Milea: Suara dari Dilan (Max Pictures)

Film Milea: Suara dari Dilan semacam versi tabayyun dari film Dilan 1990 dan Dilan 1991. Dengan menonton ketiga seri filmnya, kita akhirnya bisa tahu bahwa kredo ‘cowok selalu salah dan cewek selalu benar’ adalah tidak benar.

Dilan tampak selayaknya cowok bandel yang kerap bikin pacarnya was-was. Wajar jika Milea sering nyap-nyap ke Dilan. Namun, Milea terlalu menuruti emosi tanpa mau mendengarkan penjelasan Dilan terlebih dahulu. Akhirnya, Milea terlalu cepat memutuskan. Padahal, orang bijak bilang jangan ambil keputusan saat marah.

Sebenarnya, kisah cinta Dilan dan Milea bisa langgeng apabila keduanya bisa sedikit bersabar untuk cek dan ricek. Itulah pentingnya tabayyun sebagai kunci sukses sebuah hubungan yang sehat. Tidak hanya dalam hubungan percintaan, dalam hubungan bermasyarakat dan bermain media sosial pun kita wajib mencari fakta di balik sebuah kabar. Jangan terburu-buru ambil kesimpulan sendiri, jika itu masih sebuah asumsi.

Gara-gara nggak sabaran, Dilan dan Milea akhirnya putus. Yang kecewa dan menyesal bukan hanya mereka berdua, tetapi jutaan penonton yang menyaksikan kisah cinta mereka di bioskop. Sebab, cerita asmara mereka sudah jadi konsumsi publik.

Baca juga: Relasi Dilan dan Milea tentang Penaklukan, Beda dengan Rangga dan Cinta

Berakhirnya hubungan Dilan dan Milea bukan sepenuhnya salah Milea, bukan juga semua salah Dilan. Sebab, cewek tidak selalu benar, cowok pun tidak selalu salah. Dalam sebuah relasi, cewek dan cowok setara dan saling bertanggung jawab atas aksi dan reaksi satu sama lain.

Milea mungkin salah karena ambil keputusan saat marah. Namun, keputusan Dilan juga tidak tepat ketika dirinya mengambil kesimpulan sendiri bahwa dirinya telah menyakiti Lia (sapaan akrab Milea) dan harus menghilang. Seperti ucapannya di film pertama: “Jika ada yang menyakitimu, orang itu akan hilang.”

Racun maskulinitas Dilan yang ingin melindungi Milea akhirnya jadi bumerang. Dilan yang pergi dari hidup Lia adalah bentuk hukuman untuk dirinya sendiri karena merasa gagal. Dilan terlalu keras dengan diri sendiri. Padahal, isu ini masih bisa dinegosiasikan. Nyatanya, menghilangnya Dilan justru sangat menyakiti hati Milea.

Milea dan Dilan sama-sama punya masalah serius dengan manajemen amarah. Padahal, bukan Angry Birds.

Baca juga: Ada Apa dengan Cinta, Aisha, dan Milea?

Sebelumnya, hubungan mereka sudah pernah diterpa ujian cemburu. Ketika itu, cemburu yang hadir dalam kisah percintaan Dilan dan Milea masih terasa manis. Milea cemburu dengan Dilan yang didekati Susi. Apalagi, Susi sempat cium Dilan tanpa konsensus di bioksop. Dilan juga cemburu dengan Milea yang diajak jalan oleh Kang Adi ke ITB. Apalagi, Milea sempat dicium Yugo di bioskop tanpa konsensus. Loh?

Semua prasangka akibat rasa cemburu itu segera ditepis keduanya dengan pernyataan sayang yang menenangkan hati masing-masing. Akhirnya, mereka saling percaya dan menjaga perasaan satu sama lain.

Namun, ketika ujian cinta yang datang lebih besar, mereka lupa untuk saling percaya. Mereka lebih mengandalkan prasangka dan praduga daripada bicara dari hati ke hati.

