Fenomena Salmafina, Selebgram dan Feminis yang Melepas Hijab

Fenomena Salmafina, Selebgram dan Feminis yang Melepas Hijab

Salmafina Sunan (Instagram)

Belakangan, warganet kembali berisik setelah seorang selebgram bernama Salmafina Sunan memutuskan untuk tidak lagi menggunakan hijab. Pemilik akun @salmafinasunan itu dikenal sejak ia menikah dan bercerai pada usia muda dengan seorang penghafal Alquran yang juga selebgram, Taqy Malik.

Seperti biasa, suara umat tentu saja terbelah, ada yang membela mati-matian dan ada yang menghujat habis-habisan. Keputusan Alma, panggilan akrab Salmafina, secara simultan beriringan dengan deklarasinya sebagai seorang feminist by choice.

Kemudian, bisa ditebak. Orang-orang yang menghujat Alma habis-habisan adalah mereka yang merasa ‘berhijrah’. Mengatasnamakan amar ma’ruf nahi mungkar, mereka mencoba untuk membangun pemikiran bahwa keputusan Alma menanggalkan hijab merupakan tindakan yang gegabah dan keliru. Dia dianggap sedang kehilangan hidayah.

Sebaliknya, yang membela Alma mati-matian adalah mereka yang sepakat bahwa setiap individu memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Mereka yang bisa dikatakan sebagai feminis ini menghargai keputusan Alma melepas hijab.

Baca juga: Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Bagi mereka, keputusan Alma yang dinilai gegabah justru terletak pada kemauannya untuk menikah muda pada masa lalu, tanpa mengenal sebaik-baiknya calon pasangan berikut konsekuensinya. Ini bisa menjadi pelajaran hidup untuk Alma sendiri maupun anak-anak muda lainnya.

Fenomena Alma ini kemudian kembali memperuncing perbedaan pemikiran antara pihak yang pro dan kontra feminisme.

Yang satu menganggap bahwa feminis adalah orang-orang yang terinfeksi budaya barat. Di sisi lain, ada feminis yang mengecam ‘anak baru hijrah’ alias ABH dengan penjelasan yang kurang membumi dan sulit dipahami.

Sementara, feminis yang lain enggan menanggapi. Sebab, saya pun mafhum, menghadapi umat yang baru cinta-cintanya dengan agama ditambah kurang baca dan analisa memang hanya buang-buang waktu saja.

Padahal, feminis itu kurang baik apa sih? Para istri yang jadi korban KDRT dan dibungkam dengan larangan mengumbar aib suami saja, dibela mati-matian. Ibu-ibu pejuang devisa negara yang jadi TKI, kemudian pulang tinggal nama itu, siapa coba yang ikut getol membela dan memperjuangkan haknya? Apakah kamu, wahai akhi wa ukhti?

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Advokasi mereka juga yang pada akhirnya membuat para muslimah berniqab bisa tetap eksis. Di tengah stereotip yang dibentuk oleh publik bahwa yang bercadar itu teroris, para feminis justru bilang, “Ya itu tubuh dia, kan? Kalau dia pakai niqab/cadar itu bukan atas paksaan/tekanan orang lain, ya jangan diganggu. Itu hak dia, itu pilihan dia.”

Dan, suka atau tidak, mereka juga yang bikin para lelaki akhirnya mulai sadar untuk berbagi peran domestik dan proses membesarkan anak. Tanpa partisipasi mereka, UU Ketenagakerjaan terkait cuti haid, hamil, dan melahirkan, bahkan larangan body shaming, sepertinya sulit untuk dieksekusi.

Lagipula, kalau tidak mengadaptasi nilai-nilai dari feminisme, kita pasti sulit menemukan muslimah yang bisa sekolah sampai doktoral.

Lantas, kamu dengan mudahnya memusuhi feminis dengan alasan-alasan yang kadang terkesan banal. Menganggap feminisme itu lebih banyak mudharatnya. Kenapa? Apa karena para feminis menolak poligami? Apa karena mereka mendukung hak-hak pribadi, termasuk urusan pacaran, menikah, berpakaian, dan lain-lain?

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Dan, kini terkait keputusan Alma yang tidak lagi menggunakan hijab. Para feminis dianggap sebagai kelompok liberal karena turut membenarkan keputusan selebgram tersebut.

Padahal, semua penilaian itu bisa jadi hanya yang tampak di permukaan. Membela Alma bukan sekadar membela haknya dalam berpakaian, melainkan lebih dari itu. Mereka mengapresiasi sikap Alma yang berani untuk meninggalkan sesuatu yang justru menjadi beban selama ini.

Sama halnya ketika kita ikut berbahagia setelah tahu bahwa teman kita akhirnya berani mengakhiri hubungan yang toxic dengan seseorang. Kamu pasti turut lega, bukan? Tapi, bukan berarti saya menyejajarkan hijab seperti seseorang yang toxic dalam hubungan. Tidak sesederhana itu, Markonah…

Jika bagi sebagian perempuan memakai hijab bisa memberi ketenangan dan kenyamanan atas dasar rasa patuh pada aturan agama, maka itu bagus. Saya pun ada di pihak ini.

Artikel populer: Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Tapi, apakah ketenangan dan kenyamanan itu bisa dipukul rata ke semua perempuan? Nah, itu belum tentu. Mendapat ketenangan dalam berhijrah tidak seperti masak mie instan. Semua proses yang baik tentu butuh waktu.

Tidak sedikit perempuan yang pakai hijab bukan karena kemauannya sendiri atas dasar patuh pada aturan agama. Yang ada, mereka berhijab karena takut dengan aturan sekolah, takut dengan ayahnya, takut dengan suaminya, takut ketinggalan tren fashion terkini, hingga takut diasingkan di lingkungan sosialnya.

Kemudian, karena merasa tertekan, perempuan justru tidak mendapat ketenangan barang sebiji sawi pun dalam berhijab.

Ingat kembali ya, tidak ada paksaan dalam agama. Pun, Allah dan rasul-Nya menurunkan Alquran dan As-sunnah untuk kita pahami secara kontekstual dan holistik, tidak secara literal dan sepetik-sepetik.

7 COMMENTS

  1. Wkwkwkwk punten mbaknya saya mau ngakak bacanya. Ini mbaknya nulis pake emosi banget yaa? Saran saya nanti kedepannya kalau nulis coba memposisikan diri menjadi pihak ketiga atau pihak netral ya mbaknya, jangan seolah menyudutkan salah satu golongan. Biarkan saja pembaca membuat simpulan sendiri. Toh saya yakin nitizen Indonesia bisa pintar menilai. Goodluck!^^

  2. bilang memahami kitab suci jgn literal, kamu sendiri yang melakukan itu dibagian bawah.Makanya jangan pakai asumsi dalam buat artikel..pakai data.kebanyakn asumsi artikel anda..

  3. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
    Boleh Aja tetapkan kehidupanmu sesuai keinginanmu, asal jangan sesat 😀😀😀

  4. Tidak ada pemaksaan dalam beragama? Allah memang membebaskan hambaNya untuk memilih mba, tapi semua konsekuensi dibalas sebagian kecil didunia dan sebagian besar diakhirat. Mba author bela siapapun itu juga gak ada pemaksaan kan? Tapi lebih baik lagi bahwa melihat komen org lain bukan dalam pandangan negatif. Mereka bisa saja hanya menyayangkan, mengingatkan, dan mendoakan. Seperti yg mba maksud dalam tulisan ini.

    Barokallah ya mba, semoga Allah tidak pernah meninggalkan mba dan keluarga mba.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.