunil Soraya.

Maka, jika kelak penampilan Iqbaal sebagai Minke tetap mengecewakan, ya sudah lah ya. Tom Hanks saja bisa gagal – menurut saya – dalam memerankan Langdon.

Jika memang Iqbaal gagal, itu tidak serta merta menghapus memori Minke dari pembacaan novel Pram. Tapi, jika hasilnya bagus menurut keadilan pemikiran, bukankah itu menggembirakan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.