Film Bohemian Rhapsody Mengganjal di Hati, Sebuah Kritik

Film Bohemian Rhapsody Mengganjal di Hati, Sebuah Kritik

Ilustrasi (Courtesy of 20th Century Fox)

Sepekan film biopik musik Bohemian Rhapsody diluncurkan, saya nyaris tidak kebagian tiket bioskop. Alih-alih duduk kursi yang paling nyaman untuk mata, malah dapat kursi yang nyaris paling depan dan paling pinggir. Sungguh tidak beruntung.

Tapi apa boleh buat, ruangan yang memutar film Bohemian Rhapsody pada malam itu, penuh. Ruangan yang cukup luas seolah-olah sempit. Setelah selesai dan lampu menyala, saya pun kaget. Ternyata, rentang usia penonton film ini tidaklah sesempit yang dibayangkan.

Di antara para penonton, tampak beberapa remaja belasan tahun, orang-orang berusia tanggung, hingga orang-orang tua seumuran anggota Queen yang tersisa.

Entah bagaimana remaja belasan tahun itu mengenal Queen. Mungkin dari ayah ibunya atau gara-gara masuk Pramuka. Kan, sering banget tuh nyanyi lagu “We Will Rock You” pas sesi api unggun acara Persami. Kalau dari internet? Ah, itu tidak usah diragukan lagi.

Sedangkan bagi yang seumuran saya, bisa jadi mengawali perkenalan dengan Queen lewat “We Are The Champions” yang menjadi lagu latar kemenangan Kevin Schwantz pada kejuaraan MotoGP 1993.

Dua tahun setelah Freddie Mercury meninggal, lagu “We Are The Champions” yang menampakkan Schwantz berkeliling arena balap di atas motor 500 CC sambil memanggul bendera Amerika Serikat itu diputar berkali-kali setiap jeda siaran televisi.

Atau, bisa jadi lewat adegan headbanging Mike Myers sebagai Wayne Campbell dalam film Wayne’s World tahun 1992, yang bersama empat kawannya di dalam mobil memutar lagu “Bohemian Rhapsody”. Potongan adegan itu sering banget dicuplik buat modal guyonan video jockey MTV.

Cukup kocak jika mengingat itu. Sebab, dalam film Bohemian Rhapsody, Mike Myers tampil memerankan eksekutif label rekaman EMI, Ray Foster, yang meragukan lagu “Bohemian Rhapsody” bakal membuat anak-anak muda menggoyangkan kepala saat memutarnya di dalam mobil. Meskipun sebetulnya tidak ada tokoh asli bernama Ray Foster di EMI.

Lalu, tentang orang-orang tua, bahkan lanjut usia, yang menjadi penonton film tersebut. Barangkali, mereka lah yang pernah dihinggapi angan-angan menonton konser Queen pada masa muda. Barangkali pula, mereka lah yang pernah menempel poster Freddie Mercury kuat-kuat di tembok kamar dan bernyanyi di kamar mandi sambil meniru gaya Freddie.

Tak bisa dipungkiri, Bohemian Rhapsody adalah film yang menawarkan kenangan bagi orang yang pernah muda. Film yang menyuguhkan hentakan glam rock Inggris tahun 70-80an.

Film ini bahkan turut menyegarkan katalog musik di kepala remaja belasan tahun yang sedang dipenuhi electronic dance music (EDM) hingga musik pop Korea.

Bisa dibilang, film Bohemian Rhapsody berhasil membuat atmosfer konser rock terbaik sepanjang masa. Dan, dengan sistem suara yang mumpuni, film ini tak cukup sekali tonton.

Baca juga: ‘Review’ Tidak Biasa Film Black Panther

Pantas saja, film ini menjadi jawara box office selama hampir tiga pekan dengan meraup pendapatan sebesar US$ 141,7 juta atau setara Rp 2 triliun secara global, menurut laporan CNBC Indonesia.

Situs Rolling Stone pun melaporkan bahwa film Bohemian Rhapsody menduduki tempat kedua untuk film bergenre biopik musik dengan pendapatan kotor tertinggi. Di atasnya ada film Straight Outta Compton (2015), film yang mengisahkan kebangkitan dan kejatuhan grup hip hop N.W.A, yang meraup pendapatan kotor sebesar US$ 161 juta.

Sayangnya, dibalik kesuksesan besar itu, ada yang mengganjal dalam hati. Beberapa situasi dalam film Bohemian Rhapsody tak serupa dengan kenyataan. Banyak-sedikitnya bukan masalah. Tapi penting-tidaknya, itulah yang mengganjal.

Memang, ini memang bukan film dokumenter, sehingga sah-sah saja ketika yang ditampilkan tak sama persis dengan yang nyata. Tapi tetap saja, mengganjal.

‘Mengkambinghitamkan’ Paul Prenter adalah yang paling terasa. Dalam film Bohemian Rhapsody, Paul Prenter ditampilkan sebagai penjahat yang setengah mati jahatnya.

Film ini seolah-olah mencoba menggiring opini penonton bahwa Paul lah yang memicu dan menyeret Freddie ke dalam kelompok identitas gender tertentu penggemar pesta, hingga Freddie terkena HIV dan menderita AIDS yang mematikan itu.

Dalam buku biografi Freddie Mercury; Love of My Life yang ditulis DJ Onet, disebutkan bahwa Freddie sudah menampakkan ekspresinya sebagai gay jauh sebelum bertemu Paul, bahkan Mary Austin.

Tahun 1969, setahun sebelum bertemu Mary, Freddie berpacaran dengan Rosemary Pearson, kawan sekampus di Ealing School of Art di London. Rose Rose, sapaan Rosemary, memutuskan hubungan setelah menyadari bahwa Freddie seorang gay.

Freddie tidak melulu bergantung pada Paul. Dia berkeliaran di klub dekat rumahnya tanpa Paul. Freddie pun bertemu Jim Hutton di klub bernama Heaven di London. Jika dalam film, Jim ditampilkan sebagai pelayan pesta, nyatanya tidak begitu. Jim adalah penata rambut di Salon Savoy.

Penasaran siapa saja yang pernah menyasak rambut David Bowie hingga terlihat mengembang tapi tak mudah goyang itu? Salah satunya adalah Jim Hutton.

Dalam film Bohemian Rhapsody, kontrak solo Freddie dengan CBS Record muncul sebagai pemicu perpecahan anggota grup musik Queen. Queen nyaris tidak tampil di Live Aid 1985, konser amal yang diinisiasi duo musisi cum aktivis Bob Geldof dan Midge Ure.

Lagi-lagi, pada bagian itu, Paul seolah-olah menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kekacauan tersebut.

Kenyataannya, Queen sebetulnya telah bersepakat untuk rehat setelah peluncuran album Hot Space pada 1982. Ketika itu, mereka mengumumkan bahwa tidak akan ada tur konser apapun sepanjang 1983.

Baca juga: Bukan Cuma Cinta-cintaan, tapi Bicara #MeToo, Rasisme, dan Orientasi Seksual: ‘The Shape of Water’

Brian May, gitaris Queen dan Roger Taylor, penggebuk drum Queen, memang tidak puas dengan hasil akhir Hot Space, lantaran campur tangan Paul Prenter di dalamnya. Tapi tidak ada perpecahan seperti yang ditampilkan dalam film.

Pada masa rehat itu, Freddie memesan jadwal studio Musicland di Munich, Jerman, untuk mengerjakan proyek solonya. Grunge.com menukil penuturan Roger Taylor dari biografi Freddie Mercury, A Kind of Magic. Roger menyebutkan bahwa saat itu Freddie menelponnya, lalu ia terbang ke Munich untuk mengisi vokal latar pada proyek solo Freddie.

Freddie juga bukan satu-satunya anggota Queen yang bersolo karier. Pada saat itu, Brian May sudah mengerjakan proyek solo Star Fleet Project. Sedangkan Roger Taylor tengah mempersiapkan album solonya.

Bukan Paul pula yang menyebabkan Queen nyaris tidak tampil di Live Aid dengan menyembunyikan informasinya dari Freddie. Mikal Gilmore lewat artikelnya “Queen’s Tragic Rhapsody” (2014) menyebut Queen sendiri yang meragukan undangan Bob Geldof.

Live Aid 1985 adalah konser amal untuk bencana kelaparan di Ethiopia. Setahun sebelumnya, Bob Geldof dan Midge Ure menginisiasi kolaborasi rekaman lagu untuk kelaparan di Ethiopia bertajuk “Do They Know It’s Christmas?”

Tak ada satupun anggota Queen yang diundang untuk proyek itu, lantaran citra yang tersemat usai konser di Argentina, dimana saat itu berada di bawah pemerintahan diktator yang korup. Juga konser di Afrika Selatan dimana praktik politik apartheid saat itu berlaku.

Ketika undangan Bob Geldof datang untuk Queen tampil di Live Aid 1985, Queen khawatir kalau citra itu menjadi blunder. Sebab, mereka akan tampil di panggung yang sama dengan Paul McCartney, U2, Elton John, David Bowie, The Who, dan Sting bersama Phil Collins, yang tak memiliki jejak konser di tempat yang sarat dengan pelanggaran HAM.

Mereka juga ragu karena Live Aid menjadwalkan Queen tampil siang hari. Hal yang tidak pernah dilakukan Queen sebelumnya. Kualitas sistem suara Live Aid juga dikhawatirkan Queen tidak sesuai standar mereka (pada akhirnya Queen menurunkan sound engineer mereka sendiri ke panggung Live Aid).

Paul Prenter sendiri sebetulnya masih bekerja untuk Freddie saat Live Aid 1985. Bukan dipecat sesaat sebelum Live Aid. Time.com menukil buku Jim Hutton berjudul “Mercury and Me” yang menyebut Paul dipecat gara-gara menjual cerita ke tabloid The Sun dengan judul “AIDS Kills Freddie’s Two Lovers” tahun 1987.

Artikel populer: Bagaimana Seharusnya Melihat Konflik Jerinx SID dan Via Vallen

Film Bohemian Rhapsody berupaya menampilkan Freddie sebagai anak kecil yang polos, sehingga begitu mudah ‘diracuni’ Paul. Paul lah yang salah ‘karena dia jahat’ (kata-kata ini diucapkan tokoh Freddie dalam film). Seandainya tidak ada Paul, maka Freddie dan Queen akan baik-baik saja, mungkin sampai sekarang.

Sebuah upaya yang tidak main-main, mengingat film ini dikerjakan sejak 2010. Dalam kurun waktu delapan tahun itu, baik sutradara maupun pemeran utama, mengalami penggantian.

Sebelum Rami Malek, pada 2010, nama Sacha Baron Cohen diumumkan bakal memerankan Freddie Mercury dalam film Bohemian Rhapsody. Namun, pada 2013, Sacha meninggalkan proyek itu.

Lewat wawancaranya dengan The Guardian pada 2016, Sacha menyebut dirinya terlibat perdebatan dengan salah satu anggota Queen sebelum meninggalkan proyek.

Menurut Sacha, anggota Queen yang tersisa tidak ingin film itu menampilkan sisi liar Freddie. Ada cerita tentang orang-orang yang berkeliaran di pesta Freddie dengan piring kokain di kepala, yang tidak ingin dimunculkan dalam film. Dalam biografi Love of My Life, Freddie disebut memiliki ruang berdinding kaca yang ia pakai untuk mengamati tamu-tamu pestanya.

Brian May dan Roger Taylor, dua anggota Queen yang tersisa (John Deacon pensiun pada 1997), tampaknya benar-benar ingin menjaga warisan Freddie dan keagungan Queen.

Yah, meskipun harus dengan cara menampilkan tingkah buruk Paul melebihi porsinya, saat Paul tidak memiliki daya untuk bersuara. Paul Prenter meninggal karena AIDS pada Agustus 1991, sekitar tiga bulan sebelum Freddie Mercury meninggal.

Citra Freddie yang telah tersaring itu dikemas dalam alur yang begitu cepat, seolah-olah ingin menyuapi penonton dengan cerita tersebut.

Padahal, di tengah gampangnya mendapatkan film dokumenter, arsip wawancara dalam bentuk artikel maupun video, hingga biografi Freddie dan Queen, bukankah percuma menjaga warisan dengan cara seperti itu?

Bahkan sebetulnya, dalam wawancaranya dengan David Wigg, Freddie Mercury tak mau repot-repot seperti apa nanti ia akan dikenang. “Siapa yang peduli setelah aku mati?” begitu katanya.

Tanpa dijaga dengan cara seperti itu, pada suatu petang 1 Juli 2017, lebih dari 65 ribu Generasi X hingga Z ‘berpaduan suara’ dengan “Bohemian Rhapsody” pada konser Greenday di Hyde Park, London. Itu dilakukan dengan panggung di hadapan mereka yang masih kosong, hanya suara musik yang memandu mereka.

Tapi, cara menjaga warisan itu juga tidak bisa dibilang sia-sia amat. Pada 17 November 2018, lagu “Bohemian Rhapsody” kembali masuk Billboard 100. Ini adalah kali ketiga bagi komposisi musik yang sudah berusia 43 tahun itu.

Bagaimana tidak? Bisa jadi, baik remaja belasan tahun, orang-orang tanggung seperti saya, serta para orang tua dan lanjut usia yang mengubah daftar putar lagu mereka menjadi album-album Queen, setelah keluar dari bioskop. Bagaimanapun lagu “Bohemian Rhapsody” memang layak disebut mahakarya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.