Terlepas dari itu semua, kita masih bisa memetik hikmah dari berakhirnya hubungan mereka. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Daripada ujung-ujungnya nyesel, pengen balikan tapi nggak bisa.

Hindari kekerasan

Ironisnya, sejak awal hubungan Dilan dan Milea dibangun dari pertunjukan amarah yang kental dengan kekerasan. Saat itu, Dilan murka dengan Anhar yang menampar Milea. Lalu, Dilan berkelahi dengan Anhar yang notabene teman dekatnya. Semua itu dilakukannya untuk menunjukkan keseriusan perasaan Dilan untuk Milea.

Baca juga: Baru Pacaran sudah Kekerasan, tapi kok Cinta?

Setelah Dilan memar-memar dan dicocol obat merah, Milea sepakat memproklamirkan hubungan mereka. Sebagai tebusannya, Dilan harus dikeluarkan dari sekolah karena sudah terlalu sering bikin onar.

Seandainya Dilan bukan anak geng motor yang hobinya berkelahi, mungkin kisah cintanya dengan Milea bakalan mulus-mulus saja. Dilan tidak akan bikin Milea khawatir. Dilan juga tidak perlu berurusan dengan guru BP. Apalagi sampai berantem dengan teman sendiri. Jadi, Dilan tidak akan terlibat banyak kasus sampai dikeluarkan dari sekolah dan tetap dekat dengan Milea.

Namun, jika Dilan bukanlah Dilan yang dikenal selama ini, masih maukah Milea dengan Dilan?

Jangan balas dendam

Saat marah, Dilan memilih kekerasan untuk mengekspresikannya. Padahal, kekerasan hanya akan memperumit keadaan. Sebab, orang yang pipi kanannya ditampar, jarang ada yang mau memberikan pipi kirinya, justru pengennya balas menampar. Akhirnya, ya balas dendam.

Itulah yang terjadi dengan perseteruan Dilan dan Anhar. Tahu adiknya jadi bulan-bulanan, kakaknya Anhar balas mengeroyok Dilan. Dilan tak terima, lalu merancang serangan balasan. Walaupun akhirnya gagal karena keburu diciduk polisi.

Dilan juga sih, hobi naik motor nggak pakai helm.

Artikel populer: Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

Pentingnya manajemen amarah

Menyaksikan kekacauan yang dibuat Dilan, Milea kehilangan kesabaran. Milea yang khawatir Dilan celaka akhirnya melabrak sang jagoan. Saat marah dengan Dilan yang membuatnya cemas berlebihan, Milea menampar Dilan, terus minta putus.

Amarah memang membuat seseorang melakukan hal yang tak masuk akal. Milea tidak ingin Dilan disakiti orang lain. Namun, Milea sendiri menyakiti Dilan. Sebenarnya, niat mau menjaga pasangan nggak, sih, Lia?

Cemburu itu bumbu cinta, jadi secukupnya

Jika tidak dikendalikan, cemburu yang menguras hati bisa merusak hubungan. Itulah yang terjadi saat Dilan mendengar kabar Milea sudah jalan dengan cowok baru pasca putus dengannya, padahal cuma temen bimbel. Dilan langsung menyimpulkan Milea sudah punya pacar lagi.

Ketika Milea titip salam rindu dan kode minta baikan, Dilan yang masih menyimpan cemburu, justru mengaku sudah punya pacar, walaupun nyatanya belum. Cemburu mendorong Dilan untuk balas bikin Milea cemburu.

Sepertinya Dilan lupa definisi cemburu yang dulu pernah diucapkannya: cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Namun, belakangan, Dilan yang cemburu justru jadi orang yang punya gengsi tinggi. Tak mau kalah dengan mantan, Dilan mengesankan dirinya sudah move on. Padahal belum. Apa harus menunggu sampai beratus-ratus purnama?

Memangnya Rangga?!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini