Fenomena Kaum Rebahan, Bagaimana Kita Melihatnya?

Fenomena Kaum Rebahan, Bagaimana Kita Melihatnya?

Ilustrasi (Image by Khusen Rustamov from Pixabay)

“CPNS baru dibuka tuh, daftar gih”.

“BUMN lagi banyak open recruitment, lho.”

Ucapan-ucapan seperti itu sering kali kita dengar, terutama ditujukan bagi anak-anak muda yang baru lulus kuliah. Udah mainstream banget lah ya. Sebuah pekerjaan yang kebaca ritmenya, berangkat pagi pulang sore. Begitu terus sampai tua.

Memang sih, jenjang kariernya jelas. Relatif aman dari PHK pula, tak seperti nasib buruh di negeri ini. Belum lagi, tunjangan-tunjangannya yang bisa bikin rekening jadi gendut, ehm.

Tapiii… bagi sebagian generasi milenial (Gen Y) dan Gen Z, profesi yang begitu eksis di kalangan orang-orang tua itu mulai terasa usang, terutama bagi mereka yang cenderung menyukai passion. Terus, gimana dong caranya generasi pencinta es kopi susu dan kue balok ini bisa produktif di tengah aktivitas rebahannya? (((rebahan)))

Begini, istilah produktif sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang menghasilkan output. Namun, output ini tidak melulu bicara sesuatu yang nyata. Contohnya, baca buku. Aktivitas yang keliatannya kayak orang lagi ngambek ini sejatinya tidak menghasilkan output nyata dalam bentuk fisik seperti kita nyuci baju atau ngepel lantai. Tapi, dari baca buku, kita bisa menghasilkan pengetahuan baru.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Aktivitas tersebut juga kemungkinan besar bisa meningkatkan kualitas pola pikir kita dalam memandang suatu permasalahan. Apakah itu sesuatu yang kontra-produktif? Tidak, kan? Dan, yang paling penting, aktivitas ini bisa dilakukan sambil rebahan. Hehehe.

Tapi harus diakui, rebahan anak-anak kekinian itu santuy banget. Semisal, sambil main gim di handphone, julid di Twitter, ngintip instastory mantan, balas chat gebetan, hingga nonton video di YouTube. YouTube lebih dari TV. Boom!

Meskipun kegiatan itu lama-lama bisa membosankan dan muncul perasaan gabut, tetap saja masih digandrungi karena kegiatan di sekolah/kampus atau kantor menjadi alasan yang cukup untuk merebahkan diri.

Kamu yang termasuk hobi rebahan dan pernah dimarahin gara-gara ketahuan sama orangtua lagi rebahan di kamar sambil megang handphone pasti sebal karena dibilang kerjaannya cuma tidur-tiduran nggak menghasilkan apa-apa. Iya kan?

Nah, kalau memang cuma scroll timeline, namatin story dan explore Instagram, ya berarti orangtuamu ada benarnya. Tapi kalau dari aktivitas di media sosial juga bagian dari produktivitasmu sebagai anggota sponsorship dari acara sekolah/kampus atau sebagai freelancer yang menghasilkan duit, atau sebagai aktivis yang mengorganisir dan mengkritik kebijakan keblinger, ya sah-sah saja.

Baca juga: Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Ini menunjukkan bahwa dalam satu aktivitas yang sama bisa punya arti yang berbeda. Bias bukan? Nah, contoh-contoh kayak begini yang sering tidak terlihat oleh generasi-generasi sebelum kita. Ujung-ujungnya paling disuruh nyapu kalau nggak bantuin masak.

Generasi-generasi sebelum kita atau yang dapat disebut sebagai Gen X (kelahiran 1961-1980) itu sejatinya bukan orang-orang yang hanya dapat dilihat sebagai generasi yang pemikirannya kolot. Nggak gitu juga melihatnya.

Generasi ini telah mengalami peristiwa-peristiwa politik yang luar biasa pada pemerintahan Orde Baru, mengalami krisis tahun 1980-an akibat harga minyak yang anjlok di seluruh dunia, serta krisis ekonomi pada tahun 1998. Artinya, mereka telah dididik oleh kondisi yang serba sulit sejak masih remaja. Peristiwa-peristiwa itu juga mendidik mereka untuk tidak memiliki ruang untuk men-santuy-kan segala hal, termasuk rebahan.

Kondisi yang dialami oleh Gen X tersebut menuntut mereka untuk dapat melakukan tindakan produktif yang juga menghasilkan output konkret. Sedangkan aktivitas yang Gen Y dan Z dapatkan dari rebahan adalah tentang produktivitas yang tidak selalu menghasilkan output konkret.

Degradasi makna terkait produktivitas inilah yang kemudian menjadi pertentangan antara Gen X dengan Gen Y (milenial) dan Gen Z.

Baca juga: Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Kembali pada aktivitas rebahan. Yang perlu dicermati sekarang adalah bagaimana aktivitas rebahan itu tidak semata-mata dijadikan legitimasi kemalasan. Apalagi, sampai menghabiskan waktu berjam-jam di atas kasur. Bukan pada makna esensialnya yang merupakan waktu istirahat dari aktivitas yang padat.

Bahkan, ada indikasi rebahan ini dijadikan sebagai identitas yang hanya bertujuan mengikuti tren. Seperti tulisan dalam kertas karton yang ditunjukkan oleh demonstran, belum lama ini: “Sudah kelewatan kalau kaum rebahan turun ke jalan!” Sebetulnya tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut, tapi kok terasa seperti mengkultuskan, ya?

Saya jadi ingat sekitar satu dekade lalu saat televisi sedang jaya-jayanya. Ada sinetron bergenre komedi, dimana salah satu scene-nya si aktor berkata, “Bentar ah, gue mau rebahan dulu… dua jam.” Saya pun tertawa karena waktu itu rebahan hanya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, rata-rata tidak lebih dari satu jam.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Namun, satu dekade kemudian, aktivitas rebahan berubah sedemikian rupa. Mulai dari durasinya hingga menyentuh ranah identitas dengan berbagai julukan, salah satunya kaum rebahan. Kalau begini, bisa jadi 10 tahun lagi durasi rebahan bisa sampai 2 hari deh.

Aktivitas rebahan ini seharusnya menjadi cara baru untuk tetap produktif, meskipun terlihat tidak produktif. Sebab, generasi sekarang memiliki akses terhadap internet yang mendorong mereka untuk mendapatkan bahkan menghasilkan sesuatu dari dalamnya. Tetapi, dengan table manneryang salah, aktivitas ini terkadang hanya dijadikan sebagai tameng kemalasan.

Makanya, rebahan jangan rebahan kalau tiada artinya…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.