Yang Disukai dan Dijauhi Anak Milenial saat Nonton Film G30S/PKI
CEPIKA-CEPIKI

Yang Disukai dan Dijauhi Anak Milenial saat Nonton Film G30S/PKI

Ilustrasi film G30S/PKI (Hafiz Rancajale/Jurnalfootage)

Dunia sepertinya nggak ikhlas kalau melihat kita leyeh-leyeh atau ngemut pentol cilok. Selalu ada saja yang bisa bikin kita kaget dan keselek garpu.

Setelah Raisa nikah dengan Babang Hamish, lalu Laudya Cynthia Bella yang jatuh ke pangkuan negara tetangga, kini Mendagri Tjahjo Kumolo yang beri kejutan dengan mengizinkan stasiun TV menayangkan kembali film “Pengkhianatan G30S/PKI”.

Baiklah, karena yang membicarakan film ini sudah banyak, saya coba melihatnya dari sisi yang lain deh.

Yang menarik sebenarnya malah usulan bosnya Om Tjahjo, Pakdhe Presiden Jokowi, yang minta supaya film “Pengkhianatan G30S/PKI” dibuatkan versi barunya. Untuk menyesuaikan dengan karakter generasi milenial, kata beliau. Istilah yang lebih pas mungkin untuk karakter kids jaman now’.

Ide Pak Jokowi itu, saya pikir, terpelatuck oleh komentar-komentar netizen yang menanggapi rencana Om Tjahjo untuk menayangkan kembali film tadi. Di media sosial, banyak orang memberi masukan untuk judul baru film tersebut.

Ada yang memberi masukan “G30S/PKI Jadi Dua” yang mengingatkan orang pada film “Nagabonar”. Ada pula yang mengusulkan “G30S/PKI Return” biar kesannya sangar kayak “Batman”, sampai “G30S/PKI Reborn” yang meniru film Warkop DKI.

Jangkrik, Bos!

Bahkan ada netizen yang sudah mengusulkan nama Reza Rahadian untuk jadi salah satu aktor yang bermain di versi baru film itu. Cuma memang belum disebut Mas Reza akan jadi apa.

Tapi kalau mengingat pengalaman beliau yang pernah memerankan mantan presiden, saya rasa peran yang cocok buat beliau, kalau gak jadi Pak Karno, ya Pak Harto. Atau dua-duanya diperankan Reza Rahadian aja sekalian, mengingat tokoh-tokoh nasional, rasa-rasanya, wajahnya memang kayak Reza Rahadian semua.

Tapi saya rasa ide Pak Jokowi itu bukan tanpa dasar dan nir-faedah. Seingat saya, film besutan Arifin C Noer itu memang sudah cukup lama tidak ditayangkan di televisi.

Dan, mengingat isu komunisme selalu marak setiap bulan September, bisa jadi film itu sebenarnya memang sudah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Kalian yang sudah mengusulkan judul-judul film yang ajaib-ajaib tadi, siap-siaplah dapat hadiah sepeda.

Bahkan kalau perlu, jangan cuma ditayangkan di TV-TV nasional saja, Om Tjahjo. Kalau bisa, film G30S/PKI versi baru juga ditayangkan di bioskop-bioskop ternama. Kalau menyadari pangsa pasarnya, saya rasa mereka tidak punya alasan untuk keberatan untuk menayangkannya. Dari segi bisnis, saya yakin hitung-hitungannya masih mashoook.

Kalau film ini benar jadi ditayangkan di bioskop, saya yakin orang yang akan berada di barisan paling depan untuk mengantre tiketnya adalah Kanda Mustofa Nahra.

Bayangkan saja, sementara sebagian besar anak muda kita menghabiskan kuota internetnya untuk mengunduh film-film dari negerinya Kakek Sugiono, beliau dengan sukarela mengunduh film yang durasinya tidak pendek itu dari Youtube. Sungguh penggemar film nasional garis keras.

Apalagi setelah Fadli Zon, wakil ketua DPR kita yang terhormat, sudah secara terang-terangan di akun media sosialnya menyatakan keinginannya untuk ikut menonton film itu. Tentu saja beliau tidak akan ngantre di Studio XXI apalagi Studio 21, minimal di The Premiere-lah, yang ada selimutnya dan kursinya bisa dipakai selonjoran.

Dua nama di atas kan jaminan mutu. Jangan lupa, kombinasi keduanya di pilkada DKI menembus angka 58%, sementara di tingkat nasional 47%, kalau tidak salah ingat.

Baiklah, ini memang norak banget, apa-apa dihubung-hubungkan dengan pilkada dan pilpres. Tapi coba lihat fakta lain yang masih gress, berbekal kabar hoax, dalam semalam kantor YLBHI/LBH Jakarta bisa dikepung oleh sekitar 50-an orang.

Itu baru di Menteng saja. Bagaimana kalau film G30S/PKI versi baru itu juga diiklankan secara nasional? Menteng akan membara, dan saya rasa minimal satu minggu penuh posternya akan terus berkibar di langit Indonesia.

Belum kalau anak-anak sekolah juga diwajibkan nonton film itu kayak jaman dulu. Belum kalau tentara dan polisi dari seluruh kesatuan di Indonesia juga dikerahkan. Belum kalau PNS dan Satpol PP. Dan seterusnya.

Hal lain yang sebenarnya remeh adalah citra bioskop yang selama ini dipandang orang-orang tua secara negatif. Masih banyak lho, orang tua yang tidak mengizinkan anak-anaknya untuk pacaran kalau acaranya nonton di bioskop. Apalagi alasannya kalau bukan karena gelap?

Dan, semua orang tahu gerakan legendaris cowok yang pura-pura bosan, mengangkat tangannya, lalu alih-alih balik ke tempatnya semula, malah nangkring melingkari bahu pacarnya. Belum lagi kalau ada aksi susulannya yang terselubung.

Tapi itu akan lenyap seketika kalau film G30S/PKI diputar di bioskop. Apalagi kalau nontonnya bareng tentara-tentara yang diperintah langsung oleh panglimanya. Saya yakin cowok-cowok akan menonton film itu dengan posisi duduk sempurna sambil menggerutu dalam hati, “Ini pacaran apa upacara?”

Mau ngeles – keluar di tengah film sambil marah-marah ‘siapa sih yang ngasih ide malam mingguan nobar film G30S?’ – akan langsung mengkeret begitu di belakang ada suara menggelegar dan menghardik: “IYA, ITU MEMANG PERINTAH SAYA. MAU APA?”

Seribu persen saya yakin cowok itu akan kembali duduk di tempatnya sambil berbisik ke pacarnya, “Dek, kenapa gak bilang kalau Pak Gatot itu bapakmu…”

  • Habib Lembut 💖

    “IYA, ITU MEMANG PERINTAH SAYA. MAU APA?”

    wkwkwkwkwkk